TENTANG SI CHIMER

Saturday, March 22, 2014

ANGIN KOSONG

Setelah sekian lama, akhirnya kita berada di sini, duduk berhadapan dengan sepiring iga bakar yang sudah habis. Bagaimana aku bisa memulai semua ini? Bagaimana aku bisa berpura-pura tidak tahu ketika aku berulang kali menangkap matamu yang menatapku dengan memuja? Aku merasa jadi brengsek.

“Jadi… gimana soal kemarin?” aku memulai.

Kamu tampak tercekat. “Ya, itu jelekku. Aku gampang marah.”

“Apa ada yang kurang jelas… soal yang kusampaikan kemarin?”

“Ya, dari awal aku sudah tahu kita ga mungkin akan ke mana-mana. Aku cuma suka jalan sama kamu.”

Dari sisiku, aku cuma tidak mau terlalu melukaimu. Walau pada akhirnya aku tetap saja melakukannya. Aku, si brengsek yang setiap kata yang kuucapkan hanya akan terdengar brengsek. Setiap kata yang kukeluarkan hanya akan jadi angin kosong yang tidak berarti.

“Bagiku, kamu spesial. Cowok yang mendapatkanmu sangat beruntung.”

“Haha, sekarang aja kamu bilang gitu! Ntar begitu ketemu jelekku juga ga bakal bilang gitu!” aku berusaha melucu.

”Nah itu, aku belum nemu jelekmu.”

“Jelekku banyak! Cuma kamu aja yang tutup mata.” Aku masih berusaha tertawa, tawa memaksakan sebenarnya.

“Seharusnya kamu jahat sama aku. Biar seperti orang jatuh, sekalian aja diinjak terus didorong masuk jurang.”

Aku menelan ludah dan menatapnya sungguh-sungguh. “Kamu mau aku seperti itu? Kalau kamu benar mau, aku ga apa-apa.” Ujarku. Sebenarnya aku ingin berusaha meringankan rasa sakitmu dan juga rasa bersalahku. Aku akan melakukan apapun.

Kamu menggeleng. “Kita berteman saja.”

Kamu dengan gugup memotong-motong timunmu. Aku dengan gugup mengaduk-aduk es campurku. Kamu tidak tahu betapa merasa brengseknya aku. Dan aku mungkin tidak akan pernah tahu betapa terlukanya kamu. Kita sama-sama tidak tahu. Atau mungkin, kita hanya sepakat tanpa suara, untuk pura-pura tidak tahu.

“Aku berusaha mengalihkan padanganku tapi setiap hari aku ketemu kamu dan melihat kamu. Sialnya, setiap hari kamu semakin terlihat…,” kata-katamu menggantung.

“Apa kita sebaiknya ga usah bicara?” potongku. Aku tidak ingin mendengar lanjutan dari kata-katamu. Aku terlalu egois.

Kamu lagi-lagi menggeleng. “Kita berteman saja.” Kamu menghela nafas. “Menyukai bukan berarti memiliki kan?”

Itu kata-kata basi sebenarnya, tapi, entahlah, aku yang biasanya tidak mempercayai itu tiba-tiba mempercayainya. Kita beranjak pergi dengan perjanjian itu. Kita berteman saja. Berteman. Sebagai teman yang baik kamu mengantarku pulang. Sekali lagi, sebagai teman. Digarisbawahi dan dipertebal.

Kamu memastikan aku sampai masuk ke balik pagar. Aku sekali lagi harus berakting pura-pura tidak tahu, harus berakting dingin, dan tidak terlalu bersikap manis padamu. Akting yang kuharap membuatmu tidak terlalu terluka. Aku benci berada dalam posisi ini. Aku benci berada dalam posisi yang harus menyakiti orang sebaik kamu.

Aku sebenarnya ingin bilang terima kasih. Terima kasih karena repot-repot menyukaiku yang aneh ini. Terima kasih karena sudah menyukaiku dengan cara yang begitu baik dan begitu berbeda. Terima kasih karena sudah mau terluka karena menyukaiku. Terima kasih.

Namun, ucapan terima kasih ini hanya akan menjadi angin kosong kan? Tidak berarti dan tidak akan mengubah apapun. Jadi aku memilih menelannya di pangkal kerongkongan.


ANNESYA

Follower