TENTANG SI CHIMER

Monday, December 23, 2013

BAGAIMANA AGAR KARAKTER NOVEL YANG DICIPTAKAN MENGENA DI HATI PEMBACA

Bagi saya karakter tokoh utama adalah penentu plot dalam cerita. Sebab karakter seseorang dan cara ia menghadapi sebuah konflik akan mementukan jalan cerita itu sendiri. Saya adalah tipe orang yang tidak memaksakan diri dalam menciptakan sebuah alur cerita, saya biarkan karakter saya menemukan endingnya sendiri.

Oleh karenanya saya kadang terkejut dengan hasil ending dalam cerita saya. Seringnya rancangan ending saya meleset. Dalam memulai sebuah cerita saya hanya menentukan tema yang diangkat, konflik utama, cerita secara garis besar, dan karakter.

Saat ini saya mau ngobrolin soal karakter dulu. Kesalahan penulis pemula dalam menciptakan karakter biasanya adalah dengan menjelaskan karakter melalui narasi. Contoh:
Nita adalah orang yang baik. Dia suka menolong teman-temannya. Dia juga punya senyum yang manis dan hati yang sebaik malaikat.
I would say NO. It's gonna be better if:

Nita menatap Lisa yang terjatuh dari kursinya. Tubuh Lisa terkulai begitu saja. Semua orang menatap Lisa dengan bingung. Mereka ingin menolong namun takut akan tertular penyakit panu kronis yang diderita Lisa selama belasan tahun. Namun Nita adalah gadis yang berhati lembut. Tanpa memikirkan ia akan tertular panunya Lisa, ia membantu Lisa bangkit, dan menggotongnya ke Ruang Kesehatan.
Teknik show not tell ini sudah populer banget. Selain membuat pembaca merasa tidak didoktrin, teknik ini akan membuat cerita lebih menarik dan tidak membosankan.

Selain itu ada beberapa cara agar karakter utamamu mengena di hati pembaca:
1. Munculkan dia di awal. Semakin cepat pembaca mengenalnya, semakin baik.
2. Munculkan karakter utamamu dalam adegan menggebrak yang unforgettable.
3. Karakter utamamu harus memiliki kelebihan fisik/sifat yang membuatnya menarik dan layak dicintai.
4. Karaktermu harus "manusiawi" atau terjangkau oleh pembaca. Dia harus memiliki kelemahan. Entah itu kelemahan secara fisik maupun mental. Biasanya di poin ke-4 ini semakin penulis pandai mengoreknya, semakin pembaca merasa simpatik kepada tokoh utamamu.

Selamat mencoba dan semoga sukses. Menulis tidak harus dari orang yang berpendidikan tinggi. Saya kenal seseorang yang hanya lulusan SMA dan bekerja sebagai tukang mie namun dia punya banyak buku. Saya juga kenal tukang jual bawang dan novelnya laku.

Saya ga ada apa-apanya dibanding mereka.

Mereka adalah inspirasi yang baik. Dicontoh ya...

10 comments:

  1. huakakakakakk... panu kronis !!! XD

    ReplyDelete
  2. suka tampilan yg dulu, lebih berkelas. :(

    ReplyDelete
  3. sepertinya butuh suatu penghayatan dan juga perasaan yang mendalam ya mbak agar bisa bener-bener mengena karakter nya :)

    ReplyDelete
  4. Oh gitu Tipsnya. Tapi masalahnya setiap orang kan beda pemikiran. takutnya ada pandangan negatif dari apa yang pernah kita tulis.
    ya setiap orang kan ada kelebihan dan ada kekurangannya.

    ReplyDelete
  5. tapi masih mending mbak'e, situ masih punya rangka kalau pas mau memulainya.. lah saya, tiap buka laptop aja bingung mau nulis apa.
    hehehe (-.-")?

    ReplyDelete
  6. Mba Nesya.. menggebrak tu contohnya kayak gimana, tulisanmu selalu bagus :D

    ReplyDelete
  7. Sama kayak aku juga.... Aku juga seringkali kaget karena endingnya di luar harapan aku.... Hahahha... Dan itu cukup memuaskan. :D

    Benar sekali. Kalau soal karakter, setting, dan segala pembentuk imajinasi pembaca, baiknya itu nggak langsung diceritakan. Clue-clue-nya disebar aja. Dan biarkan seperti potongan puzzle, dimana pembacalah yang berusaha merangkainya. Tapi faktanya, novel-novel yang beredar, kebanyakan terlalu deskriptif. Jarang banget yang mengutamakan alur.

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower