TENTANG SI CHIMER

Friday, May 18, 2012

AKAR TUNGGANG

Saatnya berangkat, saya, Yorda, Cahya dan Ica dari kloter Malang. Bersama dua anak dari kloter Yogya. Menaiki mobil Avanza yang diragukan keseimbangannya. Teringat Saiful Jamil yang melibatkan sang merek mobil di media massa.

Jalanan jauh lebih buruk dari tol Cipularang. Tidak perlu kantuk menunggu mobil oleng. Jalanan berlubang sangat dalam. Membanting tubuh kurus kami hingga menatap atap mobil. Belum lagi perampok yang tiap saat menyerang. Setiap saat kami harus berada dalam lingkungan yang tidak memiliki jaminan keselamatan jiwa.

Memasuki jalanan dan gang, tak pernah keluar lagi. Dua jam lamanya perjalanan sampai kami tiba di tempat tujuan. Waktunya bekerja sebagai Sales… eh, Public Relations. Menemui kepala desa dan sekretaris desa. Meminta izin tempat dan waktu mengadakan penyuluhan yang kemudian diikuti dengan presentasi penjualan produk pupuk organik. Yah, itu memang kerjaan public relations, kata mereka, saya pingsan seketika. Anak-anak kloter Malang tertawa terbahak. Mereka suka guyonan sarkastis saya. Mungkin karena mereka cuma bisa memendam dan saya cukup lihai memperlihatkan.

Kaca mata saya tertinggal. Wajah-wajah berbaur dalam senja yang mencapai malam. Kami masih berjalan di perkampungan yang asing. Pohon bamboo dan jalanan berbatu. Terik yang membakar dan wajah-wajah yang kelelahan. Yorda tiba-tiba meremas tengkuk saya dan menghadapkan kepala saya ke tumpukan batu yang besar dan tajam. Ingin mengetes kemampuan mata saya tanpa kaca mata.

“Kamu kelihatan ga itu apa?! Iku opo! Iku opo!“ Yorda mendorong saya ke bebatuan, menekan tengkuk saya dengan paksa.

Dua anak kloter Yogja ngeri melihat tingkah kasar Yorda ke saya.

Saya mengacungkan telunjuk ke udara. “Oh saya tahu! Itu kan… kasur yang buat kita tidur semalam!”

“Mbwahahahaha! Pinter koen!” Yorda terbahak kencang.

Saya balas tertawa. Orang-orang kampung bersuku Sunda memandang aneh bahasa Jawa kami. Kami tak peduli. Menertawai penderitaan kami adalah hiburan yang membuat kami tetap waras. Anak-anak Yogya yang lebih suka memendam keanehan dalam kepasrahan.

Kami bicara dengan dua anak yogya yang sudah seminggu lebih dulu dari kami di mess. Mereka merasa aneh namun mereka ingin meneruskan. Mereka sudah setahun menganggur dan kini mereka menerima pekerjaan ini begitu saja. Walau merasa aneh. Mereka putus asa. Kasihan, itulah yang saya rasakan. Bagaimana mungkin seseorang mau dikerdilkan? Saya punya track record yang di atas rata-rata. Mereka bilang mereka juga. Namun mereka bilang saya baru lulus dan masih terlalu idealis.

Saya benci dengan orang putus asa yang mengajak orang-orang lainnya untuk ikut putus asa. Saya benci orang yang menjatuhkan impian orang lain. Saya bukannya idealis. Saya hanya realistis. Untuk apa bekerja di perusahaan yang tidak memperlakukan pegawai sebagai aset perusahaan. Kami bahkan tidak mendapatkan hak kami, surat kontrak resmi! Sementara sewaktu-waktu kami bisa mati di medan yang seberbahaya ini! KLIK SINI.

Best picture gallery, Angel Oak, South Carolina, by MarkRegs
pict from VisualizeUs

Mereka bilang saya pilih-pilih. Saya bilang, saya hanya tidak ingin dikerdilkan oleh situasi. Saya terlalu besar, untuk mereka memotong “akar tunggang” saya! 

Oh ya, FYI, saya sudah (berhasil) keluar dari perusahaan itu. Ini adalah apa yang seharusnya saya tuliskan selama bekerja di sana. Hanya saja kemarin di barak penyiksaan, saya tidak sempat melakukan banyak kegiatan. Sekarang saya sudah di Surabaya dan baik-baik saja.

Salam hangat,

Annesya

2 comments:

  1. sama dunk, mereka juga bilang saya pilih-pilih. Tapi saya hanya mau relaistis kok...welcome to the jungle [world of work]

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower