TENTANG SI CHIMER

Wednesday, September 13, 2017

7 ALL SHE KNOWS


Rasanya sangat aneh. Arka mengantarnya sampai di depan pintu apartemen. Sedikit berbasa basi. Ia banyak tersenyum. Eliana tidak menyangka Arka bisa menyenangkan itu. Ia berpamitan lalu pergi. Eliana melihat kepergian Arka sampai dengan ia masuk ke dalam lift, kemudian ia masuk ke dalam apartemen.
            Semua serasa tidak sama lagi. Ia tidak lagi merasa terlalu tertekan. Walau ia tahu ia melanggar aturan dietnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, nama Fira tertera di layar, Eliana langsung mengangkatnya.
            “Ya, halo?”
            “Kamu baru aja masuk akun gosip di instragam.”
            “Gosip soal apa lagi sih?”
            “Bentar. Aku kirim capture-annya ya.”
            Telepon terputus. Eliana mengerutkan kening. Tak lama sebuah pesan gambar masuk, ia membukanya, dan menemukan foto dirinya dengan pakaian sama seperti yang ia kenakan saat ini. Ia tengah menaiki eskalator bersama seorang pria yang tak lain adalah Arka. Foto itu diambil dari kejauhan secara diam-diam. Wajahnya dan juga wajah Arka tampak blur. Sebenarnya tidak akan ada yang bisa mengenali keduanya berdasarkan foto curian tersebut. Ya, curian, sebab Eliana tidak mengizinkan adanya foto tersebut. 
            Teleponnya berdering lagi dan kali ini dari managernya, Sofi. “Sial.” Gumamnya panik. Ia mengangkat teleponnya setelah satu helaan napas panjang. “Ya, halo, Sofi.”
            “Sudah liat berita di akun gosip sore ini?” suaranya terdengar tajam.
            “Ya dan aku heran kenapa ada gosip kayak gitu. Aku seharian kardio di apartemen.” Ujarnya sambil berjalan menuju jendela besar di ujung ruangan. Ia menunduk melihat ke arah parkiran. Ia masih bisa melihat Arka berjalan menuju mobilnya.
             “Kamu yakin yang di foto itu bukan kamu?” Sofi masih meragukan jawaban Eliana.
             “Aku bilang aku seharian di apartemen. Selesai.” Eliana pura-pura tersinggung.
            “Good. Aku akan konfirmasikan ke managemen kalau orang yang di foto itu bukan kamu.”
            “Thank you.”
            Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon dan Sofi langsung mematikan sambungan telepon. Sofi yang sangat dingin dan efisien. Ia bahkan tidak menyempatkan diri membalas ucapan terima kasih Eliana. Eliana kesal sekaligus merasa bersalah. Bagaimanapun ia telah berbohong.

*

            Esok harinya Eliana benar-benar menghabiskan waktunya seharian di apartemennya. Ia bahkan menolak ajakan hang out Fira dan menyuruh Fira datang ke apartemennya untuk menemaninya menonton maraton apapun yang diinginkannya.
            Fira datang ketika Eliana sedang berbaring di sofa ruang TV dan menonton netflix. Fira mengetahui kode apartemennya dan langsung masuk sembari berkacak pinggang. “Sumpah, ya, gabut banget kamu.”
            Eliana melirik dari sudut matanya kemudian kembali menatap layar televisi.
            “Ck, masa kaya gini kehidupan supermodel?! Nggak bisa dipercaya! Cuma tiduran males malesan gini sambil nonton netflix?”
            “Nggak juga tadi udah nyiksa diri kardio berjam jam.” Sahut Eliana datar.
            Fira menjatuhkan diri di sofa yang sama dengan tempat Eliana berbaring dan ikut menatap layar televisi. Selama beberapa lama mereka berdiam diri.
            “Ana.” Panggil Fira.
            “Ya?”
            “Cowok yang di foto itu siapa?”
            “Foto apa?”
            “Foto yang diambil orang diam diam terus diposting akun gosip itu.”
            “Itu bukan fotoku.”
            “Itu kamu.”
            “Bukan aku.”
            “Kamu pakai sepatu usang kesayanganmu sejak SMA di foto itu, Ana!”
            Eliana langsung mematikan suara televisinya dan menatap Fira. “Don’t tell anyone.”
            “Ana, di dunia ini kamu cuma bisa percaya sama aku. Kalau enggak foto muka kucel dan tampang gembelmu saat ini pasti sudah bocor di mana-mana!”
            “Heh!” pekik Eliana.
Fira terbahak. “Ya udah makanya siapa?”
Eliana menghela napas. “Itu Arka.”
Sontak Fira membelalak. “Lha kalian kencan ga bilang bilang aku gitu!?”
“Cuma ga sengaja ketemu aja, Fir, di toko buku. Terus ya udah makan bareng.”
“Masa?” Fira menyelidik.
Tiba-tiba Eliana merasa malu sendiri mengingat janji kencan mereka selanjutnya. Rasanya seperti kembali remaja. Ia malu mengakuinya. “Ya, dia ngajakin kapan-kapan nonton gitu lah... basa basi biasa...,”
“Heh! Katamu Arka bukan tipikal basa basi, kan?”
Eliana terdiam menyadari blunder dalam kata-katanya. “Nggak tahu lah, Fir!”
“Nggak tahu apa? Jelas-jelas itu ajakan kencan!”
Eliana membalikkan badan untuk telentang dan menatap langit-langit. “Dia nggak kaya Arka yang aku kenal di kantor. Dia beda. Aku nggak ngerti.”
Fira ikut-ikutan telentang di sebelah Eliana dan menatap langit-langit. “Ya, jalanin aja. Managemenmu masih ngelarang kamu pacaran?”
“Ya, kamu tahu lah...,” jawab Eliana malas. Tidak ada larangan tertulis mengenai boleh tidaknya ia pacaran. Hanya saja pacaran adalah hal yang menurunkan nilai jual dirinya. Hal-hal yang merugikan nilai jual, otomatis adalah perbuatan terlarang.
“Ya udah nanti kalau kena sanksi atau kamu dikeluarkan agensi, cari agensi yang lebih bagus aja.” Sahut Fira enteng.
“Fir?”
“Ya?
“Agensiku yang sekarang kan agensi nomor satu di Indonesia? ”
“Oiya! Hahaha...,”
Mereka terdiam sesaat dengan isi pikiran masing-masing.
“Kapan kalian kira-kira ketemu lagi?” tanya Fira lagi.
“Besok ada rapat sama perusahaannya Arka mengenai perpanjangan kontrakku yang mau selesai.”
“Coba deh besok kamu pastikan dulu perasaanmu sama Arka kaya apa. Baru kamu pikirin mengenai langkah ke depannya.”
“Iya, pusing deh mikirin beginian.”
“Acie, gaya pake pusing segala. Udah lama nggak pacaran sih.” Ledek Fira sambil tertawa-tawa.
Eliana ikut tertawa. “Kamu sendiri apa kabar sama Thomas?”
“Baik. Ikatan dinas larangan menikah dari perusahaannya sebentar lagi selesai. Habis itu persiapan nikah deh. Duh, jadi deg degan hahaha.”
Eliana ikut senang mendengarnya. Berbeda dengan dirinya, Fira selalu mampu mempertahankan hubungannya dengan Thomas. Mereka berpacaran sejak SMA dan sampai sekarang, sudah terhitung delapan tahun mereka berpacaran. Dalam hati Eliana iri pada Fira dan perjalanan cintanya. Thomas datang begitu saja dalam hidup Fira seperti tanpa perjuangan. Eliana juga iri pada sifat ceria Fira, ia selalu jago dalam menyemangati dan optimis dalam menghadapi masalah. Sifat yang seperti itu pasti sangat berguna dalam mempertahankan sebuah hubungan. Berbeda dengan dirinya yang pesimis dan mudah  menyerah.
 

No comments:

Post a Comment

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower