TENTANG SI CHIMER

Sunday, August 12, 2012

ANJING YANG TIDAK BISA MENGGONGGONG #2

pict from here
Baca cerita sebelumnya:
ANJING YANG TIDAK BISA MENGGONGGONG BAGIAN 1


Mati rasa sekujur tubuhnya. Lapar. Dingin. Sepi. Kardusnya koyak oleh sekumpulan anjing dan kucing jalanan. Begitu melihatnya, anjing dan kucing jalanan itu memaki-maki, berharap isi kotak itu dendeng busuk yang dibuang manusia. Setidaknya dendeng busuk masih bisa dimakan, bukannya seekor anjing yang tidak bisa menggonggong.

Dulu ibunya selalu meringkuk di atas tubuhnya agar ia selalu hangat. Nyaman ia bergumul bersama saudara-saudaranya. Rasa aman yang sempat ia cicipi, membuatnya makin nelangsa. Rasanya sudah lama sekali sejak ia dibuang dalam sebuah kotak kardus tebal.

Diam-diam ia duduk di pinggir jalanan keras dari beton, beberapa manusia berlalu lalang, memercik becek ke sekujur tubuhnya. Ingin ia gonggongi mereka. Mereka membuat tubuhnya bau.  Sekumpulan manusia dalam ukuran kecil mengitarinya. Ujung sepatu hitam mereka menendangi. Mereka tertawa-tawa. Mereka mengatakan sesuatu.

“Diam aja nih! Ga nggonggong! Bisu kali, bisu, makanya dibuang!”

Anjing yang tidak bisa menggonggong itu kebingungan. Tidak tahu mau lari ke mana. Ia tidak punya tempat atau seseorang untuk berlindung. Tidak ada ibunya yang menggonggong galak seperti saat mereka dipisahkan. Ia lari tunggang langgang tanpa arah, sembunyi di sela-sela tumpukan seng.

Anak-anak itu tidak menyerah. Mereka mengejarnya dengan tangan menggapai-gapai. Tangan mereka kecil, anjing yang tidak bisa menggonggong itu semakin mengerut dalam tumpukan seng yang disandarkan ke dinding beton gang. Dari belakang sebuah tongkat kayu basah menghentak tubuhnya. Tongkat itu mendorongnya maju. Dari depan tangan gemuk milik anak bergigi ompong meremasnya erat-erat seakan ia baju basah yang perlu diperas. Anjing yang tidak bisa menggonggong itu pikir ia akan mati.

“Anak-anak! Hei!” Seorang manusia ukuran besar mendatangi mereka. Ia marah. Anak-anak nakal itu ketakutan dan lari.

Anjing yang tidak bisa menggonggong itu mulai berharap. Mungkin manusia itu mau membawanya pergi ke suatu tempat hangat. Namun manusia besar itu hanya diam menatapnya kasihan, lalu berlalu begitu saja. Manusia besar itu berjalan di antara keramaian.

Anjing yang tidak bisa menggonggong tidak menyerah begitu saja. Di antara jejak kaki orang-orang yang berderap, ia mengikuti aroma tubuh orang besar. Orang besar itu berjalan sangat cepat, ia sampai harus berlari, terengah-engah.

Sampai akhirnya ia menemukan orang besar itu berdiri di antara tong tong besar berbau tidak sedap. Orang besar itu mencari sesuatu di sana. Anjing yang tidak bisa menggonggong berhenti sebentar sambil mengatur nafas. Lidahnya menjulur keluar.

Orang besar itu akhirnya menemukan benda yang sepertinya ia cari, sebuah bungkusan warna cokelat. Orang besar kembali berjalan, anjing yang tidak bisa menggonggong mengikuti lagi. Orang besar itu berhenti di sebuah kardus di pinggir rel kereta api. Anjing yang tidak bisa menggonggong ikut berhenti.

Orang besar itu merunduk, berusaha masuk ke sebuah kardus. Orang besar itu duduk di dalam kardus dan memakan nasi basi dari bungkusan yang ditemukannya barusan. Setelah habis dalam beberapa suap, orang besar itu tidur memeluk lutut, menahan dingin ia menggigil.

Anjing yang tidak bisa menggonggong itu tertegun. Ia berbalik arah dan berlari sekencang-kencangnya. Lebih baik ia mati kelaparan daripada harus kembali ke dalam kardus.

 Annesya

6 comments:

  1. kenapa anjingnya lari yaaa...apa karena si orang besar itu tinggalnya di anatara kardus2?

    ReplyDelete
  2. Pliiisss, nanti jangan bikin ending anjingnya mati :(

    ReplyDelete
  3. anjing yang tak bisa menggonggong tak bernama pula...

    ReplyDelete
  4. nes, ini sambungan dari yang pertama ya, btw usul saja nih gimana kalau dikasih gambar ilustrasi pasti lebih oke, misal gambar anjing gitu

    ReplyDelete
  5. *merenung* nih gara2 cerita anjing yg tidak bisa menggonggong

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower