TENTANG SI CHIMER

Saturday, November 16, 2013

KISAH GELAP (part 1)

Aku pertama kali jatuh cinta padamu…
                Ah, kapan itu ya? Aku sudah lupa. Aku hidup terlalu lama denganmu dan selama itu pula kau mengabaikan aku.
Tidak adil?
                Hidup memang bukan pengadilan. Kita tidak bisa menuntut hidup untuk membenarkan yang benar. Hidup berjalan sebagaimana mestinya, berputar tanpa ujung, dan perasaan ini kian menggantung.
                Punggungmu bersandar pada dadaku, kau menghela nafas. Andai aku bisa merasakan apa yang biasa tak sengaja kubaca pada novel romantis tentang jantung yang berdebar karena bahagia. Andai aku bisa merasakan deskripsi seperti merasakan lekuk tubuh hingga wangi aroma tubuhmu. Ah, tapi tidak. Aku tidak mencintaimu karena masalah sesepele itu. Rasa cintaku jauh melewati batasan fisik.
“Aku lelah.” Katamu. “Aku lelah terus berusaha. Sampai kapan aku harus terus berjuang sementara orang-orang seperti mereka,” kau berdecak gemas, “hidup berkecukupan dengan melakukan hal-hal jahat.”
                Kau sudah lama mengeluhkan tentang hidupmu padaku. Aku sudah lama mendengarkanmu. Bukan. Aku sudah lama menyaksikan perjuangan hidupmu. Kau berjuang sangat keras. Sejak duduk di sekolah dasar kau belajar mati-matian meraih peringkat pertama. Bagimu prestasi akademis adalah sebuah pertarungan untuk mempertahankan beasiswamu.
                Kau seperti itu. Kau bercahaya karena impianmu. Mimpimu untuk merubah nasibmu menjadi lebih baik. Mimpimu mengangkat derajat kedua orang tuamu yang hanya buruh menjadi seseorang dengan tingkat status sosial yang lebih tinggi.
                Pintu kamar mandi berderit terbuka. Seseorang masuk. Kau berdiri tegak dan berlagak merapikan spanmu. Padahal kau ke kamar mandi tidak karena ingin buang air kecil. Kau hanya mencari ruang untuk “bernafas”.
Wanita dengan cepol sangat tinggi di puncak kepalanya mirip unta betina berjalan congkak. Kacamatanya berujung lancip, lipstiknya merah culas, dan centimeter hak sepatunya tidak wajar. Sesuatu tak wajar dengan penampilannya.
Wanita itu mengabaikan kamu. Dia menghadap cermin dan tersenyum. Dia baru saja memasang secuil berlian di sela-sela giginya. Itu adalah tanda status sosialnya meningkat. Seniornya di kantor. Auditor yang terkenal piawai mengotak-atik laporan keuangan perusahaan. Dia adalah alasanmu mengucapkan kata-kata keluhan yang kubenci.
“Sudah kamu benerin itu laporannya?”
Benerin? Itu fraud namanya!, kau membatin jengkel. Namun garis bibirmu kini sudah mulai lihai melengkungkan senyum artifisial. “Iya, Bu, akan saya benarkan segera. Nanti sore saya bawa hasil auditnya ke meja Ibu Siska.” Jawabmu.
Ibu Siska menatapmu dari cermin dan berkata dengan nada datar. “Kamu, Rianti, jangan terlalu idealis. Di mana-mana kerja ya seperti ini, ga melulu harus mengikuti aturan. Kamu harus bisa luwes. Kebanyakan orang baru ya kaya kamu gini, terlalu idealis. Akhirnya apa? Baru masuk kerja beberapa bulan, udah keluar, alasannya ga cocok. Padahal nanti di tempat kerjamu yang baru juga sama aja!“
Kau. Bukan cuma sekali kau mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang menyiratkan bahwa menjadi idealisme adalah sebuah keburukan. Kau tahu kau bukan tipe orang yang hidup karena idealismemu. Kau selalu melakukan hal yang benar selama ini. Kau selalu meraih pencapaianmu dengan kerja kerasmu. Aku harap kau tidak pernah menyerah menjadi sepertimu. Jangan biarkan hidup merubahmu.
Wanita culas itu berlalu.
Kau menatap bayanganmu sendiri di cermin. Kau membatin tentang pencapaianmu selama ini. Kau membatin apakah kerja keras selama dua puluh enam tahun kau hidup di dunia akan berakhir sia-sia. Kau meraba bayanganmu di cermin toilet, ada kerutan di bagian mata yang kian jelas dari waktu ke waktu.
Dulu, dalam bayanganmu, kau akan menua bersama kesuksesan. Dalam bayanganmu, kau akan cukup mapan di usia dua puluh enam sehingga kau bisa melakukan treatment untuk menjaga kecantikan wajahmu. Namun hidup membawamu pada kenyataan bahwa gaji yang kau dapatkan tidak mencukupi untuk memenuhi impian-impianmu di masa lalu. Kau menua. Impianmu pun kian menua.
Ah, tidak, entah kenapa aku merasa akan ada sesuatu yang buruk dari caramu menatap bayanganmu sendiri. Aku tidak pernah melihat tatapan seperti itu sebelumnya memancar dari matamu. Tatapan dendam, sedih, dan kecewa.
Ketika impian terbentur realita, bukankah seseorang akan berubah?

***
(berlanjut ke part 2)

7 comments:

  1. Idealis mgkn terkesan sombong.
    Idealis mungkin akan luntur karena realitas yg ada.
    Smoga sih idealisku gak luntur begitu saja
    *KomenApaIni???

    ReplyDelete
  2. "Ketika impian terbentur realita, bukankah seseorang akan berubah?"

    Iya, IYAAAAAAA BANGET! >.< hiks

    Btw, ini calon novelkah? Hihihi ^^

    ReplyDelete
  3. bakal ada cerita baru lagi nih di blogx tante seksi... asyik ^_^

    ReplyDelete
  4. sudut pandangnya piye toh iki mba? hehehe
    keren keren lah
    kangen sama ceritamu mbaa :D

    ReplyDelete
  5. aaaaah.....
    temanya umum tapi tulisannya apik banget :')

    lanjut batja part 2~

    *aniwei, makasih buat doanya mbak nesyaa :D

    ReplyDelete
  6. ah empong mulai memasuki dunia auditor....
    tapi auditor disini maksudnya akuntan publik?

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower