TENTANG SI CHIMER

Wednesday, September 13, 2017

4. ALL SHE KNOWS

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Ketika pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara Soekarno Hatta, ia merasakan beragam perasaan bergejolak di dadanya. Sampai-sampai ia merasa ingin muntah. Ada rasa sedih berpisah dari kawan-kawannya semasa kuliah, Liz – kekasihnya, ada rasa rindu akan tanah airnya, dan ada pula rasa takut. Empat tahun lamanya ia sama sekali tidak pulang ke tanah airnya. Ia bersekolah di Harvard karena beasiswa dan tidak pernah punya cukup uang uang untuk membeli tiket pulang. Arka diam-diam kerja part time sebagai tukang cuci piring di kafe, tapi ia hanya punya uang sedikit untuk bersenang-senang. Sesekali ia bepergian dengan backpacker ke beberapa negara bagian dengan budget sangat terbatas. Namun itu saja cukup bagi Arka yang berasal dari keluarga sederhana. Ia sudah sangat bersyukur dengan hidupnya.
Arka menghirup napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Turbulensi pesawat terasa semakin kencang ketika roda pesawat mulai menyentuh daratan. Dalam kepalanya berkelebatan wajah-wajah orang yang dirindukannya. Pertama-tama muncul wajah ibunya, ayahnya, lalu teman-temannya, dan terakhir... wajah itu muncul... Bulan.
Turbulensi kini sudah berhenti benar. Terdengar pengumuman bahwa pesawat telah mendarat dengan selamat, penumpang bisa bersiap-siap turun. Arka melepaskan sabuk pengamannya dan tersenyum. Bagaimanapun wajah Bulan selalu menentramkannya. Di rumah ia memiliki ayah dan ibu. Di luar rumah ia memiliki Bulan – sahabat masa kecilnya. Hidupnya akan baik-baik saja meski sudah empat tahun berlalu.
Barangkali justru lebih baik.
Perusahaan yang memberinya beasiswa sudah menghubunginya via email. Mereka meminta Arka mulai masuk kerja minggu depan. Arka tidak memiliki setelah yang bagus, selain satu-satunya setelan wisuda yang dimilikinya. Ia akan meminta Bulan memilihkan setelan yang bagus setelah ini.
 Arka berjalan keluar pesawat bersama dengan penumpang lainnya Ia mengeluarkan hp dan mulai menyalakannya. Ada beberapa pesan masuk selama penerbangan. Pesan dari ayah, ibu, beberapa relasi, teman, dan juga Bulan. Dari sekian banyak pesan, pesan Bulan yang ia buka terlebih dahulu.

Sori, ya, Ka, aku nggak bisa jemput kamu di bandara. Ada urusan penting mendadak. Btw, aku mampir ke rumahmu ya setelah urusanku beres.

Arka mengerucutkan bibir dengan kesal. Ia segera membalas pesan Bulan.

Nggak kumaafin!

Arka memasukkan hpnya kembali ke saku jaket yang dikenakannya. Ia berdiri di depan bagggage claim area, menunggu kopernya datang. Di sekelilingnya terdengar orang-orang berbicara dalam bahasa Indonesia. Arka memejamkan mata sejenak lalu tersenyum. Ah, sudah lama sekali sejak terakhir ia mendengar seseorang berbicarra dalam bahasa ibunya.
Sekitar sepuluh menit Arka menikmati hiruk pikuk di bandara dalam diam. Kemudian kopernya melintas, Arka mengangkatnya turun, kemudian menyeretnya menuju pintu keluar. Jantungnya berdentum-dentum tidak karuan. Ada perasaan bahagia yang meluap-luap sesaat sebelum ia bertemu dengan orang-orang yang dicintainya.
Begitu ia keluar dari pintu batas penumpang dan penjemput, Arka langsung mendengar jeritan ibunya. Ia menoleh dan menemukan keluarganya berkumpul di satu titik. Arka berlari ke arah mereka dan mendapatkan pelukan dari mereka semua hampir secara bersamaan.
Rasya – adik laki-lakinya yang masih SMA – langsung mengambil alih kopernya agar ia bisa lebih leluasa melepas rindu dengan ayah dan ibunya. Empat tahun berlalu, Rasya masih SMP kelas tujuh ketika ia berangkat ke Amerika. Kini Rasya sudah remaja. Paman dan juga dua sepupunya yang kembar juga berada di sana. Mereka menagih oleh-oleh yang dijanjikannya. Lalu Arka melihat gadis itu berdiri di depannya sambil melipat tangan di dada.
“Kamu nggak benar-benar menganggap serius sms-ku kan?” kata gadis itu sambil menaikkan satu alis. Bulan mengenakan kaos hitam tanpa lengan dan jeans robek-robek sepaha. Kukunya dicat hitam dan ada gelang-gelang perak menghiasi pergelangan tangannya yang kecil. Bulan selalu suka warna hitam sejak dulu.
Arka sedikit terperangah melihat perubahan fisik sahabatnya. Bulan kini jauh lebih kurus dan semampai. Pipi bulatnya sudah hilang. Garis-garis wajahnya kian tegas, tulang-tulang bertonjolan di lengan dan tungkainya. Bulan tetap secantik yang diingatnya, tapi Bulan yang sekarang memiliki kecantikan yang berbeda.
Bulan berjalan mendekatinya dan tersenyum. “Kaget aku sekarang kurus? Kamu nggak akan bisa cubit pipi aku lagi sekarang.”
Arka tertawa dan langsung merangkul Bulan erat-erat. Bulan agak sedikit terkejut tapi kemudian ia ikut tertawa. Ketika Bulan membalas pelukan Arka, Bulan merasa berada di rumah. Ia merasa menemukan kembali jalan pulangnya setelah sekian lama tersesat.
Arka melepaskan pelukannya dan mencari-cari seseorang. “Om Ricko sama Tante Mel mana?”
Seketika Bulan tergagap ketika Arka menanyakan perihal kedua orang tuanya.
Ayah Arka segera mengalihkan pembicaraan dan berkata. “Ayo, cepat pulang, orang-orang sudah lama menunggu. Kami mengadakan acara untuk merayakan kepulanganmu.” 
Ibu langsung merangkul Arka dan membawanya berlalu dari Bulan.
Sementara Bulan masih berdiri di tempatnya, melihat kepergian Arka dan keluarganya. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal terjadi setelah kepergian Arka. Bulan yang Arka kenal adalah seorang gadis manis dari keluarga yang bahagia. Bulan yang sekarang berbeda dengan Bulan yang dulu. Bahkan kedua orang tua Arka pun kini memperlakukannya dengan cara yang berbeda.
Semua sudah tidak sama lagi.

*

Bulan tahu dirinya tidak diharapkan di acara ini. Ia tahu kedua orang tua Arka tidak lagi menyukainya. Walaupun dulu, seingatnya, kedua orang tua Arka selalu baik kepadanya. Ayah Arka selalu mampir ke rumahnya dan mengajaknya berangkat ke sekolah bersama-sama dengan Arka. Sebab mereka dulunya satu sekolah dan kantor Ayah Arka searah dengan sekolahan mereka. Ibu Arka selalu menganggapnya seperti putri mereka sendiri sebab mereka tidak memiliki anak perempuan. Setiap bepergian mereka selalu membelikannya oleh-oleh. Seakan-akan ia sungguh bagian dari keluarga.
Hanya saja semua sudah berubah. Hari sudah gelap, acara makan malam selesai, berganti dengan acara ngobrol bersama sambil menikmati kudapan dan menyetel film keluarga. Kebanyakan dari mereka menanyakan pengalaman Arka selama berkuliah di Harvard, bagaimana indahnya kota, betapa cantik para gadis, dan betapa ia harus berjuang agar bisa lulus cepat waktu. Bulan duduk tak jauh dari sana dan mendengarkan tanpa sekalipun bersuara.
“Kamu dapat pacar di sana?”
Arka terdiam sejenak lalu tersenyum. “Namanya Liz, dia keturunan Meksiko- Amerika. Kulitnya kecokelatan, matanya bening, dan senyumnya sangat manis.”
“Aaaa... lihat fotonya! Lihat!” semua berseru dengan antusias.
Arka menunjukkan foto-foto kebersamaan mereka melalui layar hp. Bulan mengambil botol softdrink dan kembali menuangkan isinya ke dalam gelas kartonnya. Tiba-tiba mata Arka mengarah ke Bulan. Bulan mengangkat dagunya menanyakan maksud tatapannya.
“Gimana sama kamu, Ndut? Sudah punya pacar?”
Ndut adalah panggilan Arka pada Bulan. Dulu ia berpipi bulat dan bertubuh pendek. Baru beberapa tahun terakhir ini tubuhnya mengalami pubertas yang menakjubkan. Tulang-tulangnya memanjang dan ia menjadi kurus. Seberapa banyak makanan yang masuk rasanya seperti sia-sia.
Semua mata sontak menatap ke arahnya. Semua orang dalam ruangan itu tahu jawabannya. Mereka hanya merasa enggan tahu. Bulan meminum coke-nya, menjilat bibirnya sebentar, lalu menjawab dengan pelan. “Jelas punya. Aku kan cantik.”
Suasana masih hening. Arka memperhatikan ada yang aneh setiap kali pembicaraan mengarah ke Bulan. Dulu mereka tidak seperti ini. Bulan adalah sahabat terdekatnya. Kenapa semua orang menjadi orang asing pada Bulan?
Tiba-tiba hp Bulan berbunyi. Bulan mengangkat teleponnya dan mendengar sumpah serapah keluar dari seberang telepon. Orang di seberang telepon marah besar karena ia susah dihubungi sejak tadi pagi. Bulan menjelaskan dengan sabar bahwa ada sahabatnya baru pulang dari luar negeri. Tapi di seberang sana suara cacian terdengar makin keras hingga semua orang di ruangan dapat mendengarnya.
Bulan memutus sambungan teleponnya dan menatap ke semua orang dengan canggung. “Sorry, I gotta go. Bye.” Ia bergegas pergi tanpa permisi lagi.
Arka ingin mengejar Bulan tapi Rasya menahan lengannya.
“Jangan dikejar, Kak.”
“Kenapa?” tanya Arka tidak mengerti.
“Yang barusan menelepon Kak Bulan itu pacarnya.”
Mata Arka seketika membola. “Pacar? Bulan pacaran sama laki-laki sekasar itu? Gimana kalau Bulan kenapa-napa?” Arka langsung bangkit dan hendak mengejar Bulan.
Ayahnya dengan sigap menahannya. “Arka!”
Arka masih berusaha meloloskan diri dari ayahnya.
“Arka!” Potong ayahnya tegas. “Masih banyak tamu! Nggak usah ngejar Bulan.”
“Tapi, Yah!”
“Arka.” Ibunya menyela dengan lembut. “Benar kata Ayahmu.”
Arka tidak mengerti kenapa kedua orang tuanya kini seakan tidak menyukai Bulan.
Ibunya mengusap wajah Arka lembut dan berkata dengan penuh kesabaran. “Arka sayang... banyak hal yang terjadi setelah kamu pergi. Bulan yang dulu kamu kenal... berbeda dengan Bulan yang sekarang. Nanti kamu akan mengerti.”
Ibu menuntun Arka kembali ke ruang tengah, di mana orang-orang masih berkumpul. Suara film yang diputar satu-satunya menjadi suara yang terdengar. Semua tampak ganjil setelah kepergian Bulan. Ayah dan ibunya kembali berusaha mengembalikan suasana hangat yang sebelumnya tercipta. Tapi sia-sia. Sepeninggal Bulan, suasana menjadi suram.



*

No comments:

Post a Comment

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower