TENTANG SI CHIMER

Wednesday, September 13, 2017

5. ALL SHE KNOWS

Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Arka sudah bangun dari pukul tujuh, mandi, makan beberapa lembar roti, dan kini memeriksa email melalui hpnya. Ada email dari Liz menanyakan kabarnya, Arka membalas email itu dengan wajah cerah. Liz berencana untuk liburan ke Jakarta minggu depan sekaligus berkenalan keluarganya. Arka mengiyakan, mengingat dia sendiri sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Nenek Liz di Monterrey. Ketika Arka membalas email tersebut, yang terlintas dalam pikirannya adalah jembatan Puente de la Unidad dan Sungai Santa Catarina yang membelah kota Monterrey menjadi dua bagian. Lalu ciuman hangat mereka di sana. Arka tersenyum mengingatnya.
Ketika menelusuri email-email sebelumnya, Arka barulah ingat perihal hari pertamanya masuk kerja Senin depan. Arka langsung melompat turun dari tempat tidurnya, mengambil jaket, dompet, dan kunci sepeda motor. Ketika ia melewati ruang keluarga, ibunya menanyakan ia mau ke mana. Arka menjawab ia akan keluar ke mall untuk beli beberapa setelan kantor. Ibunya menawarkan diri untuk menemani tapi Arka menolak. Sebelum ibunya memaksa, Arka bergegas kabur ke garasi, menaiki motor lamanya, dan langsung melaju ke rumah Bulan.
          Rumah Bulan hanya berjarak empat rumah dari rumah Arka. Ketika ia mengendarai sepeda motor tuanya, Arka merasa kembali ke zaman SMA. Ketika itu ia dan Bulan sering berangkat sekolah bersama, tidak selalu setiap hari, tapi sering. Sebab Arka menjemput pacarnya sendiri – ketika sedang punya pacar – dan Bulan juga dijemput pacarnya – kalau mereka tidak sedang berantem. Arka senyum-senyum sendiri mengingatnya. Tanpa terasa ia sudah sampai di depan pintu pagar rumah Bulan. 
Arka turun dari sepeda motornya dan terperangah melihat pekarangan rumah Bulan yang ditumbuhi rumput tinggi dan tidak terawat. Cat tembok rumah Bulan tampak usang dan terkelupas di sana sini. Arka mendorong pintu pagarnya pelan dan ternyata tidak terkunci. Arka jadi merasa uji nyali masuk rumah hantu ketika mulai menjejakkan kaki ke dalam pekarangan rumah Bulan.
Perlahan ia menaiki beranda rumah Bulan. Ia menekan tombol bel di sebelah kanan pintu. Suara bel menggema ke penjuru rumah. Sunyi untuk beberapa saat. Arka memencet bel lagi. Suara langkah kaki berat mendekat. Arka undur beberapa langkah. Ia sudah memasang senyum cerah untuk mengantisipasi kehadiran Om Ricko atau Tante Mel yang membukakan pintu. Tak lama suara kunci diputar dan pintu terbuka.
Senyum di wajah Arka perlahan-lahan mengering.
Dari celah pintu ia menemukan wajah lain. Wajah seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengannya. Tatapan matanya dingin dan menyelidik. Ia hanya mengenakan celana training dan bertelanjang dada. Arka tidak mengenali laki-laki itu.
Pintu dibuka makin lebar. Arka masih mematung di tempatnya. Demikian dengan laki-laki asing di hadapannya. Arka bisa melihat sorot tidak suka di mata laki-laki itu. Laki-laki itu menyungging senyum sinis dan berkata, “Jadi lo, Arka?” 
Arka menyeringai. Pikirannya masih kalut. Bulan anak tunggal dan Arka mengenal seluruh sepupu laki-laki Bulan. Laki-laki di hadapannya kemungkinan besar ada kekasih Bulan. Tapi apa yang dilakukannya pagi-pagi begini di rumah Bulan?
Ego Arka terusik, dengan nada tak kalah arogannya, ia berkata, “Om Ricko sama Tante Mel mana?” ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
Laki-laki itu menatap Arka dengan tidak suka. Namun ia sudah lama menguasai rumah ini dan juga penghuninya. Tingkah Arka terlihat seperti pecundang baginya. Ia tertawa sinis dan Arka balik menatapnya dengan nyalang.
Arka berjalan menuju ruang tengah keluarga. Jendela ruang tengah dan kordennya masih tertutup, sementara lampu ruang tengah tidak menyala. Dalam keremangan, Arka melihat onggokan selimut dan bantal di sofa ruang keluarga, lalu berbotol-botol minuman keras, dan juga aroma rokok yang pengab. Arka hampir tidak bisa mengenali rumah ini. Ia mulai ragu ia memasuki rumah yang salah.
Keraguannya tidak berlangsung lama ketika pintu kamar mandi terbuka di belakangnya. Arka menoleh dan menemukan Bulan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Rambutnya basah dan aroma segar menguar dari dalam kamar mandi. Arka terperangah melihatnya dan Bulan tak kalah terperangahnya.
"Arka...," gumam Bulan bingung. Ia antara ingin kembali masuk ke dalam kamar mandi atau menjelaskan apa yang tengah terjadi kepada Arka. Belum sempat Bulan menentukan pilihan, Fero sudah merangkul bahu Bulan, dan menciumi leher Bulan di hadapan Arka. 
Arka mematung di tempatnya.
Begitu pula dengan Bulan.
Sementara Fero menatap Arka dengan sorot menyebalkan. Arka ingin meninju hidung pria itu, Pria yang kemungkinan besar pacar Bulan saat ini. Arka tidak pernah sebegitu benci pada pacar Bulan sebelumnya seperti saat ini. 

*

Arka memilih untuk menunggu di beranda rumah. Ia merasa asing dengan rumah Bulan dan juga penghuninya yang baru. Entah ke mana perginya Om Ricko dan Tante Mel. Kalau mereka ada di rumah mana mungkin begundal macam Fero bisa berkeliaran seperti itu? Apakah mereka sedang di luar kota selama beberapa hari? Kalau, iya, mengapa Bulan membiarkan ada laki-laki menginap di rumahnya? Dan mengapa keduanya...
Ah, Arka merasa ingin meninju seseorang saat ini. Kakinya menendang kerikil di pelataran rumah hingga melenting jauh ke seberang pekarangan yang tak terurus. Ia ingat dulu Tante Mel suka menanam mawar berbagai warna. Sekarang tanaman itu tampak kering dan diselimuti belukar dan tanaman rambat.
Pintu rumah di belakangnya terbuka. Arka menoleh sedikit. Bulan berjalan pelan mendekatinya. Ia tampak ragu untuk menemui Arka. Kini mereka berdiri berhadapan dalam diam beberapa saat.
“Namanya Fero.” Bulan mengawali perkataannya. “Dia… pemain sinetron stipping di tempatku magang sebagai fashion stylist. Mungkin kamu nggak kenal karena lama nggak tinggal di Indonesia.” Bulan memaksakan diri untuk tertawa tapi gagal dan malah terdengar ganjil. “Orangnya baik kok, aslinya.” Bulan berkata dengan maksud menegaskan.
Arka berusaha untuk mengabaikan panas di dadanya. Membayangkan Fero menyentuh tubuh Bulan, membuat sekujur tubuhnya terbakar amarah. Arka mengenali perasaan itu sejak mereka SMA. Ia selalu cemburu jika Bulan terlalu sering jalan dengan pacarnya dan mengabaikannya. Ia juga marah jika pacar Bulan bertindak sewenang-wenang. Ia pernah menghajar pacar Bulan ketika memergokinya berselingkuh. Bagi Arka itu adalah hasrat ingin melindungi. Bulan sudah seperti saudaranya sendiri. Bukankah seorang kakak laki-laki memang sudah sewajarnya melindungi adik perempuannya? Demikian ia mengartikan perasaannya. Bulan pun memahami tindakan Arka.
“Om sama Tante mana?”
Bulan berdeham pelan membersihkan tenggorokannya. Ia tahu cepat atau lambat pertanyaan itu akan meluncur dari mulut Arka. Ia sudah cukup lama menutup-nutupinya. Dalam email yang sering ia kirim ke Arka, mereka hanya saling bertukar kabar dan bercanda. Bulan tidak pernah sekalipun menceritakan kehidupannya.
“Mereka sudah pisah, Ka… beberapa bulan setelah keberangkatanmu ke Harvard.” Bulan berusaha menjelaskan dengan tersenyum.
“Berpisah?” Arka mengerutkan kening.
“Bercerai.” Bulan menegaskan.
Arka membuka mulutnya hendak berbicara namun diredakannya dulu amarahnya. “Kamu seharusnya cerita semuanya sejak dulu, Bulan. Kamu membuatku tampak tolol!” gumamnya menahan marah. Namun kemarahan Arka hilang seketika begitu melihat mata Bulan yang berkaca-kaca.
“Aku melewati masa-masa yang sulit sejak kepergianmu. Banyak hal berubah setelah kedua orang tuaku bercerai. Aku tidak sama dengan Bulan yang dulu. Semua orang memperlakukanku berbeda. Tapi, Ka…,” Bulan tersedak oleh tangisnya yang tertahan, “aku masih ingin kamu menganggapku sama. Aku ingin kamu memperlakukanku seperti Bulan yang dulu. Itu sebabnya aku tidak menceritakannya ke kamu. I’m sorry.” Beberapa tetes air mata Bulan jatuh. Ia mengusapnya sambil lalu, kemudian memilih membalikkan badan, pergi menuju Fero yang berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
Bulan berhenti sejenak di depan Fero, menatapnya sebentar, lalu masuk ke dalam rumah. Arka mengikuti kepergian Bulan dalam diam, matanya kemudian bertumbukan dengan mata milik Fero. Fero menaikkan satu ujung bibirnya ke atas, mengulum senyum sinis. Fero masih bertelanjang dada dan ia menghisap rokoknya dengan santai sembari memperhatikan Arka yang mulai melangkah pergi dari pekarangan rumah Bulan. Fero mengartikan kepergian Arka sebagai pengakuan kekalahan dan Fero menyukai perasaan menjadi pemenang.


*

No comments:

Post a Comment

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower