TENTANG SI CHIMER

Thursday, February 9, 2012

PLAYING AROUND

please stop playing around, you hurt your own child!
pict from VisualizeUs


Di kosan saya yang lama ada seorang wanita resek yang suka cari masalah dengan geng saya. Kita sebut saja namanya Rima. Nama sengaja saya samarkan sebab saya tidak bermaksud membongkar aib dia. Well, dia sudah cukup buruk jadi ga perlu dijelek-jelekin lagi. Dia sudah cukup usia namun sayangnya, angka usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Menjadi tua adalah takdir namun menjadi dewasa adalah pilihan.

Dia melakukan banyak keresekan seperti anak kecil. Bertindak seakan-akan majikan di kosan. Kadang dia dengan pede bawa brondong untuk kencan di depan kosan. Dia sudah bersuami dan memiliki anak di kampung halaman. Ia merasa cukup cantik dan pintar untuk dinikahi oleh suami yang (menurut dia) jauh lebih tua darinya.

Saya kadang tidak habis pikir kenapa ia melakukan itu. Kerupawanan adalah sesuatu yang akan hilang seiring waktu. Sudah menyebalkan, masih saja ga bisa mensyukuri hidupnya. Itu yang ada dalam pikiran saya.

Namun itu saja tidak cukup membuat saya sangat kesal dengannya. Saat ini dia hamil tua, perutnya membesar. Sepertinya bukan anak dari suaminya sebab tak satupun pihak keluarga Rima mengunjunginya di kosan. Tak satupun menjagainya. Padahal dia sudah kesulitan beraktivitas, kemana-mana ia harus diantar sama “laki-laki yang bukan suaminya” tersebut.

Rima berkata bahwa ia ingin merawat anaknya di sini, di Surabaya, di kosan ini! Bukan di kampung halamannya di NTT. Dia bilang anaknya akan selamanya tinggal di kosan ini. Besar dan dirawat olehnya sendiri tanpa perlu dipertemukan dengan keluarganya atau dibawa kemanapun. Yang terlintas dalam pikiran saya adalah… KASIHAN. Saya kasihan sama calon bayi di kandungannya. Dia ditakdirkan memiliki ibu yang seperti itu.

Bagi saya keluarga adalah dunia yang Tuhan berikan pada manusia, jauh sebelum kita lahir di dunia. Dan anak itu… terancam tidak mendapatkan haknya, dunianya, keluarganya. Hanya karena ia anak haram?

Saya juga kasihan sama Rima. Kasihan karena waktu tidak membawanya semakin dewasa. Kasihan karena ia begitu bodohnya membawa jiwa tak berdosa dalam hidupnya. Maaf saya marah. Saya emosi. Saya manusia biasa. Saya bukan malaikat yang bisa menahan kesabaran.

Saya emosi. Saya kasihan dengan anak itu. Saya benar-benar kasihan. Dia anak yang sangat tidak beruntung. Anak seperti itu sebaiknya (mungkin) tidak perlu dilahirkan saja. Hidup hanya akan menyiksanya.

5 comments:

  1. Tuhan selalu pny maksud. siapa tau anak itu nanti yg akan menyadarkan ibunya...

    tapi emang bener, tu cewek sedeng yak. udh pny suami dan anak, main gila sm co laen.
    mudah2an kita dijauhkan dr hal2 yg membawa kita ke jalan yg salah kyk jln ce itu. aamiin.

    :)

    ReplyDelete
  2. haduh... untuk cewek itu, tidak hanya umur yang membuatnya dewasa, perutnya membuncitpun dia belum sadar2 juga...
    gmn nanti kalau anakx lahir dan cari bapakx?
    gimana kalau suamix tahu dan akan menyiksa anak itu nntinya?

    loh kok jadi mikirin anak orang sih...

    ReplyDelete
  3. mau gimana lagi, itu emang anak orang, urusan orang. bukan anak kita, dan juga bukan urusan kita. tapi sebagai manusia biasa, orang begini ini emang bikin jengkel. pengen ngemarahin kok kesannya ikut campur, mau diem aja... eh pengen banget ngemarahin!!!! hrrrr...

    ReplyDelete
  4. "Bertindak seakan-akan majikan di kosan"

    Yo be'e ae dev, dia emang majikanmu, cuman kamunya yang selama ini ga sadar kalo dia majikanmu, kamu sepertinya terlalu sibuk berkencan dengan Rafael Adolfo ... :3

    *genjreng gitar spanyollll*

    ReplyDelete
    Replies
    1. bun bun, udah minum obat belum bun... hahaha

      Delete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower