TENTANG SI CHIMER

Friday, May 18, 2012

HEARTLESS PEOPLE OUT THERE

“Kamu masa harus pergi sekarang?” Lilis menatap saya yang sedang sibuk di depan koper biru saya.

Saya tidak berani menoleh dan menatapnya. “Ya.” jawaban singkat yang merupakan keputusan final. “Sudah lewat jam 12 dan Khomar tidak memberi jawaban tentang surat perjanjian yang memiliki kekuatan hukum. Saya ga mau kerja kaya TKI illegal gini!”

“Ayo bertahan di sini selama sebulan! Siapa yang bakal ketawa kalau kamu ga ada? Di sini cuma kamu yang berani ketawa kenceng, Madura!”

Tanpa menoleh, saya tahu yang berbicara itu Yorda. Kadang saya memanggilnya dengan sebutan mbak. Namun lebih seringnya saya lupa dan kembali mengolok-oloknya. Yorda panggil saya dengan sebutan Madura dan saya panggil dia dengan sebutan Solo. Kami berdua bukan dari suku tersebut tapi Yorda sangat suka menebarkan gosip kalau saya seorang Madura – sebab sifat saya yang “berani” di mess. Berani mengkritik air yang sulit, kasur yang setipis keset, kamar mandi yang hanya 1 untuk 20-an orang, makanan yang kurang bergizi, serta jadwal kerja yang menipu. Mana mungkin seorang perempuan harus bekerja dari jam 11 siang sampai dengan dengan jam 2 malam?

Saya tertawa menatap Yorda. “Maaf ya, saya harus pergi. I gotta move on. Saya ga bakal ketemu jodoh kerjaan saya kalau saya tetap di sini. Saya punya dua adek.”

Yorda tampak tak bisa membalas ucapan saya. Masih terdengar Citra menangis di kamar mandi. Saya memilih mengabaikannya, saya tidak mampu menjadi dewi yang menolong semua orang. Bahkan ketika Yorda meminta saya menenangkan Citra, saya menolak.

Mbak Ica yang merindukan anaknya dan bertaruh banyak untuk datang ke pekerjaan ini. Cahya mungkin mengalami pengorbanan tak jauh beda dari kami semua. Renny yang ditakdirkan untuk menemani saya di kerjaan mengerikan ini. Kami bertujuh terikat takdir selama tiga hari, seperti saudara, kami berpelukan erat sebelum saya dan Renny pergi.

Saya sebelumnya marah pada HRD abal-abal yang bukan lulusan psikologi yang membawa rombongan saya dari Malang menuju 17jam perjalanan Indramayu. Saya bilang padanya: 

sebutuh-butuhnya saya sama uang, saya ga bakal menyengsarakan orang lain! Saya punya otak untuk ga memberikan surat kontrak penipuan ini pada mereka yang lain! Sampean kan tahu sendiri kehidupan di sini? Kenapa mau-maunya disuruh nipu sama Khomar (direktur dengan gelar yang sangat aneh) pake surat kontrak ini! Kontrak ini ga ada yang bener!

Dia balas marah dengan logat Sundanya. Bibirnya berkedut. Tanda ia terancam oleh kata-kata saya. Namun dia sama sekali tidak memberi solusi. Dia selalu melempar tanggung jawab pada Khomar dan Khomar layaknya belut yang sulit ditangkap.

Uang memang bisa membutakan hati. Perempuan itu tidak peduli dengan nasib lainnya, dia hanya beralasan menjalankan tugasnya saja. Menuruti perintah atasan dan baginya itu alasan yang cukup. Penampilannya sangat santun yang membutakan mata kami. Sungguh sebuah pencitraan yang menyakitkan, terlebih hijab besar yang dikenakannya. Tanda identitas agama yang sama dengan agama saya. Saya sakit sekali dengan identitas yang diusungnya. Klik sini.

Untitled / Danielle Yagodich
pict from VisualizeUs

Apakah manusia terlahir seperti itu? Tidak berhati ketika segala urusan duniawinya tercukupi?

Salam hangat,

Annesya


7 comments:

  1. sudah, pergi saja. sudah jelas itu penipuan, kenapa harus bertahan.
    Ijazahmu tidak ditahan, kan? aku dulu ijazahku ditahan, jadi susah ngurusnya. harus punya alasan kuat utk mengambil walaupun harus berbohong. untungnya kmrn ijazahku bisa dikembalikan.
    tapi kamu kudu punya bukti, kos yg kamu tinggalkan coba kamu potret dan semuanya, sbg bukti kalo nanti ada tuntutan.
    semangat ya!

    ReplyDelete
  2. yuhuuuuu ane mau nyelem dulu yahh biar kerasa deepnya lagi :P

    ReplyDelete
  3. Dr.Ir.H.Komarudin.MM..

    itu otaknya udah habis dipake buat sekolah mulu nes,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga yakin deh itu gelarnya asli... gelar yang sangat aneh padu padannya... hahaha

      Delete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower