TENTANG SI CHIMER

Saturday, March 29, 2014

THE RAID 2: BERANDAL

Habis nonton The Raid 2: Berandal sama dua bebeb-friends, alias dua temen: Anggik dan Sonny. Diputernya jam setengah sepuluh. Malam banget. Tapi gimana lagi jadwal puter The Raid-nya yang ga nabrak jam kantor ya jam segitu.

The Raid adalah sebuah kepercayaan bahwa Indonesia bisa bikin film berkualitas tanpa harus mempertontonkan hantu dan roman picisan. Pertama kali The Raid keluar, saya underestimate, tapi setelah nonton (di laptop -__-“), saya cuma bisa bilang: Wow! Amazing, I gotta watch this sequel!!! No matter what!

Jadi pas The Raid 2 nongol, saya langsung nonton di bioskop sebagai salah satu bentuk apresiasi atas karya yang dibuat dengan baik. The Raid 2 menceritakan Rama yang kehilangan kakak dan identitasnya karena aksinya di The Raid yang pertama. Untuk itu ia menyamar sebagai Yoga untuk mendekati Uco (anak mafia besar di Jakarta, Bangun). Tujuannya adalah untuk memberantas otak di balik mafia-mafia tersebut dan membalas dendam pada pembunuh kakaknya, Bejo,

Oke, apa yang membuat The Raid berbeda adalah tempo. Sutradaranya pintar memainkan tempo kapan ketegangan ditingkatkan kapan harus diturunkan sehingga menciptakan efek thrilling yang oke. Memang dalam urusan plot, The Raid masih banyak lubang. Entah itu, aneh bro, kok ini mafia ga ada yang bawa pistol dan ngeliatin aja Iko Wais mukul-mukul. Tembak jeder, kan, beres, bro! Tapi kemudian otak saya bicara: bro, kalau langsung jeder mana seru? Mana ada ceritanya. Oh iya… ya udah lah nonton ga usah mikir. Terus bro, jalanan Jakarta kok bisa sepi gini ya, bro, dipake kebut-kebutan lucu. Mana jalanan Jakarta tuh sempiiit yang dipake balapan, hahaha (nonton sambil ketawa #gagalfokus).

Ada lagi lubang yang paling kentara, ada adegan turun salju. Salju, bro! Salju! Sementara di latar belakang ada warung makanan bertuliskan: Lomie Ayam, aneka masakan. Brooo!!! Ini di Indonesia? Jakarta hujan salju!!! Syalalala… #gagalFokus

Oh ya setting tempat penjara dan lain-lain masih kurang original. Setting penjara mirip penjara Prison Break (baik itu penjara, toilet, ruang menerima tamu, sampai ruang makan), dan lain sisanya, mirip setting video games. Tapi ini bukan masalah yang berarti sih. Sebab saya menghargai proses imitasi sebagai metamorfosa menemukan ciri khas diri.

Saya suka dengan selipan mafia Jepang di sini. Mereka memberi warna tersendiri. Saya suka sama bos mafia Jepangnya, aktingnya bagus. Cuma pas dia bilang “semua bisa diatur” aneh, kelihatan lucu, malah bikin ngakak, bukannya ngeri. Anaknya terlalu unyu buat jadi mafia, mending dia bikin boyband #gagalFokusLagi.

terlalu unyu buat jadi mafia

Saya juga suka dengan tokoh mas baseball (kesiniin bolanya! Jdies!) dan mbak Palu alias Jullie Estelle. Tapi somehow, saya merasa Jullie masih bisa digas pol di sini, karena kemunculannya masih memunculkan kesan “film drama”, gerakannya kurang mantap. Tapi yang jelas, pas Jullie mati, cowok sebioskop melenguh: yah, sayang, barang bagus #merekaGagalFokus. Kemunculan Marsha Timothy malah memunculkan kesan comedy romance. Ah embuhlah, sak karepmu…

mbak Jullie bikin ga fokus, antara lihat aksinya sama mau ngintip dalemannya. Dia beraksi pakai rok soalnya. Mana bening pisan -___- 

Setting tempat balapan dan komputerannya kurang halus.

Arifin Putranya ganteng. Sebagai salah satu tokoh sentral, karakter yang ia mainkan sebagai Uco adalah karakter yang sangat menarik. Anak mafia yang haus akan pengakuan dan pencapaian. Sedikit sinting. Walau sudah dimainkan dengan baik oleh Arifin Putra, saya merasa masih kurang. Dalam banyak adegan, saya berharap Arifin melakukan like bang! Atau sesuatu yang membangkitkan geliat emosi. Uco adalah tokoh yang sangat emosional. I wish he could do more than this.

Berbeda dari karakter Uco yang sangat menarik namun kurang menancap di hati, karakter Bejo malah menangkap perhatian saya. Dengan kaos tangan hitam dan tongkat. Olah suaranya juga bagus. Dia muncul di awal dalam adegan pembuka and yes, he captivates me until the end.

i looooovveeee Bejo 

Terlepas dari plot hole dan kekurangan, The Raid 2: Berandal membuat saya menjerit, tertawa, dan pingin muntah. Temponya oke. Aksinya keren. Dan, ya, saya memuji humor di sini. Humor yang menyatukan dunia mafia dengan dunia keseharian kita. Setelah nonton The Raid saya pengen jualan kaca buat dijual ke mafia-mafia itu. Pasti mereka butuh banget renovasi kan yah. Oh ya, di film The Raid 2 saya menemukan tokoh-tokoh baru yang menarik, yang sebenarnya berpotensi untuk digali kisah hidupnya menjadi sebuah film sendiri.

dua tokoh yang berpotensi dibikinin film sendiri: mas baseball dan mbak palu.

Saya mempersiapkan diri untuk The Raid 3. Semoga mereka lekas membuat sekuel yang sama kerennya atau… lebih keren lagi!!! Setiap orang punya batasannya… ehcie… kebayang-bayang quote itu saya #nyemplungTambaknyaBangun (isi batu yang banyak!)


ini adalah scene yang paling breath-taking! Begitu scene ini berakhir, seluruh gedung bioskop bertepuk tangan. Dan saya baru ingat, kalau saya lupa ga ngambil napas. 

Selamat menonton teman temin,
ANNESYA



4 comments:

  1. Aku malah belom liat The Raid pertama, jadi penasaraaan. Arifin Putra ganteng parah sik. Oiya bloopernya lagi, itu yang adegan palu-paluan di kereta listrik. Di sini kan ga ada kereta bawah tanah tapi di film di luar kereta gelap cuma ada lampu gerak wkwkwk lucu ajaaa

    ReplyDelete
  2. mak mau main pilem horor
    kuntilanak main gayung
    pemeran utama
    jadi kuntilanaknya
    ikikikkkikkk

    ReplyDelete
  3. belum nnton... pengen nnton, tapi waktu itu harus milih antara divergent atau ini... jadi saya menetapkan hati untuk nnton divergent aja, soalx theo rawwrr banget... tatonya itu loh... #eh #salahfokusjuga

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower