TENTANG SI CHIMER

Wednesday, September 13, 2017

2. ALL SHE KNOWS

“No, I wouldn’t quit modeling of course. That crazy guy know nothing.” Eliana mengomel pada sahabatnya, Fira. Eliana mengambil botol air mineral di meja dan menenggak isinya dengan gemas.
Sementara Fira terkekeh kencang sampai-sampai cheese cake di mulutnya berhamburan ke luar. Eliana mengerang jijik melihatnya. Fira adalah sahabat kentalnya sejak duduk di bangku SMP. Tentu saja penampilan fisik mereka bagai bumi dan langit. Mereka bagaikan angka sepuluh, begitu teman-teman masa SMA menjulukinya. Fira sebenarnya tidak gemuk-gemuk benar. Hanya saja tubuhnya yang berisi dan berlekuk itu tampak gendut jika disejajarkan dengan tubuhnya yang semampai.
Sesi pemotretan tadi siang berlangsung lancar. Arka tidak mempermasalahkan insiden toilet di hadapan CEO – yang kebetulan juga hadir di sana. Ia hanya diam menonton. Sesekali ia mengecek pekerjaannya melalui tablet. Seakan-akan tidak ada masalah yang berarti. Sepulangnya, Eliana telah janjian dengan Fira yang menunggunya di kafe di seberang gedung untuk makan siang. Tentunya Eliana hanya berani memesan sebotol air mineral.
“Bukannya Arka itu ganteng dan jomblo kamu bilang? Rayu aja biar diem.”
“Iya, ganteng. Tapi gosipnya nggak suka cewek.”
“Ah, cuma gosip!”
“Eh, beneran lho. Dua kali dia ngeliat aku hampir telanjang. Kamu tahu, kadang aku ganti baju di hadapan dia pas fitting baju untuk keperluan promosi dan iklan. Mukanya nggak ada nafsu-nafsunya dong!”
“Serius?”
“Serius!”
Fira mengusap dagunya sesaat. “Bukannya Jeremy or something baru aja putus dari pacarnya yang fotografer itu?”
Seketika Eliana mengetahui arah pembicaraan Fira. “Eh, iya, coba aku umpanin Jimmy buat tutup mulutnya Arka.”
Fira menjentikkan jari tanda setuju. “Nah!”
Jeremy adalah teman modelnya yang kebetulan gay. Temannya itu terkenal pandai menaklukkan hati laki-laki. Bahkan menurut yang lain, Jeremy bisa menaklukkan laki-laki yang sebelumnya straight dengan wajah tampan dan pesonanya. Kadang Eliana iri dengan kemampuan Jeremy. Barangkali Eliana memiliki wajah cantik, tapi ia tidak memiliki kemampuan menaklukkan hati laki-laki. Mantan-mantannya bilang dia membosankan. Bagi mereka ia hanyalah gadis modis dengan perangai konvensional yang membosankan.
Mereka benar. Eliana lebih suka menghabiskan waktu di rumah dengan menonton film dan membaca buku. Padahal seharusnya ia bisa mengikuti pesta-pesta liar yang menyenangkan. Begitulah kemudian hubungan cinta Eliana selalu berakhir dengan si pria berselingkuh dengan perempuan lain.
“Tapi, Ana...,”
“Ya?”
“Arka was right.”
Eliana menggeleng tidak mengerti dengan pernyataan Fira.
“You need help.” Ujar Fira sembari tersenyum.
Eliana hanya terdiam. Ia mengarahkan tatapannya ke arah jalan raya, mobil-mobil berjarak sangat dekat satu sama lain, saling berhimpitan. Dari balik kaca kafe ini, Eliana merasa dirinya tidak berarti. Dia bukanlah siapa-siapa tanpa tubuh size zero-nya. Ia bukanlah siapa-siapa jika saja ia bukan model. Tidak akan ada seorang pun yang peduli bahkan mengenalinya jika ia menjadi gadis yang biasa-biasa saja. Eliana tidak bisa membayangkan dirinya jika ia bukan seorang model. Pekerjaan ini telah menjadi hidupnya. Satu-satunya hal yang ia bisa. Satu-satunya hal yang ia tahu. “This modeling things are all I know.” Gumamnya pada diri sendiri.
“Permisi.” Tiba-tiba seorang pramusaji menghampirinya.
“Ya?”
Pramusaji yang mungkin masih kuliah itu tersenyum malu menatapnya. Ia memegang ponselnya dengan gelisah. “I’m sorry, Miss Eliana. I am your biggest fan.”
“Oh, halo, mau foto?”
Gadis itu menangguk dengan senang karena Eliana langsung mengetahui maksudnya. Gadis itu langsung mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka berdua untuk selfie. Kemudian Fira menawarkan diri untuk mengambil foto mereka berdua.
“You are so kind and beautiful. Anda menginspirasi saya untuk berhenti kuliah dan ngejar mimpi saya jadi model.”
“No!” Eliana cepat-cepat menukas.
Gadis pramusaji itu tampak terkejut dengan nada suara Eliana yang tiba-tiba meninggi. Cepat-cepat Eliana menjelaskan maksud perkataannya. “If I were you I wouldn’t do that. Kamu harus selesaikan kuliahmu.
“Tapi, Miss, Anda sukses menjadi model terkenal walau nggak kuliah. Anda membuktikan bahwa kesuksesan nggak harus melulu melalui pendidikan.” Gadis itu masih kukuh pada pemikirannya.
Eliana terhenyak sesaat. Ia ingin berkata bahwa impiannya yang sebenarnya bukanlah menjadi model. Ia ingin bilang bahwa menjadi model barangkali hanya tentang takdir. Sebab sewaktu duduk di bangku SMP, seorang agensi pencarian bakat menemukannya ketika sedang bermain di gamezone. Orang itu menawarinya untuk bergabung dalam agensinya, ada casting untuk iklan sabun wajah untuk remaja. Atas dorongan Fira, ia mengiyakan.
Eliana tidak mendapatkan casting itu karena kemampuan aktingnya belum sebaik sekarang. Namun pada casting selanjutnya, ia berhasil membuktikan bahwa ia memiliki potensi. Ia membintangi banyak iklan di bawah agensi kecil tersebut dan mulai dilirik untuk melenggang di catwalk karena postur tubuhnya yang mendukung. Semua tentang kebetulan dan kebetulan yang tidak ia rencanakan. Tak lama sebuah managemen model terkenal di Indonesia memintanya bergabung dan setelah itu karirnya semakin cemerlang.
Namun terlalu sulit menjelaskan segalanya pada gadis pramusaji itu dan Eliana tidak ingin menghancurkan impiannya. Gadis itu masih terlalu polos. Jadi Eliana hanya tersenyum dan berkata, “Good luck, my dear. See you on top.”
Seketika senyuman riang merekah di wajah gadis pramusaji. Dia mengucapkan terima kasih berulang kali dan memuji betapa baiknya dia. Ia kemudian pergi menuju teman-temannya yang menunggunya di dekat meja bar. Yang tidak Eliana sadari saat itu adalah seseorang mengawasinya dari kejauhan. Arka sedang memesan segelas kopi Americano di meja kasir.
Gadis pramusaji yang barusan meminta foto kembali ke balik meja dan menyiapkan pesanan Arka. Satu krat kopi Americano disodorkan ke arahnya. Arka menerimanya dan menyerahkan sejumlah uang ke kasir.
“Bukankah dia sangat cantik?”
“Siapa?” Arka balas bertanya.
“Kak Eliana.” Gadis itu berkata dengan riang.
“Perempuan secantik itu, bisa-bisanya diselingkuhin. Kalau saya jadi cowoknya, saya jagain bener-bener deh. Mana baik, nggak sombong.” Sang kasir ikut-ikutan berkomentar.
“Diselingkuhin?” Arka lagi-lagi bertanya.
“Kakak nggak dengar beritanya? Ramai diberitakan di televisi, pacarnya yang terakhir menghamili cewek lain, Pak.” Gadis pramusaji menjelaskan dengan semangat.
“Ini, Kak, kembaliannya.” Pemuda penjaga kasir memberinya kembalian.
Arka menolaknya. Pemuda itu mengucapkan terima kasih dan memasukkannya ke dalam toples tip. Arka menaikkan alisnya sembari tersenyum tipis kemudian berjalan keluar dari kafe.
“Kakak itu sering kasih tip ya?” Arka masih bisa mendengar sang pemuda kasir membicarakannya. “Baik ya,”
“Iya, baik, ganteng juga, tapi aneh.” Jawab si gadis pramusaji. “Dia selalu sendirian setiap ke sini.”
“Hush.”
“Hehe.”
Arka membuka pintu kaca kafe dan keluar dari sana. Di luar sana udara terik dan panas menyengat kulit. Ia menenggak americano coffee ice-nya dan menyeberang jalan ketika lampu pejalan kaki berwarna hijau.

*

Ketika Arka kembali orang-orang sedang sibuk berkumpul di depan layar laptop. Arka meletakkan krat di meja dan berjalan mendekatinya. Rupanya mereka sedang melihat hasil pemotretan barusan. Mereka memuji kemampuan Eliana dalam berpose tapi kemudian mereka bingung harus memilih foto yang mana karena hampir kesemuanya memukau.
            Teran, asistennya, yang memegang mouse laptop. Ia menakan tombol next terus menerus sambil terus bergumam betapa luar biasanya Eliana. Kalau tunangannya tahu ia memuji perempuan lain seperti itu, bisa dipastikan pernikahannya bulan depan batal. Tiba-tiba ada satu foto yang menyita perhatian Arka.
            “Berhenti.”
            Teran kaget karena baru menyadari kehadiran Arka. Begitu pula yang lainnya. Di layar laptop terpampang foto Eliana berpose dengan satu tangan di pinggang, ia menarik sedikit dagunya ke atas, memamerkan lehernya yang jenjang, rambut gelombang kecokelatannya berkibar tertiup blower, gaun satinnya memeluk tubuhnya dengan sempurna di bagian dada dan pinggangnya yang kecil. Wajahnya menunjukkan pose wajah penuh percaya diri dengan bibir sedikit terbuka, sedikit senyuman, terkesan mahal, tapi masih terlihat bersahabat.
            “Aku suka foto yang ini. Dia terlihat mahal.” Ujar Arka dengan nada datar. “Tentu saja, dia memang dibayar mahal. Yang kusukai dari foto ini dia terlihat seperti gadis cantik yang kau temui di pesta, semua orang ingin mengenalnya, kamu tahu gadis itu berasal dari level yang berbeda, tapi gadis itu masih mau menanggapi obrolanmu. Mahal yang seakan-akan tergapai bagi kebanyakan orang. She’s everybody’s goal.
            Semua terbengong-bengong mendengar pengandaian Arka. “Kenapa? Bukankah itu alasan pilihan jatuh pada Eliana? She’s kind of a girl next door? Ada kopi di meja, ambil saja.” Arka menaikkan gelas kopinya ke arah rekan-rekan kerjanya dan berlalu pergi.
            “Arka memang kaya gitu. Terlalu fokus sama kerjaan. Pantes jomlo.”
            “Iya, nggak bisa nikmatin hidup banget. Nggak kaya kita yang masih sempat-sempatnya gagal fokus mengagumi Eliana.”
“Uh, kapan badan aku bisa kaya dia. Huhuhu,”
            “Duh, coba istriku macam Eliana.”
            “Wah! Ketinggian amat ngelamunnya!”

            “Hahahaha...,”

No comments:

Post a Comment

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower