TENTANG SI CHIMER

Wednesday, January 21, 2015

KETIKA KAU BEGITU MENCINTAI SESEORANG

Ketika kau begitu mencintai seseorang, kau tidak akan pernah bisa merasakan rasa sakitmu sendiri -- Muse, Devania Annesya, on page 129

Editor saya bilang naskah saya, MUSE, begitu berjiwa, sampai-sampai ia mengira itu adalah pengalaman nyata saya. Saya dengan tegas berkata tidak, tapi sebenarnya setiap penggal kata, pemikiran, dan rasa yang saya hadirkan dalam novel-novel saya adalah murni dari hati saya. Bukan cuma kata-kata indah yang tidak ada artinya. Bukan cuma kata-kata indah yang diciptakan seorang novelis untuk merebut hati pembacanya. Kata-kata itu lahir dari hidup saya.

Tadi pagi adik laki-laki saya, yang biasa saya panggil mamas, memasang status bbm: Pengen cepat-cepat kerja :D

Saya langsung menanyakan alasan di balik status itu. Adik saya menjawab karena ia ingin lekas punya uang sendiri dan bisa menraktir teman-temannya.

Saya jawab, kakak walau sudah kerja juga ga bisa sering nraktir teman-teman. Uang kakak ngepres. Ngapain cepat-cepat kerja? Kuliah kan enak, punya banyak teman, dinikmati saja dulu, jangan keburu-buru.

Adik saya kemudian melemparkan alasan lainnya: Lha iya, kak, kalau aku cepat kerja kan aku jadi ga perlu minta duit sama mami dan kakak. Duit kakak bisa ga ngepres lagi.

Di situ saya jadi pengen nangis. Saya tahu saya nggak bisa kasih uang lebih buat adik saya. Saya cuma memberi semampu yang saya bisa. Saya dan kakak saya yang bertindak sebagai tulang punggung keluarga berusaha semaksimal yang kami bisa. Meski begitu, saya dan kakak saya sepakat akan menguliahkan adik-adik sampai minimal sarjana.

Adik saya menambahkan: pengenku ya, begitu lulus d3 langsung kerja aja kak.

Saat itu saya langsung menjawab bbm sambil sedikit emosional: kakak kasihan sama kamu, mas, d3 dan s1 di tempat kerja itu kerjanya sama-sama berat, tapi gajinya jauh lebih besar s1. Kakak maunya kamu s1 dulu baru kerja!

Adik saya masih mbandel: pengenku sih kuliah sambil kerja hehehe

Saya langsung menukas: terserah, pokoknya habis d3 ya s1, mau kamu s1 cuma weekend, terus kerja, ya gapapa.

Adik saya menjawab: ya, mana ada, kak?

Saya: yaudah gapapa. S1 aja. Kuliah yang bener.

Adik saya akhirnya mengiyakan.

Saya jadi nangis beneran. Orang lain mungkin melihat saya dengan kasihan karena kondisi ini, tapi sebenarnya saya bersyukur memiliki adik-adik. Mereka adalah ladang ibadah saya. Saya tidak mau kehilangan mereka. Mereka bukan beban, seperti yang mereka kira selama ini. Saya ingin mereka tahu, mereka kekuatan saya.

Follower