TENTANG SI CHIMER

Wednesday, September 13, 2017

1. ALL SHE KNOWS

Harusnya Eliana tidak menuruti ajakan Fira semalam untuk makan steak. Hari ini ia ada sesi pemotretan dan coba tebak... dress merah marun itu jadi agak sulit untuk dirisleting pada bagian punggungnya. Eliana mencoba menahan napas, menarik otot perutnya ke dalam sekuat tenaga. Ya, tentu saja ia berhasil merisleting pada akhirnya. Tapi kini ketika melihat bayangannya di cermin, ada sedikit buncit di perutnya.
            “Shit...,” umpatnya dengan mata membelalak lebar. Bayangan wajahnya di cermin tampak sangat panik. Ia telah mengenakan make up dramatis yang makin menonjolkan tulang pipinya yang tinggi dan rahangnya yang tirus.
Tidak, ia tahu ia tidak bisa melakukan pemotretan dengan baik dengan perut seperti ini. Tidak, ia tidak mau kehilangan gelarnya sebagai brand ambassador obat pelangsing ini. Ia sudah melakukan apa saja demi memenangkan casting ini di antara puluhan kandidat lainnya yang mendaftar. Kandidat yang bukan orang biasa. Kandidat yang kesemua adalah model terkemuka di negeri ini. Kesalahan sekecil ini akan melengserkan gelarnya. Ia hanya menang ukuran pinggang setengah inchi lebih kecil dari Pamela – saingan terberatnya. Sekarang dengan perut buncit ini, Pamela jelas lebih unggul darinya.
            “They’re waiting me to fail, but not today... not today, Eliana....” gumamnya dengan tatapan mata  tajam pada bayangannya sendiri. Perlahan ia mengendap-endap menuju pintu keluar ruang rias. Bagus, sedang tidak ada orang di lorong. Ia berjalan keluar dengan napas tertahan. Tak seorang pun boleh tahu perutnya sedang buncit. Ia masuk ke dalam toilet. Bagus, tidak ada orang juga di sana.
            Eliana melepas napasnya dengan lega. Perutnya kembali membuncit. Ia berdiri di depan wastafel, menatap bayangan dirinya di cermin sesaat, lalu dengan lihai ia memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke mulut hingga menyentuh dalam langit-langit mulutnya. Seketika tubuhnya merespons, perutnya bergejolak, tenggorokannya panas, dan sejumlah makanan yang belum sepenuhnya tercerna keluar dari mulutnya.
            Ia terus muntah dan muntah. Ia menyalakan kran air untuk membersihkan wastafel dari muntahannya. Muntahannya berhenti. Ia memasukkan lagi jarinya ke dalam mulut kemudian muntah lagi.
Bukan sekali dua kali ia melakukan hal seperti itu. Ia hampir melakukannya setiap hari. Tapi tidak di tempat umum, apalagi di studio pemotretan. Ia sangat berhati-hati menjaga citranya. Tak seorang pun boleh mengetahui kebiasaan buruknya ini. Dia bisa kehilangan pekerjaannya. Ia harus mempertahankan citranya sebagai model bertubuh jangkung yang makan banyak tapi tidak bisa gendut.
Sebenarnya itu citra yang tolol, Eliana membatin. Semua orang tahu semakin bertambahnya usia, sudah sepantasnya seorang perempuan menjadi mudah gemuk. Dulu ketika Eliana pertama kali terjun di dunia modelling pada usia lima belas, ia bisa makan banyak dan tetap kurus. Sekarang jangan harap. Ia sudah memasuki usia dua puluh lima. Kemampuan metabolisme tubuhnya sudah tidak sebaik ketika ia masih remaja. Ia melakukan diet ketat untuk tetap mempertahankan size zero-nya.
Ketika dirasanya gaunnya sudah tidak terlalu melekat erat perutnya, Eliana mencuci mulutnya dengan air. Tidak apa-apa lipstiknya sedikit berantakan, dia bisa touch up nanti. Ia berdiri tegak dan memeriksa bayangan dirinya di cermin. Buncit di perutnya sudah hilang.
“Ok, let’s do this.” Gumamnya pada diri sendiri. Ia tersenyum lebar pada dirinya sendiri seakan-akan ia telah melakukan kerja bagus. Ia berjalan menuju pintu dan tepat di depan pintu, seorang lelaki tegap berdiri. Eliana menengadah dan menemukan tatapan dingin lelaki itu menghujamnya. Eliana lekas menutupi kegugupannya dengan senyuman lebar.
“We are looking for you everywhere, Ms. Eliana. Pemotretan akan dimulai, harusnya kamu sudah berada di set sekarang. Katanya. Ia tidak menyusahkan diri untuk membalas senyuman Eliana. Tanpa menunggu jawaban dari Eliana, laki-laki itu membalikkan badan dan berjalan pergi.
Eliana lekas memburunya dan menyejajari langkahnya. Namanya Arka, Project Manager di perusahaan tempat Eliana menjadi brand ambassador produk pelangsing tubuh. Pria itu jelas penting bagi keberlangsungan karirnya. Eliana menggigit bibirnya dengan gelisah, ia bertanya-tanya dalam hati berapa lama Arka berdiri di depan pintu kamar mandi. Apakah ia mendengar suara muntahannya dari luar sana? Apakah yang ia pikirkan ketika mendengarnya?
Eliana bisa saja menangkis. Ia bilang ia sedang tidak enak badan. Ia bisa mengelak dari tuduhan yang mungkin pria itu lontarkan. Namun Arka tetap diam, tidak menanyakan apapun.
“Mr. Arka.”
“Cukup Arka.” Potongnya.
Eliana mengangguk. Lagipula usia mereka juga tidak terpaut cukup jauh, Arka mungkin hanya empat-lima tahun lebih tua darinya. Ia terlalu muda untuk menduduki jabatannya yang sekarang. Tapi ia lulusan universitas terkenal di dunia, Harvard kalau Eliana tidak salah dengar. Jadi posisinya yang sekarang jadi masuk akal.
            “Arka, how long were you standing outside?”
            “Long enough to hear everything.”
            Seketika Eliana tercengang. Ia membersihkan tenggorokannya dan mencoba memberi alasan yang masuk akal. “Aku sedang nggak enak badan. Habis ini rasanya aku harus ke dokter.”
            “Kamu mau tahu apa yang aku pikirkan, Anna?” tukasnya.
            “Ya?”
            “You should looking for help or just quit modeling instead.”


*

No comments:

Post a Comment

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower