TENTANG SI CHIMER

Tuesday, December 27, 2016

6 THE COINCIDENCE

Angka pada layar digital di antara dua kakinya bergerak naik dan akhirnya berhenti setelah berkedip dua kali. Angkanya sudah tidak berubah lagi. Kemudian ia memekik pelan seakan ingat akan sesuatu, Eliana turun lagi lalu melepas piyama bahkan hingga pakaian dalamnya. Iya menggumamkan doa sebelum perlahan kakinya berpijak lagi pada timbangan. Ia menahan napas dan tanpa sadar memejamkan mata rapat-rapat. Keringat bercucuran di jidatnya. Minggu depan ia akan berangkat ke New York untuk mengikuti undangan casting. Ia diharapkan managemennya untuk kembali berpartisipasi dalam New York Fashion Week. Ia tidak boleh kehilangan kesempatan ini. Begitu banyak model baru bermunculan dan seringnya mereka masih berusia belasan tahun.
Eliana perlahan membuka mata dan angka timbangan berkedip dua kali menampilkan angka yang sama seperti sebelum ia menanggalkan pakaiannya. Eliana mengumpat pelan kemudian menatap tubuh telanjangnya di depan cermin. Ia bisa melihat pinggulnya sedikit lebih besar dari sebelumnya. Ia menggigit bibirnya sambil menangis. Ia menghabiskan setengah hari dengan terus kardio di apartemennya.
Sialnya, otaknya mengirimkan sinyal meminta karbohidrat. Otak sialan yang begitu menyukai makanan. Eliana memutuskan untuk mandi dan bersiap pergi keluar. Lagipula ia sudah cukup lama tidak mengunjungi salah satu tempat favoritnya, toko buku.

*

Mata Eliana menyusuri rak rak buku new release. Novel-novel baru dengan nama penulis-penulis yang juga baru serta beberapa novel terbitan penulis ternama yang dikenalinya. Eliana mengambil satu buku dan membaca bagian belakang sampul buku. Ia juga melakukan riset kecil dengan mengecek buku tersebut di goodreads untuk mengetahui garis besar cerita.

Tas plastik di tangannya tiba-tiba dipenuhi tumpukan buku. Sebagian besar novel ilustrasi atau komedi romantis. Ia suka kisah-kisah ringan yang membuatnya merasa rileks. Kadang ia juga masih suka membaca teenlit walau orang-orang suka mengejek selera bukunya. Eliana tidak peduli, lagipula ia membaca bukan untuk membuat orang lain terkesan. Ia membaca apapun yang membuatnya merasa gembira.
Eliana berjalan ke tumpukan buku doodle di sebelah rak buku pengembangan diri. Dan di sanalah ia menemukan seorang pria dengan tinggi badan menjulang, mungkin 183cm, ia mengenakan kaos biru polos dan jins, sebuah buku di tangannya. Wajahnya sedikit menunduk, terlihat serius, alisnya yang tebal saling bertaut, dan mulutnya sedikit mengerucut. Tanpa sadar senyum Eliana mengembang.
Barangkali pria tersebut merasa diperhatikan, ia mengangkat wajahya, dan mata keduanya bersirobok. Eliana segera membuang muka dan berdeham pelan. Namun tanpa disangka pria itu tersenyum ke padanya.
Arka menutup buku berkover putih di tangannya dan meletakkannya kembali ke rak. Eliana jadi tidak punya pilihan selain membalas senyuman Arka. Lagipula senyuman Arka cukup langka. Arka menjadi sosok yang berbeda di luar urusan kantor. Ia menjadi laki-laki normal pada umumnya. Sederhana dan santai. Di kantor ia menjadi sosok yang dingin dan cenderung apatis.
"What a nice coincidence." ujar Arka sembari tersenyum kecil.
Eliana hampir tidak mempercayai pendengarannya. Benarkah tadi Arka bilang ini kebetulan yang indah? Apakah Arka merasa senang bertemu dengannya?
"Sering mampir toko buku?" Eliana balas berbasa basi.
"Lumayan. Kamu?"
"Jarang. Tapi sekalinya mampir biasanya ngeborong." Eliana memamerkan tas belanjaannya.
Arka melirik sekilas buku dalam kantong belanjaan Eliana. "Nggak nyangka kamu suka baca novel."
"Ya, kamu orang kesekian yang bilang gitu." Eliana mengedikkan bahu. "Lagi nyari buku apa?"
"Sebenarnya nggak lagi nyari buku tertentu. Cuma lihat lihat aja." ujar Arka kemudian ia menatap Eliana agak lama.
Eliana yang semula tersenyum jadi salah tingkah. Ia mengingat-ingat penampilannya saat ini. Ia mengenakan blus putih potongan sederhana, boyfriend jins, dan sepatu usang kesayangannya. Rambutnya dicepol acak karena ia sedang malas menata rambutnya. Ia tidak mengenakan make up apapun selain bb cream dan lipgloss. Ia merasa tidak ada yang istimewa dalam penampilannya tapi tidak bisa dibilang memalukan. Bagaimanapun ia manusia biasa yang tidak selalu tampil sempurna. Eliana kira Arka akan mengomentari penampilannya seperti biasa. Arka selalu berkomentar soal penampilannya sebagai brand ambassador setiap kali ia merasa tidak sesuai. Eliana sudah menyiapkan argumen untuk itu tapi ternyata Arka melihat sekeliling dan bertanya. "Ke sini sama siapa?"
"Hah?"
Arka mendekat dan mengulangi pertanyaannya. “Sendirian?”
Eliana menjawab dengan muka polos. "Ya."
"Sudah makan?"
"Belum."
"Di dekat sini ada sushi yang enak. Suka sushi?"
"Hah?" Eliana cepat cepat meralat jawaban bodohnya sebelum Arka menyadari. "Ya. Suka." ia berusaha tersenyum meski terasa aneh.
Berbeda dengannya, Arka justru tersenyum dengan sangat mudahnya. Bagaimanapun Eliana masih tercengang atas begitu bertolakbelakangnya Arka di kantor dan di kehidupan sehari-hari. Arka berjalan lebih dulu di hadapannya menuju kasir dan Eliana mengikutinya seperti kerbau dicocok hidung.

*

Restoran kesukaan Arka rupanya juga retoran Jepang kesukaan Eliana. Mereka memesan makanan kesukaan masing-masing. Arka meminta Eliana memperlihatkan buku-buku yang baru dibelinya. Arka berhasil menebak beberapa judul novel yang difilmkan. Arka bilang ia jarang membaca fiksi tapi ia mengikuti fiksi lewat film.
Arka bercerita tentang beberapa novel yang akan diangkat ke layar lebar dalam waktu dekat. Eliana tidak terlalu mengikuti perkembangan film tapi ia cukup antusias ketika tahu beberapa novel kesukaannya akan difilmkan.
"Begitu filmnya rilis, mau nonton bareng?"
"Mau banget. Sama siapa nontonnya?"
"Sama aku."
"Terus?"
Arka tidak langsung menjawab pertanyaan Eliana.
Senyum Eliana memudar perlahan.
Arka menatap Eliana lagi dengan cara yang sama dengan di toko buku. Tatapan mata yang tenang dan sedikit terlalu percaya diri. “Apa keberatan kalau aku mengajakmu nonton berdua saja?”
Eliana ingin memperjelas apakah itu ajakan kencan atau apa. Ia ingin memastikan apakah mereka sungguh akan menonton film berdua saja? Tapi panas di kedua pipinya membuat Eliana kehilangan kata-kata.
Seorang pelayan datang dan menaruh hidangan di antara mereka. Arka mengambil gelas ochanya, meniup uapnya, lalu meminumnya. Eliana menatap hidangan di hadapannya dan baru sadar ia mengkhianati rencana dietnya. Kini sudah terlambat menyesali.
“Gimana?” ulang Arka dengan nada tenang.
Eliana membasahi bibirnya sesaat sebelum menjawab. “Oke.”
Eliana bisa melihat senyum puas di wajah Arka. Senyum yang hanya pria itu berikan ketika proyek berakhir sukses. Kemudian mereka menikmati hidangan di hadapan mereka sembari meneruskan obrolan mereka mengenai film-film yang diangkat dari novel best seller.

*

Monday, November 28, 2016

Mengapa Harus Berwisata ke Bandung?


Pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri, apa yang menjadi pertimbangan mengapa Anda memilih sebuah destinasi wisata? Apakah karena ada objek wisata populer di tempat tersebut? Atau, apakah karena disana ada objek wisata yang sesuai dengan minat Anda?
Terlepas dari apapun alasan mengapa Anda memilih sebuah objek wisata sebagai next traveling destinations anda selanjutnya, salah satu yang direkomendasikan adalah Bandung. Lalu mengapa Bandung harus menjadi destinasi wisata Anda selanjutnya? Alasan-alasan berikut ini mungkin bisa menjawabnya.

Akomodasi di Bandung lengkap dan menarik

Akomodasi di Bandung cukup lengkap mulai dari hotel hingga villa. Salah satu hotel yang unik dan banyak dipesan oleh wisatawan adalah Banana Inn Hotel yang lokasinya ada di Jalan Dr. Setiabudi Nomor 191, Gegerkalong, Sukasari.
Lokasi Hotel ini sangat strategis, berada di antara pusat kota Bandung dan berbagai obyek wisata menarik seperti: Kampung Gajah Wonderland, Jendela Alam, Bosscha observatory, objek wisata De' Ranch, Kebun Strawberry, Taman Begonia, hingga Curug Maribaya.

Cuaca di Bandung menyenangkan

Bandung memiliki cuaca yang cukup sejuk dan menyenangkan. Tidak heran mengingat Kota Bandung berada jauh di atas permukaan laut. Karena Bandung berada di ketinggian, maka Bandung juga jadi jarang banjir, tidak seperti Jakarta.


Ranca Upas Bandung - dolandolen.com

Jadi, berkunjung pada musim kemarau atau musim hujan seharusnya tidak membuat Anda khawatir jika perjalanan wisata Anda akan terganggu.

Ada banyak villa dengan pemandangan menakjubkan di Bandung

Bandung dikenal memiliki pemandangan alam yang eksotis dan mempesona. Diantaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu dan objek wisata Kawah Ciwidey. Disekitar tempat tersebut, ada banyak villa atau penginapan yang disewakan dengan harga bervariasi tergantung fasilitas dan ukuran villa.
Namun yang menjadi perhatian adalah, pemandangan alam disekitar villa begitu menakjubkan. Panorama alamnya indah didukung dengan udara khas Bandung yang sejuk. Membuat villa Bandung cocok dijadikan sebagai tempat beristirahat jika ingin menenangkan pikiran dan lari dari keramaian kota.

Ada banyak objek wisata terpadu di Bandung


Rumah mode - tempatwisatadibandung.info

Bandung tidak hanya menawarkan pemandangan alam, melainkan di Bandung juga ada banyak objek wisata terpadu dan objek wisata budaya yang menarik untuk dikunjungi. Diantaranya adalah:
l  Trans Studio Bandung
l  Saung Angklung Udjo
l  Cimanggu dan Ciwalini Hot Spring Water
l  Rumah mode
l  Kebun binatang Bandung
l  Braga City Walk, dan lain-lain.

Kuliner di Bandung terkenal enak dan lezat



Karedok Bandung - recipecipe.blogspot.co.id

Di Indonesia, masakan sunda cukup populer dan banyak diminati. Diantara beberapa makanan khas Bandung yang sebaiknya Anda coba saat berkunjung adalah:
l  Karedok. Terdiri atas berbagai sayuran mentah seperti mentimun, daun kemangi, kacang panjang, terong, dan lain-lain.
l  Batagor. Merupakan singkatan dari bakso tahu goreng.
l  Mie kocok. Adalah makanan lain khas Bandung yang enak dan nikmat terbuat dari mie kuning dan toge.
l  Perkedel Bondon, yang terbuat dari kentang dan dimasak menggunakan tungku api
l  Surabi khas Bandung
l  Combro
l  Misro
l  Nasi Timbel
l  Hingga, Peuyeum (tape singkong).

Di Bandung ada banyak pusat perbelanjaan murah-meriah

Destinasi wisata belanja yang paling terkenal di Bandung adalah Pasar Cibaduyut. Di Pasar Cibaduyut kita akan dengan mudah menemukan berbagai benda berkualitas tinggi mulai dari sepatu, atas, jaket hingga berbagai bentuk alas kaki yang terbuat dari kulit.


Cibaduyut Bandung - bdgexpat.com

Namun selain berbagai benda-benda terbuat dari kulit yang ditawarkan dengan harga bersahabat di Pasar Cibaduyut, sebenarnya masih ada tempat-tempat belanja murah-meriah lainnya di Bandung yang menarik. Tempat-tempat belanja tersebut diantaranya adalah:
l  Pasar Jumat Pusdai, dikenal sebagai salah satu tempat berbelanja berbagai jenis pakaian sisa-sisa ekspor. Ditawarkan dengan harga murah-meriah.
l  Gang Tamim merupakan pusat perbelanjaan jika Anda ingin mencari berbagai pakaian yang terbuat dari kain denim atau jeans dengan harga antara Rp100.000 hingga Rp200.000.
l  Pasar Baru Trade Center, adalah tempat berbelanja berbagai jenis kain dan pakaian dengan harga terjangkau.
l  Jalan Cihampelas juga merupakan destinasi wisata belanja di Bandung yang ikonik dan terkenal. Disini kita bisa menemukan dengan mudah berbagai jenis oleh-oleh khas Bandung seperti keripik tempe, peuyeum, hingga kaos-kaos lucu dengan kata-kata unik.


Itulah beberapa daya tarik Bandung yang mungkin bisa menjadi alasan untuk memilih Bandung sebagai destinasi wisata Anda selanjutnya.

Monday, November 21, 2016

5. THE REASON

Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Arka sudah bangun dari pukul tujuh, mandi, makan beberapa lembar roti, dan kini memeriksa email melalui hpnya. Ada email dari Liz menanyakan kabarnya, Arka membalas email itu dengan wajah cerah. Liz berencana untuk liburan ke Jakarta minggu depan sekaligus berkenalan keluarganya. Arka mengiyakan, mengingat dia sendiri sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Nenek Liz di Monterrey. Ketika Arka membalas email tersebut, yang terlintas dalam pikirannya adalah jembatan Puente de la Unidad dan Sungai Santa Catarina yang membelah kota Monterrey menjadi dua bagian. Lalu ciuman hangat mereka di sana. Arka tersenyum mengingatnya.
Ketika menelusuri email-email sebelumnya, Arka barulah ingat perihal hari pertamanya masuk kerja Senin depan. Arka langsung melompat turun dari tempat tidurnya, mengambil jaket, dompet, dan kunci sepeda motor. Ketika ia melewati ruang keluarga, ibunya menanyakan ia mau ke mana. Arka menjawab ia akan keluar ke mall untuk beli beberapa setelan kantor. Ibunya menawarkan diri untuk menemani tapi Arka menolak. Sebelum ibunya memaksa, Arka bergegas kabur ke garasi, menaiki motor lamanya, dan langsung melaju ke rumah Bulan.
          Rumah Bulan hanya berjarak empat rumah dari rumah Arka. Ketika ia mengendarai sepeda motor tuanya, Arka merasa kembali ke zaman SMA. Ketika itu ia dan Bulan sering berangkat sekolah bersama, tidak selalu setiap hari, tapi sering. Sebab Arka menjemput pacarnya sendiri – ketika sedang punya pacar – dan Bulan juga dijemput pacarnya – kalau mereka tidak sedang berantem. Arka senyum-senyum sendiri mengingatnya. Tanpa terasa ia sudah sampai di depan pintu pagar rumah Bulan. 
Arka turun dari sepeda motornya dan terperangah melihat pekarangan rumah Bulan yang ditumbuhi rumput tinggi dan tidak terawat. Cat tembok rumah Bulan tampak usang dan terkelupas di sana sini. Arka mendorong pintu pagarnya pelan dan ternyata tidak terkunci. Arka jadi merasa uji nyali masuk rumah hantu ketika mulai menjejakkan kaki ke dalam pekarangan rumah Bulan.
Perlahan ia menaiki beranda rumah Bulan. Ia menekan tombol bel di sebelah kanan pintu. Suara bel menggema ke penjuru rumah. Sunyi untuk beberapa saat. Arka memencet bel lagi. Suara langkah kaki berat mendekat. Arka undur beberapa langkah. Ia sudah memasang senyum cerah untuk mengantisipasi kehadiran Om Ricko atau Tante Mel yang membukakan pintu. Tak lama suara kunci diputar dan pintu terbuka.
Senyum di wajah Arka perlahan-lahan mengering.
Dari celah pintu ia menemukan wajah lain. Wajah seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengannya. Tatapan matanya dingin dan menyelidik. Ia hanya mengenakan celana training dan bertelanjang dada. Arka tidak mengenali laki-laki itu.
Pintu dibuka makin lebar. Arka masih mematung di tempatnya. Demikian dengan laki-laki asing di hadapannya. Arka bisa melihat sorot tidak suka di mata laki-laki itu. Laki-laki itu menyungging senyum sinis dan berkata, “Jadi lo, Arka?” 
Arka menyeringai. Pikirannya masih kalut. Bulan anak tunggal dan Arka mengenal seluruh sepupu laki-laki Bulan. Laki-laki di hadapannya kemungkinan besar ada kekasih Bulan. Tapi apa yang dilakukannya pagi-pagi begini di rumah Bulan?
Ego Arka terusik, dengan nada tak kalah arogannya, ia berkata, “Om Ricko sama Tante Mel mana?” ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
Laki-laki itu menatap Arka dengan tidak suka. Namun ia sudah lama menguasai rumah ini dan juga penghuninya. Tingkah Arka terlihat seperti pecundang baginya. Ia tertawa sinis dan Arka balik menatapnya dengan nyalang.
Arka berjalan menuju ruang tengah keluarga. Jendela ruang tengah dan kordennya masih tertutup, sementara lampu ruang tengah tidak menyala. Dalam keremangan, Arka melihat onggokan selimut dan bantal di sofa ruang keluarga, lalu berbotol-botol minuman keras, dan juga aroma rokok yang pengab. Arka hampir tidak bisa mengenali rumah ini. Ia mulai ragu ia memasuki rumah yang salah.
Keraguannya tidak berlangsung lama ketika pintu kamar mandi terbuka di belakangnya. Arka menoleh dan menemukan Bulan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Rambutnya basah dan aroma segar menguar dari dalam kamar mandi. Arka terperangah melihatnya dan Bulan tak kalah terperangahnya.
"Arka...," gumam Bulan bingung. Ia antara ingin kembali masuk ke dalam kamar mandi atau menjelaskan apa yang tengah terjadi kepada Arka. Belum sempat Bulan menentukan pilihan, Fero sudah merangkul bahu Bulan, dan menciumi leher Bulan di hadapan Arka. 
Arka mematung di tempatnya.
Begitu pula dengan Bulan.

Image result
randomly from google

Sementara Fero menatap Arka dengan sorot menyebalkan. Arka ingin meninju hidung pria itu, Pria yang kemungkinan besar pacar Bulan saat ini. Arka tidak pernah sebegitu benci pada pacar Bulan sebelumnya seperti saat ini. 

*

Arka memilih untuk menunggu di beranda rumah. Ia merasa asing dengan rumah Bulan dan juga penghuninya yang baru. Entah ke mana perginya Om Ricko dan Tante Mel. Kalau mereka ada di rumah mana mungkin begundal macam Fero bisa berkeliaran seperti itu? Apakah mereka sedang di luar kota selama beberapa hari? Kalau, iya, mengapa Bulan membiarkan ada laki-laki menginap di rumahnya? Dan mengapa keduanya...
Ah, Arka merasa ingin meninju seseorang saat ini. Kakinya menendang kerikil di pelataran rumah hingga melenting jauh ke seberang pekarangan yang tak terurus. Ia ingat dulu Tante Mel suka menanam mawar berbagai warna. Sekarang tanaman itu tampak kering dan diselimuti belukar dan tanaman rambat.
Pintu rumah di belakangnya terbuka. Arka menoleh sedikit. Bulan berjalan pelan mendekatinya. Ia tampak ragu untuk menemui Arka. Kini mereka berdiri berhadapan dalam diam beberapa saat.
“Namanya Fero.” Bulan mengawali perkataannya. “Dia… pemain sinetron stipping di tempatku magang sebagai fashion stylist. Mungkin kamu nggak kenal karena lama nggak tinggal di Indonesia.” Bulan memaksakan diri untuk tertawa tapi gagal dan malah terdengar ganjil. “Orangnya baik kok, aslinya.” Bulan berkata dengan maksud menegaskan.
Arka berusaha untuk mengabaikan panas di dadanya. Membayangkan Fero menyentuh tubuh Bulan, membuat sekujur tubuhnya terbakar amarah. Arka mengenali perasaan itu sejak mereka SMA. Ia selalu cemburu jika Bulan terlalu sering jalan dengan pacarnya dan mengabaikannya. Ia juga marah jika pacar Bulan bertindak sewenang-wenang. Ia pernah menghajar pacar Bulan ketika memergokinya berselingkuh. Bagi Arka itu adalah hasrat ingin melindungi. Bulan sudah seperti saudaranya sendiri. Bukankah seorang kakak laki-laki memang sudah sewajarnya melindungi adik perempuannya? Demikian ia mengartikan perasaannya. Bulan pun memahami tindakan Arka.
“Om sama Tante mana?”
Bulan berdeham pelan membersihkan tenggorokannya. Ia tahu cepat atau lambat pertanyaan itu akan meluncur dari mulut Arka. Ia sudah cukup lama menutup-nutupinya. Dalam email yang sering ia kirim ke Arka, mereka hanya saling bertukar kabar dan bercanda. Bulan tidak pernah sekalipun menceritakan kehidupannya.
“Mereka sudah pisah, Ka… beberapa bulan setelah keberangkatanmu ke Harvard.” Bulan berusaha menjelaskan dengan tersenyum.
“Berpisah?” Arka mengerutkan kening.
“Bercerai.” Bulan menegaskan.
Arka membuka mulutnya hendak berbicara namun diredakannya dulu amarahnya. “Kamu seharusnya cerita semuanya sejak dulu, Bulan. Kamu membuatku tampak tolol!” gumamnya menahan marah. Namun kemarahan Arka hilang seketika begitu melihat mata Bulan yang berkaca-kaca.
“Aku melewati masa-masa yang sulit sejak kepergianmu. Banyak hal berubah setelah kedua orang tuaku bercerai. Aku tidak sama dengan Bulan yang dulu. Semua orang memperlakukanku berbeda. Tapi, Ka…,” Bulan tersedak oleh tangisnya yang tertahan, “aku masih ingin kamu menganggapku sama. Aku ingin kamu memperlakukanku seperti Bulan yang dulu. Itu sebabnya aku tidak menceritakannya ke kamu. I’m sorry.” Beberapa tetes air mata Bulan jatuh. Ia mengusapnya sambil lalu, kemudian memilih membalikkan badan, pergi menuju Fero yang berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
Bulan berhenti sejenak di depan Fero, menatapnya sebentar, lalu masuk ke dalam rumah. Arka mengikuti kepergian Bulan dalam diam, matanya kemudian bertumbukan dengan mata milik Fero. Fero menaikkan satu ujung bibirnya ke atas, mengulum senyum sinis. Fero masih bertelanjang dada dan ia menghisap rokoknya dengan santai sembari memperhatikan Arka yang mulai melangkah pergi dari pekarangan rumah Bulan. Fero mengartikan kepergian Arka sebagai pengakuan kekalahan dan Fero menyukai perasaan menjadi pemenang.

*

Monday, August 1, 2016

GERUNDELAN TENTANG BUKABUKU DOT COM


Sebenarnya sebelumnya saya hampir nggak pernah belanja online buku sebelumnya. Karena saya sebelumnya tinggal di kota yang penuh dengan toko buku dan banjir diskon. Tapi setelah saya pindah di kota tanpa Togamas dan Gramedia, saya jadi ketergantungan dengan toko buku online.

Dari sekian tokbuk online yang saya jajal, saya pesan paling banyak di Bukabuku dot com. Dalam sebulan saya menghabiskan 1 juta sekian hanya untuk belanja di Bukabuku saja. Yang artinya saya percaya dengan toko buku ini setelah pemesanan pertama. Hanya saja kepercayaan saya terhadap Bukabuku dot com tidak lebih dari sebulan. Berikut capture sejarah transaksi saya:


klik untuk memperbesar

Kemudian pada pemesanan terakhir terdapat masalah. Setelah transfer tanggal 1 juli, buku baru dikirim sebagian pada 16 Juli (2 minggu lebih). Karena saya orangnya sebenarnya selow, saya santai saja. Yang penting buku sampai sesuai dengan pesanan, saya nggak masalah kalau terlalu lama. Toh, stok buku baru saya juga masih banyak yang belum terbaca.

Tak lama ada email pemberitahuan buku masih dalam masa tunggu. Ada pilihan untuk mengubah buku. Saya iseng-iseng mencobanya, ternyata dikenakan biaya ongkir tambahan sebesar 54 ribu. Jelas merugikan bagi saya.

Saya langsung menghubungi CS via email dan meminta pesanan kembali ke awal. Agar tidak dikenakan biaya tambahan. Tapi CS-nya mungkin kepalanya minta dijedutin ke tembok apa gimana ya, jawabannya bikin emosi ala jakasembung naik ojek, ga nyambung jek. Ini saya sudah agak emosi karena saya bilang saya batal ganti buku tapi CS-nya terus menceracau soal buku Harper Lee yang sebenarnya bukan pesanan saya.


klik untuk memperbesar

Kemudian tiba-tiba dari 4 buku pesanan hanya dikirimkan 2 saja. Saya langsung protes. Mereka bilang bukunya tidak ada. Padahal tidak ada pemberitahuan apapun sebelumnya. Buku dibatalkan secara sepihak tanpa persetujuan dari saya. Singkat kata saya minta REFUND.

Sebenarnya mudah menghitung refund karena hanya tinggal menambahkan harga buku yang tidak dikirimkan ditambah deposit saldo saya yang masih tersisa di Bukabuku. Sejumlah 85ribu. Tapi oh ternyata, CS Bukabuku dengan perhitungannya yang gaje bilang bahwa akan direfund sejumlah 36ribu saja. Saya kesel pemirsa… wekawekaweka… rasanya mau nggak dibalikin juga saya nggak peduli. Saya lelah dengan Bukabuku dan memutuskan untuk nggak akan lagi pesan di sana.

 
klik untuk memperbesar

Nah, barusan saya cek mutasi rekening ternyata ada transfer refund dari Bukabuku yes. Dan transferannya beda lagi, jadi 63ribu. Itu entah dari mana perhitungannya...

klik untuk memperbesar

Saya coba iseng browsing soal Bukabuku dan pelayanannya. Ternyata bukan cuma saya seorang yang mengalami pengalaman kurang mengenakkan ini. Jadi ya salah saya kurang teliti saja dalam memilih toko buku online terpercaya. Sebenarnya kejadian ini sangat disayangkan karena saya sempat berpikir akan terus pesan dari Bukabuku. Karena saya memang sangat butuh toko buku online selama saya tinggal di kota tanpa tokobuku ini. Semoga ke depannya pelayanan Bukabuku makin membaik yes~

Kalian ada rekomendasi toko buku online yang bagus nggak?


Salam,

Annesya

Wednesday, July 27, 2016

TENTANG SAAT INI

Holla...

I know i didn’t treat you well, Heartchime. I only come when I need you. So here I am, back to you with all my problems. But at least I always comeback to you.

Always.

Akhir-akhir ini sedang banyak masalah yang terus tertimbun kaya sampah. Masalah yang nggak bisa diceritakan ke orang lain. Kenapa? Because I know I am blessed. Karena saya tahu dari sekian banyak masalah yang datang, saya punya banyak hal yang patut untuk disyukuri. Hal itu membuat saya menahan diri untuk tidak mengeluh di hadapan orang lain. 

I’m still fine. 

So fine.

Tapi masalah tetaplah masalah dan saya butuh sesuatu untuk menyalurkannya. That’s the reason I’m here now. Kakak saya akan menikah bulan depan. Adik saya yang bermasalah dengan sekolahnya. Ditambah Mamas yang akan lanjut S1. Lalu kehidupan saya sendiri. Terlalu banyak yang ditanggung otak kecil saya. Dan saya mengeliminasi apa yang menurut saya tidak perlu.

Seperti membuang kanker.

image taken randomly from google

Tetap saja rasa sakitnya tersisa. Tetap saja meninggalkan akar bercokol dan bisa tumbuh lagi di masa depan. Masalah sejatinya seperti itu. Mereka seperti kanker. Butuh waktu lama untuk menghancurkannya. Butuh tahunan untuk melawannya.  Tahunan yang dilewati dengan rasa sakit dan harapan yang beberapa akan pupus dihantam realita.

Saat ini dengan kepala berdenyut nyeri saya menuliskan ini semua. Seandainya ada toko yang menjual kepala cadangan. Saya mau beli lima. Saya bongkar pasang saban migrane.

Saya ingin menyederhanakan masalah. Mengurai benang kusut. Menerjang waktu. Memberitahu diri saya sendiri di masa lalu: You should be happy now, you should be. Because future aren’t that good.
Saya barangkali hanya manusia biasa yang melewatkan bentuk-bentuk kebahagian begitu saja. Lupa bagaimana bahagia. Setelah masa itu terlewati saya barulah menyadari “that’s the happiness. Saya melewatkannya begitu saja”.  Barangkali saya seperti kebanyakan orang.

Saya ingin sekali berkata pada diri saya sendiri pada masa ini: Kamu seharusnya bahagia. Sekarang. Saat ini. Tidak besok, tidak lusa, tidak di masa depan. Bahagia adalah tentang saat ini.

Jangan

melewatkannya


lagi.   

Follower