TENTANG SI CHIMER

Sunday, December 11, 2011

THE MOST BEAUTIFUL THING COME FROM THE WORST PAIN


Laki-laki tidak pernah hadir dalam wujud indah dalam hidup saya.
Laki-laki selalu menjadi pembawa badai yang memporakporandakan bangunan kumuh kami, 
yang orang biasa sebut dengan Rumah.
Orang bilang hanya laki-laki yang bisa menciptakan dongeng jadi nyata.
Kalau benar begitu, maka dongeng saya sudah lama mati.

Laki-laki pertama dalam hidup saya adalah sosok buta yang membiarkan saya makan dari keringat orang lain dan hidup dengan banyak rantai yang menjerat leher dan sekujur tubuh.
Saya harus terus menerus membuka mata, menunduk, dan mengakui derajat saya lebih rendah dari manusia.
Selalu diingatkan untuk tetap menunduk dan merasa malu.
Malu atas kesalahan yang tidak pernah saya perbuat.
Malu atas sesuatu yang ditakdirkan Tuhan untuk saya.

Laki-laki kedua dalam hidup saya adalah penyerang. 
Bermanis di wajah, busuk di dalam. 
Mengerikannya, saya harus memanggilnya dengan sebutan paling hormat bagi seorang laki-laki di muka bumi.
Laki-laki semengerikan itu harus dipanggil dengan hormat?
Mulut bungkam dengan mata tertutup.
Menurut seperti hewan peliharaan.

Tidak seorang pun tahu seberapa besar energi yang saya keluarkan untuk pulih.
Tidak seorang pun tahu seberapa banyak air mata saya jatuh untuk menjadi kuat dan melawan.
Tidak seorang pun tahu seberapa besar usaha saya untuk tersenyum 
dan merefleksikan kebahagiaan semu di muka dunia.
Tidak seorang pun tahu.
Tidak seorang pun.

Tidak perlu seberapa banyak yang peduli. 
Satu. 
Dua. 
Atau tidak ada sama sekali juga tidak masalah.
Saya sudah biasa berpura-pura.
Toh mereka hanya bisa menanyai apa yang terjadi lalu mencibir di belakang.
Mereka menghakimi padahal sama sekali tidak membantu.
Mereka hanya bisa melihat dan kemudian berpura-pura tidak melihat apapun.
Merasa lebih baik?
Merasa layak menilai dan menyalahi?

Tidak seorang pun tahu seberapa saya berusaha menyakini, 
Pasti ada seorang ditakdirkan Tuhan untuk saya hidup bersamanya.
Seorang yang tidak menutup mata ketika saya terjatuh.
Seorang yang tidak meneriaki saya Bodoh hanya karena kesalahan kecil.
Seseorang yang akan mengusap kepala saya dan tersenyum.
Seseorang yang bisa saya panggil dengan sebutan Ayah?
Atau seseorang yang bisa saya nikahi dan hidup bersamanya? 

Tidak seorang pun tahu dan sebenarnya tidak seorang pun perlu tahu.
Mereka hanya bisa menghakimi hanya karena mereka merasa lebih suci.
Mereka hanya bisa mengejek dan mencela.
Merasa lebih baik karena tidak mengalami keburukan yang serupa.
Mereka tidak tahu bahwa Tuhan mencintai saya lebih dari mereka.
Mereka tidak tahu bahwa Tuhan memaksa saya mempelajari satu keindahan terbesar,
Memaafkan.

I really wanna keep this under a glass
but still it shines, might be I gotta let this go.
Somewhere, somehow, somewhat...
pict from VisualizeUs

Dalam hidup, tidak penting berapa kali kamu terjatuh, tetapi seberapa besar kamu berusaha bangkit. Dalam hidup, tidak begitu penting seberapa banyak luka yang kaumiliki, tetapi seberapa besar kamu berusaha mengobatinya. Memahami bahwa rasa sakit adalah bagian dari 
Keindahan.



Follower