TENTANG SI CHIMER

Sunday, April 15, 2012

PULANG...

Pagi itu udara terik menyengat, coca cola dingin mungkin lebih nikmat, tapi saya memilih menu sarapan McD dengan kopi panas yang rasanya tidak enak. Saya datang tepat ketika keranjang jenazah dijalankan keluar rumah. Saya masih bisa melihat kafan putih dari balik penutup hijau dan guling di dua sisinya.

Saya mengikuti di barisan paling belakang, setelah yakin mami saya ikut dalam iring-iringan yang mengantarkan jenazah eyang saya. Ketika pemakaman dilaksanakan, saya masih berdiri saja dengan diam. Di bagian terluar pemakaman, berdiri dengan mata kosong menerawang. Renny, yang menemani saya, bercerita ini-itu (Renny sangat suka bercerita) namun tak satupun dari ceritanya yang terdengar. Saya tidak tahu apa yang saya pikirkan ataupun yang saya rasakan. Kosong.

Saya memilih di bagian terluar makam, melihat jenazah diturunkan dari kejauhan. Sementara phasmina menutupi kepala dan segelas kopi pahit di tangan kanan saya. Saya melihat segalanya dari kejauhan. Orang-orang yang sebagian besar tidak saya kenali. Entah siapa. Sepertinya warga sekitar yang penasaran ikut mengerubung. Anak-anak kecil dari daerah sekitar yang penasaran datang berkunjung.

Prosesi pemakaman menghabiskan sekiranya setengah jam. Selama itu saya tetap menunggu di bagian terluar areal pemakaman. Satu persatu mereka pergi. Tak satupun mengenali wajah saya. Saya memutuskan untuk datang ketika hanya tinggal keluarga inti di pemakaman. Saya mendekati mami dan adek laki-laki saya dengan kepala menunduk. Mami saya (seperti biasa) menyuruh saya duduk di dekat makam. Saya tidak mengerti tapi saya lakukan saja.

Adek laki-laki saya pastinya juga tidak mengerti tapi toh dia menurut saja ketika disuruh mami saya membawa dua guling yang sebelumnya digunakan sebagai pengganjal di kedua sisi jenazah. Kami adalah dua anak yang tidak mengerti. Bagi saya, ini adalah semacam absensi. Semacam, saya hadir!, ketika guru memanggil nama saya sebelum kelas di mulai.

Saya menggandeng pulang mami saya yang berkerudung putih dengan bunga abu-abu, mengenakan kaca mata hitam. Saya tanya, mami sudah makan?, mami saya jawab belum. Saya bilang, mami harus makan. Mami saya menjawab, mami akan terus berada di rumah eyang selama beberapa hari. Saya tidak lagi bicara apapun. Menunduk. Tidak tahu harus menanggapi seperti apa.

Sampai di rumah duka. Sudah banyak yang tidak mengenali wajah saya. Saya suka ekspresi seperti itu. Ekspresi bertanya-tanya yang mengundang, “itu siapa?” Lalu mereka akan “oh” karena lupa siapa saya. Itu ekspresi yang terlihat sangat bloon. Tak rentang 30menit, saya pamit pulang. Menyalami satu persatu pihak keluarga, yang kenal-dan-tidak-mengenali-saya. Saya pulang saat itu juga. Kewajiban saya, tunai. Waktunya pulang...

pict from VisualizeUs

Follower