TENTANG SI CHIMER

Wednesday, February 19, 2014

1 WHITE LIES: PROLOG

Honestly, saya sudah rindu menulis cerita bersambung. Rindu. Rindu serindu-rindunya.
Tapi memang sih kantor lagi tidak bersahabat.
Jadi cerita kali ini, semoga bisa tamat hingga ending.
Aamiin. Mari sama-sama berdoa ya... #cipokSatu2
Btw, cerita bersambung "X: Kenangan yang Berpulang" sudah beredar dalam bentuk eksemplar di toko-toko buku kesayangan kalian. Please kindly looking on to new released novel yah...

***
Apa yang lebih buruk ketika tubuh manusia digerogoti oleh penyakit yang tidak bisa disembuhkan? Tentu saja, ada yang lebih buruk dari itu semua. Yaitu detik di mana dokter memvonis umur seorang pasien tidak akan lebih lama dari setengah tahun. Flora mengalaminya saat ini.
Begitu vonis untuk mamanya jatuh, ia keluar dari ruangan dokter, dan menangis terisak-isak di tangga darurat rumah sakit. Pemandangan seperti itu bukan hal yang tidak biasa. Puluhan atau mungkin ratusan orang di rumah sakit ini mengalaminya. Titik balik ketika manusia dihadapkan oleh ancaman kehilangan.
Sudah hampir satu jam lamanya ia menangis, matanya mulai terasa perih dan kering. Lengan bajunya basah oleh air yang keluar dari mata dan hidungnya. Tiba-tiba Flora merasa dirinya sangat tidak bisa diandalkan. Di saat sulit, seharusnya ia mampu menguatkan mamanya. Bukannya malah menangis di tangga darurat. Anggota keluarga Pambudi tidak boleh cengeng sepertinya.
Flora bangkit dan melap wajahnya dengan telapak tangan. Ia merapikan kuncitan rambutnya dan membalikkan badan. Namun ternyata di tangga teratas, seseorang berdiri, dan menatapnya dengan ekpresi datar. Vivaldi, saudara angkatnya. Vivaldi yang tidak punya emosi. Bahkan ketika mama divonis tidak akan berumur panjang, laki-laki itu sama sekali tidak meneteskan air mata.
Tubuh besar Vivaldi tampak semakin menjulang. Flora menatap saudara laki-lakinya itu dengan malu. Vivaldi pasti cukup lama mengawasinya menangis seperti bayi. Vivaldi membuka mulutnya seperti hendak berkata sesuatu, namun ia bungkam lagi. Vivaldi sangat jarang berbicara. Ia tidak pernah bicara padanya. Sejak kecil, Vivaldi sepertinya membencinya.
“Ayo, pulang sekarang!” Vivaldi membalikkan badan dan melenggang pergi melalui pintu besi tangga darurat. Ia sama sekali tidak menunggu jawaban dari Flora.
Flora  menghela nafas panjang dan mengikuti Vivaldi dari belakang.

***

1 comment:

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower