TENTANG SI CHIMER

Wednesday, September 13, 2017

3. ALL SHE KNOWS

Dua hari yang lalu mereka menunjukkan foto mana yang mereka pilih untuk kebutuhan campaign. Malam hari ini Eliana sudah bisa melihat campaign tersebut sedang dalam proses pemasangan di beberapa titik strategis di kota ini. Barangkali esok hari ia sudah bisa melihat foto dirinya terpampang di sejumlah baliho di sepanjang jalan.
Eliana mengalihkan pandangannya dari kaca mobil kembali ke tablet di tangannya. Ia membaca sekilas jadwal kegiatannya esok hari. Jadwal gym, konsultasi gizi, dokter gigi, talkshow, meeting untuk membicarakan proyek cover story sebuah majalah gaya hidup terkenal. Jadwal yang mengerikan. Eliana paling tidak suka sesi wawancara dalam bentuk apapun itu. Ia tidak suka membuka dirinya pada orang-orang asing. Inilah sisi yang paling dibencinya dari pekerjaan ini. Ketika seseorang menjadi terkenal, hidupnya menjadi milik semua orang. Once you get famous, being famous became your profession.
“Jeremy will come.” Tiba-tiba perempuan yang duduk di sebelah supir memberitahunya. Ia menoleh ke belakang menatapnya dengan tangan kanan masih memegang ponsel. Perempuan itu adalah manager-nya, Sofi. Sofi adalah perempuan yang tidak suka berbasa basi. Ia benar-benar fokus dengan pekerjaan dan target dari managemenPekerjaannya selalu bagus, tapi dia bukan tipikal seseorang yang bisa dijadikan sahabat. Jika disuruh memilih antara dirinya dan managemenSofi akan lebih memilih kepentingan managemen. Maka Eliana berhati-hati dengannya.
“Thanks.” Sahut Eliana singkat.
Malam ini dirinya dan orang-orang dari proyek pelangsing tubuh HealtySlimBeauty akan merayakan selesainya proyek pemotretan mereka. Perayaan yang terlalu awal sebelum mengetahui hasil penjualan tapi mereka optimis hasil penjualan akan melonjak drastis jika diperkirakan dari respon pasar. Mereka bilang Eliana tidak pernah gagal menjual produk. Produk apapun yang dikenakan Eliana akan selalu diburu di pasaran.
Ketika sampai di lobby hotel, Eliana turun seorang diri. Sopirnya akan mengantar Sofi ke meeting untuk keperluan pemotretan esok hari. Jika meeting selesai, Sofi akan menyusul. Jika seandainya Eliana ingin dijemput, dia bisa langsung menghubungi sopir.
“Nggak usah, aku bisa naik taksi pulangnya nanti.” Eliana berbaik hati. Ia tidak mau Sofi naik taksi malam-malam.
“Jangan!” Sofi lekas memotong. “Kamu nggak boleh naik taksi! Just-don’t!” 
“Oh, aku bisa minta Jimmy antarkan aku pulang.”  Eliana meralat.
Sofi terdiam sejenak kemudian mengangguk setuju. “Itu lebih baik. Lagipula Jimmy juga cukup populer. Jika tertangkap kamera, itu baik buat karir kalian. Nggak ada ruginya.”
Eliana tersenyum tipis. Mobil itu melaju meninggalkan lobby. Dalam hati Eliana merasa geli dengan bayangan dirinya tertangkap kamera dan digosipkan menjalin hubungan dengan Jeremy. They just like bestfriend. Nothing more nor less.
Ketika Eliana melangkah masuk gedung, seorang security membukakan pintu dan tersenyum padanya. Eliana membalas senyumannya dan ia bisa melihat perubahan air wajah security itu setelahnya. Sebelumnya hanya senyum formalitas, kemudian senyum pria itu berubah menjadi senyuman lebar yang tulus dan bahagia. Eliana menyukai perasaan seperti itu. Seseorang yang membalas senyumannya dengan tulus membuat dirinya merasa lebih baik.
Eliana berjalan menuju lift dan menekan tombol anak panah ke atas. Ia memperhatikan penampilannya pada pantulan lift. Ia mengenakan dress pendek sepaha warna perak yang sedikit berkilauan di bagian ujungnya. Rambut sepunggungnya digerai bergelombang dengan sedikit aksen kepang pinggir.
Tiba-tiba seseorang berdiri di sebelahnya. Eliana bisa melihat dari pantulan di lift dan langsung menoleh ke arah pria di sebelahnya. Ini pertama kalinya Eliana melihat Arka dalam pakaian keseharian. Ia hanya mengenakan jeans dan kaos lengan pendek. Ia tampak tidak terlalu berminat pada acara ini jika dilihat dari penampilannya.
Arka tetap menatap ke depan dan tak sekalipun menoleh ke arahnya. “Alone?” pertanyaan itu jelas ditujukan untuknya sebab hanya ada dia seorang di lobby.
“Yes.” Eliana lekas meralat. “I mean no.”
Arka mengangguk seakan-akan mengerti. Atau sebenarnya ia hanya tidak peduli. Sebab ia tidak menanyakan apa-apa lagi. Ketika pintu lift terbuka, Arka melangkah masuk. Eliana mengikutinya. Kemudian sepuluh detika paling menyesakkan terjadi. Keduanya sama-sama diam dan tak seorang pun berniat memecah keheningan.
Ketika pintu lift terbuka, Eliana merasa lega seketika. Ia melangkah keluar lebih dahulu tanpa menunggu Arka. Seumur hidup Eliana belum pernah merasa begitu sesak jika bersama seseorang. Bahkan ketika ia bersanding dengan orang yang ia benci sekalipun, Eliana hanya akan pura-pura tidak melihat keberadaan orang tersebut. Tapi Arka berbeda. Eliana tidak membenci pria itu. Ia juga tidak bisa menganggap keberadaannya tidak ada. Eliana hanya merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Sejak awal sekalipun, sebelum insiden kamar mandi terjadi, Eliana sudah merasakan hal yang berbeda pada Arka.     

*

Harusnya Jeremy sudah sampai. Seharusnya dia mengabari itu janjinya. Eliana menatap layar hpnya dan tidak menemukan pesan baru di sana. Pesan terakhir adalah satu jam yang lalu, ketika Sofi memberitahunya Jeremy akan datang ke perayaan.
Eliana duduk di sofa. Orang-orang dari perusahaan SlimHealthyBeauty mulai larut dalam pesta dan merekam keseruan perayaan menggunakan hp. Suara piringan dj yang berdecit-decit, dentingan gelas beradu, seseorang membuka botol wine lagi, orang-orang berdansa. Sementara dirinya harus puas dengan segelas lemon juice. Sebagian club telah disewa, masih ada beberapa pendatang yang dibatasi jumlahnya.
Tiba-tiba seseorang menyadari kediamannya. Orang-orang yang Eliana kenali sebagai staf yang bekerja di hari pemoterannya, mereka duduk di dekatnya dan mengarahkan kamera ke arahnya.
“This is Eliana Latisha, a super model. She’s quite gorgeous, right?”
 “Yes, say hi, Ana!”
“Hallo.” Eliana melambai ke kamera.
“Kamu minum apaan? Ya ampun, cuma jus? Good girl banget!”
“Besok ada pemotretan, aku harus sober.” Dalihnya. Tidak ada pemotretan pun sebenarnya Eliana tidak begitu suka minum. Ia tidak suka perasaan di pagi hari ketika bangun dan efek alkhohol menguasainya. Kepalanya seakan terhimpit di mesin pressing. Ia membencinya.
“Ah, we know someone just like you, Ana.” Seorang gadis yang sudah agak sedikit mabuk berbisik sangat dekat ke telinganya. “That guy!” ia mengarahkan telunjuknya ke sudut di seberang ruangan. Eliana mengikuti arah telunjuk gadis itu dan menemukan Arka duduk bersandar di sofa dengan wajah bosan. Di depannya ada segelas minuman yang terlihat seperti jus.
“Hahaha, you, guys, have a lot of things in common!”
Yang lain menyetujui kemudian tertawa terkekeh kekeh. Sepertinya pembicaraan itu terdengar oleh Arka hingga ia melayangkan tatapan ke arah mereka. Suara mereka rupanya terlalu keras mengalahkan musik. Seketika mereka terdiam dan ber-sst panjang.
“He hears!”
“We’ll dead.”
“But we’re telling the truth!”
“Knock it off already!”
Mereka benar-benar sudah mabuk, batin Eliana sembari tertawa sopan. Di antara lampu warna warni yang berputar-putar, Eliana menemukan seseorang yang dicarinya dari tadi. Ia berpamitan pada rekan-rekannya dan berjalan menuju meja bar tempat pria itu duduk dengan gelas cocktail di hadapannya.
“Jimmy!” sapanya.
Laki-laki itu tidak mendengarnya dan malah menelan sesuatu dari tangannya. Melihatnya, Eliana berlari berusaha menghentikannya, tapi terlambat. Jimmy telah menelan butiran berwarna putih itu dan langsung menenggaknya dengan segelas cocktail.
“Jimmy!” Eliana mencengkeram lengan laki-laki tersebut.
Jeremy menoleh ke arahnya dan baru menyadari keberadaannya. “Oh, my lovely Eliana! My beautiful lil sunrise! I need you. You have no idea how hurts it is.” ia langsung memeluk Eliana erat dan mulai menangis seperti bayi.
Eliana ingin marah. Ia ingin mendamprat sahabatnya ini. Ia ingin bilang ia mengajaknya ke sini untuk sebuah misi. Eliana sedang membutuhkan bantuannya dan sebelumnya ia pikir rencanya itu juga bisa membantu Jeremy. Tapi ia salah. Jimmy muncul di perayaan dalam keadaan berantakan. Ia tetap tampan tapi ia tidak dalam kondisi terbaiknya. Sudah dipastikan rencanya akan gagal. Jeremy justru menjadi masalahnya saat ini. Ia tidak bisa meninggalkannya seperti ini.
“Jimmy, kamu bilang kamu sudah berhenti make! You promised, remember?
“I drifted.”
“No way...,” desis Eliana. “Ayo pergi dari sini.” Eliana langsung mencengkeram lengan Jeremy dan menyeretnya pergi. Jeremy jatuh terkulai dan menjatuhkan gelas-gelas. Suara pecahan gelas terdengar nyaring. Beberapa orang menoleh ke arahnya. Eliana langsung panik. Jeremy tersungkur di lantai, terlalu mabuk untuk berdiri.
“Use my card.” Seseorang menyerahkan selembar kartu kredit ke seorang bartender. Satu-satunya orang yang masih sober selain dirinya di acara ini. Eliana tidak menyangka Arka akan menceburkan diri dalam insiden ini.
Eliana ingin berterima kasih tapi tidak jadi sebab Arka menatapnya tajam-tajam dan berkata dengan nada marah, “Jangan buat masalah, Eliana. Kamu adalah brand ambassador kami.”

*
Dadanya masih bergemuruh sangat kencang. Bagaimana jika ada yang menyadari insiden ini? Kalau managemennya sampai tahu ia pasti akan dikenakan sanksi. Eliana menggigit bibirnya dengan panik. Jeremy masih teler dan bersandar di bahunya. Sementara Arka duduk di kursi kemudi. Ia tidak berkata apa-apa sedari tadi. Ia membantunya membopong Jeremy dan bahkan berinisiatif mengantarkannya pulang.
Eliana tidak suka dengan orang yang pendiam. Mereka seperti bom waktu. Ia jadi tidak tahu apa yang orang itu pikirkan. Arka bagi Eliana seperti itu. Eliana lebih suka orang yang banyak bicara sehingga ia bisa diam menikmati pembicaraan yang ada.
Begitu sampai ke apartemen tempat Jeremy tinggal, Arka tanpa berkata apa-apa langsung membantunya membopong Jeremy. Untunglah Jeremy tidak muntah-muntah. Ia hanya menceracau tentang mantan kekasihnya, Luke, dan betapa ia menjalani hari-hari penuh penderitaan.
Mereka bertiga naik ke lantai tujuh belas. Jeremy sempat terjatuh di tengah lorong. Eliana bisa mendengar Arka sedikit mengeluh ketika membopong,“Ya, Tuhan.” Arka berulang kali mengucapkan kata-kata itu.
Eliana menahan tawa mendengarnya. Ia tahu ia tidak pada tempatnya untuk menertawai Arka. Tapi ini pertama kalinya ia melihat Arka dengan peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Arka biasanya selalu terlihat dingin, rapi, dan terkendali. Malam ini ia memiliki emosi seperti layaknya manusia. Eliana menyukai Arka yang seperti itu.
Bukan jenis suka seperti itu, suka yang... yah..., Eliana meralat dalam hati.
Begitu sampai di depan pintu apartemen, Eliana langsung memasukkan kode password. Untunglah, Jeremy belum mengubahnya. Mereka bertiga masuk ke dalam dengan susah payah. Eliana berjalan terlebih dahulu untuk menunjukkan kamar Jeremy. Begitu sampai ke tempat tidur, Arka langsung menghempaskan tubuh Jeremy ke sana. Jeremy jatuh terlentang di atas kasur dengan mata terpejam dan tangan terentang lebar.
“Ya, Tuhan!” keluh Arka keras-keras.
Kali ini Eliana tidak berhasil menahan tawanya untuk lepas.
Arka menatapnya tajam.
Eliana menghentikan tawanya dengan berdeham-deham kecil. “Sorry.”
Arka berkacak pinggang dan menatap Jeremy lekat-lekat. “Bukannya dia ini model juga?”
Eliana mengangguk.
“He’s your boyfriend?”
“Yes.”
“Oh.”
“Eh, I mean no. Uh, yes. I mean... boy friend with space between it!”
Arka menaikkan satu alisnya ke atas. Saat itu Eliana baru menyadari betapa menariknya pria di hadapannya ini ketika tidak dalam mode kulkas. Barangkali ia perlu mengenal Arka di luar jam kerja sebab ia terlihat berbeda. In a good way.
“Dia-cuma-teman.” Eliana menakankan setiap suku katanya.
“Oh.” sahut Arka pendek. “Aku lihat kamu tahu password masuk, jadi pasti kamu sering berkunjung.”
“Iya.” Jawab Eliana polos, kemudian menyadari kekeliruan jawabannya. “Enggak. Enggak. Iya, aku sering datang. Tapi nggak seperti yang kamu bayangin!”
Arka berjalan menuju kulkas, membukanya, mengambil salah satu botol air putih, membuka tutupnya, dan langsung menenggaknya tandas. Eliana menatapnya dalam diam, meski isi kepalanya penuh dan berdesakan.
“Nggak haus?”
Eliana mengangguk dan ikut mengambil botol air di kulkas. Ia menenggaknya langsung karena malas mengambil gelas. Air dingin ini tidak juga menjernihkan pikirannya.
“Jadi, gosip itu benar?”
“Apa?”
“Kalian dekat?”
“I told you we are just friend!”
“Teman tapi tidur bareng?”
Kepala Eliana kini seakan mau pecah. Dia sudah tidak tahan lagi dengan tuduhan ini. “Dia gay, for god sake!!! Haven’t you heard that?! Itu kan rahasia umum.”
“I heard that.” Jawab Arka enteng dengan satu ujung bibir ke atas.
Eliana mengerutkan kening tidak mengerti. “So?”
“I’m just teasing you.” Ia tertawa kecil sembari memasukkan kembali botol air minumnya ke kulkas. “Dan aku nggak nyangka kamu sepanik itu, hahaha...,”
“Hahaha.” Eliana menirukan tawa Arka dengan nada menyebalkan.  “Jerk!” desisnya pelan sambil membalikkan badan.
Arka terkekeh makin keras mendengar umpatannya. Melihatnya tertawa seperti ini, membuat Eliana makin tidak memahami debaran jantungnya. Jika sebelumnya, ia memahami debaran jantungnya sebagai ketakutan. Arka mengetahui rahasianya. Arka memiliki kekuatan untuk menghancurkan karirnya. Kini ia sudah tidak tahu lagi arti dari debaran di dadanya.
Apakah aku mulai menyukainya?, ia menanyakan itu dalam hati.
“Oh, ya, aku boleh minta nomor telepon temanmu?” tanya Arka.
“Hah?”
“Temenmu yg nyusahin itu.” Ia mengarahkan dagunya ke arah Jeremy.
“Jimmy?”
“Ya.”
“Oh, bisa.” Hati Eliana sedikit mencelos tapi kemudian dia menyadari bahwa rencananya berjalan dengan baik – meski awalnya berantakan. Ia memberikan nomor telepon Jeremy pada Arka.
“Okay, thanks.”
Eliana tersenyum. “You’re welcome.”
Setidaknya kini Eliana bisa tenang. Kemungkinan Arka membongkar rahasianya menjadi semakin tipis. Ia bisa menjalani hidup seperti biasa setelah ini.
Seharusnya.


*


No comments:

Post a Comment

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower