TENTANG SI CHIMER

Thursday, May 29, 2014

KEINGINAN YANG BERMETAMORFOSA

Jujur sampai sekarang, kalau aku mah, selama di-ACC, dapat revisi juga nggak apa-apa. Tapi apa daya, jawaban yang selama ini ada itu hanya duaa: diterima atau ditolak. Dan lebih serignya ditolak sih. -_- Kalau aku jadi kamu sih, maaf lho yah, nggak apa-apa deh dapat revisi, walau harus mengubah esensi ceritanya. Coz... aku udah nunggu lama banget buat bisa nerbitin novel. Hahaha... Seriusan nih. :D

Dalam posting saya sebelumnya, Immanuel komentar seperti di atas. Komentar itu menggelitik masa lalu saya. Dulu saya juga punya pemikiran sama seperti Nuel tapi lucunya sekarang sudah bertubah. Di sini saya mau sharing sekaligus menjadi catatan pribadi.

Jadi begini, pada awalnya, saya juga tidak seperti ini. Dulu saya akan melakukan apa saja agar naskah terbit. Sekarang tidak lagi sama. Dulu saya menulis untuk mendapat uang. Sekarang, saya punya pekerjaan yang bisa menghidupi saya. Uang menjadi prioritas yang tidak lebih tinggi dari idealisme. Keinginan saya pun berubah. Saya tidak lagi mengirim naskah ke penerbit sembarangan.

Saya mulai mengumpulkan informasi penerbit mana yang memperlakukan naskah secara baik, membayar royalty tepat waktu, publikasi yang baik, dan display buku di toko buku. Saya mulai memperhitungkan itu semua, karena keinginan saya saat ini masih dalam tahap mencari pasar, menciptakan orang-orang yang akan memburu karya-karya saya.

Kemudian, saya memburu kepuasan batin. Di kehidupan sehari-hari saya berangkat kerja jam tujuh pagi pulang jam tujuh malam. Ketika pulang, saya melepas topeng saya, dan menjadi diri sendiri. Duduk di depan laptop dan menuangkan pikiran. Saya hanya menerima revisi yang tidak mengubah esensi cerita. Adalah hak penulis untuk mempertahankan idealismenya dan menerima resiko dari idealismenya tersebut. 

Dalam kasus saya, saya menarik naskah meski saya sebenarnya kesulitan “menjual” naskah tersebut. Saya yakin akan ada yang menerima naskah saya tanpa mengubah esensinya. Saya mengambil resiko itu. Saya tarik naskah, saya revisi sendiri, lalu saya kirimkan ke penerbit yang tak kalah bagusnya (atau lebih bagus dari penerbit sebelumnya). Menulis butuh keyakinan yang besar pada diri sendiri, menurut saya.

Bagaimana mungkin kepuasan batin saya terpenuhi kalau saya bahkan tidak bisa mengenali naskah saya sendiri? Kalau saya mengikuti keinginan penerbit begitu saja, ternyata buku saya gagal di pasaran, saya akan sangat menyesal. Tapi kalau saya tetap menjaga idealisme saya, ketika buku itu gagal di pasaran, saya tidak akan menyesal sedikitpun.

from we heart it
Saat ini keinginan saya masih sampai pada tahap tersebut. Seiring berjalannya waktu, keinginan saya juga pasti akan bermetamorfosa lagi. Saya rasa itu manusiawi. Keinginan yang terus tumbuh ketika keinginan-keinginan sebelumnya sudah terpenuhi. Keinginan-keinginan yang menuntut kerja keras dan ketekunan. Jadi, Nuel, sesederhana ini jawaban saya, keinginan saya bermetamorfosa. :)

10 comments:

  1. Dan itulah mengapa aq g terlalu suka revisi, maksdnya yg keluar dr siapa aku

    ReplyDelete
  2. Dan itulah mengapa aq g terlalu suka revisi, maksdnya yg keluar dr siapa aku

    ReplyDelete
  3. apapun, saya ingin belajar dari Mbak Annesya tentang bagaimana tips menembus penerbit. udah pernah diposting belum ya Mbak tentang tips ini?

    ReplyDelete
  4. hehehe btw, novelmu udah kubaca. yg X itu lho...

    ReplyDelete
  5. kalau untuk saya sendiri sih, yang penting tetap menulis mbak, meski keinginan tetap bermetamorfosa yang penting tetap mempertahankan jati diri. haiizz, ngomong opo toh aku iki. wkwkwk.

    ReplyDelete
  6. Oh gitu. Oh jadi komen yang dijawab pake postingan cuma buat nuel aja? Oh. #apaansihnda XD

    Aku kaya kamu sih. Lebih mementingkan kepuasan batin. Aku pengen pembacaku nikmatin buah pikiranku. Bukan buah pikiran aku yg disesuain sama buah pikiran orang lain ._.v

    ReplyDelete
  7. Tersanjung ane, jadi bahan postingan seorang novelis hebat macam kamu. Hahaha... Nice. Jujur gue juga sepandangan sih. Plus gue juga nggak 100% idealis. Kadang bisa realistis, kadang bisa idealis juga. Tergantung situasi dan kondisi juga. =D

    ReplyDelete
  8. Saya juga seperti itu, sekarang memikirkan naskah akan dikirim ke penerbit mana. Sesuai genre yang saya suka atau tidak. Awalnya 2013 lalu, saya hanya mengirim ke penerbit yang besar, akhirnya naskah ditolak.

    Terimakasih atas postingannya kak :)

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower