TENTANG SI CHIMER

Friday, August 3, 2012

BUMI, BULAN, DAN TELAGA

autors: sweety29 welcome to my world.
pict from VisualizeUs

Kau terhenti. Tergagu kau bertanya. Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku. Yang pasti kau tak menatap tepat ke arahku.
“Siapa… kamu?”
Namaku bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis.
Namaku bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap.
Namaku telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu.
“Untuk apa?”
Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma.
Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu.
Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin.
“Aku tak mengerti.”
Itu bukan pertanyaan maka aku tak bisa menjawabnya.
“Aku tak mengerti,” kau mengulangi.
Itu pernyataan dan aku tidak bisa memberi tanggapan.
“Aku tak mengerti,” kau mengulangi, lagi dan lagi.
Kau kembali berjalan.
Aku kembali diam.
Kita tak lagi berbincang.
Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu.
Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi.
Kita masih melakukan hal yang sama.
Masih berada di tempat yang terpisah.
Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku.

Annesya

14 comments:

  1. wow, tulisannyaa baguuuuuus <3

    ReplyDelete
  2. salut sama si mba ini :)
    tulisannya selalu membawa saya masuk kedalamnya :3

    ReplyDelete
  3. aihh.. :(

    tak bisakah melakukan hal yang sama bersama2 :(

    ReplyDelete
  4. salam kenal. artikelnya bagus. sekalian saya follow

    ReplyDelete
  5. Ya ampun, kamu makannya apa sih, Nes? (hayo ngaku) Kok bisa bagus gini kata-katanya?

    ReplyDelete
  6. ya sama, kopiku terasa hambar tanpamu :)

    ReplyDelete
  7. asik nih kopi muncul juga dalam komunitas bumi dan kawan-kawan.

    ReplyDelete
  8. "Aku tak mengerti" *garukgarukkepala :D

    ReplyDelete
  9. entah.. saya juga tidak mengerti, tapi disinilah letak indahnya.. semakin saya tidak bisa mencerna semakin bagus berarti makna.. :D

    *berarti saya harus mencari enzim2 baru untuk mengunyah barisan kata

    ReplyDelete
  10. sedih tapi maksuka
    sad but romantic
    preeet wakakakk

    ReplyDelete
  11. glek! *speechless*...kenapa ya? :D

    ReplyDelete
  12. Aku pun tak mengerti hehehe
    kawan-kawan mampir di blog sy ya

    ReplyDelete
  13. bumi sebagai wadah bila langit menangis..kata-kata yang sangat perfect dan jarang ada yang bisa mengurai kata seperti ini...keep happy blogging ... :)

    ReplyDelete
  14. manteb postingannya,bener tuh semakin tidak mengerti semakin penasaran

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower