TENTANG SI CHIMER

Wednesday, June 18, 2014

DISINDIR DI MEDIA SOSIAL?

Lagi asik-asik ngobrol ini itu, tiba-tiba nemu status yang nyindir tindakan kita. Pasti pernah mengalaminya kan? Saya sering. Lagi promo novel yang baru liris di twitter, tiba-tiba ada yang nge-tweet yang isinya bilang: nerbitin novel di penerbit mayor itu terlalu gampang, jadi kualitas terbitannya pun ecek-ecek. Mendingan self publisher karena pendapatannya bisa berpuluh juta.

Dia online di jam yang sama dengan saya. Dia menulis tweet di waktu yang sama dengan saya promo novel.

Tindakan saya?

Diam aja. Ngapain diurusin? Dia menulis tweet itu dengan maksud saya tersinggung. Dan saya tidak mau merasa tersinggung. Tersinggung hanya untuk orang yang berjiwa lemah.  Saya tahu benar bahwa menerbitkan indie penghasilannya tidak sebanyak yang ia ucapkan. Karena saya juga pernah berurusan dengan penerbit indie.

Lalu, saya lagi ngadain giveaway. Tiba-tiba ada status facebook menyatakan: bikin giveaway sih asik, tapi kalau syaratnya sesulit itu, apa cukup berharga?

Tindakan saya?

Cuekin aja. Namanya juga giveaway buat seru-seruan. Ngapain tersinggung? Kalau dia ga suka ya ga usah ikut. Ga ada yang maksa.

Kasus terbaru, di salah satu media sosial, ada teman penulis promo novelnya dengan mengetag banyak orang sekaligus. Lalu ada salah satu teman penulis lainnya menulis status: promo dengan menge-tag sejuta umat itu sungguh tidak elit.

Yang biasa promo buku dengan mengetag sejuta umat, tersinggung, dia menulis status dengan menjawab sindiran tersebut dengan menge-tag orang-orang. Dia bilang betapa pentingnya promo bagi sebuah buku. Dikomen oleh sejuta umat dan disaksikan pula oleh sejuta umat.

Kemudian saya miris melihat fenomena tersebut. Pertengkaran kecil seperti itu kan sebenarnya bisa dihindari. Dengan cara saya, cuekin. Kalau ada tag yang saya ga suka, tinggal di-remove.

Sindir menyindir no mention itu bagi saya tindakan yang kekanak-kanakan dan pengecut. Namun kita memang tidak bisa memaksakan kedewasaan orang lain. Jika tingkat kedewasaannya masih sebatas itu, yam au bagaimana lagi? Yang lebih dewasa ngalah.


Bukan berarti saya sudah cukup dewasa dalam berpikir. Kadang saya juga masih melakukan kesalahan. Oleh karena itu, saya menulis post ini sebagai pengingat. MUDAH TERSINGGUNG HANYA UNTUK ORANG BERMENTAL LEMAH. #ngomongKeDiriSendiri

5 comments:

  1. Aku sering.... dimaki-maki a la nomention di twitter tiap abis jawab pertanyaan dosen. Katanya "pinter, sih, tapi..." atau "yang pinter jangan sombong"

    Aku sih... Sama, nggak aku tanggepin. Paling abis baca langsung nangis dipojokan #EAAAAAA

    ReplyDelete
  2. halah biarin mbak, sosmed ya itu udah gak ada privasi lagi, biar aja kafilah berlalu anjing masih tetap menggonggong. nah loh.
    eits, kalau gitu aku mau nyindir mbak anes di mukabuku ah. ahahahaha

    ReplyDelete
  3. saya sepakat dengan tindakan yang mengabaikan apapun pendapat orang mengenai kita yang sifatnya mengejek, menghina bahkan berusaha menjatuhkan...ini bukan masalah kedewasaan..namun bagaimana kita bisa mencegah sesuatu agar tidak menjadi pertengkaran yang tidak berujung...tanpa penyelesaian...
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
  4. kalo saya sich mending cuekin saja mbak :)

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower