TENTANG SI CHIMER

Saturday, November 5, 2011

MOTIVASI PENULIS PEMULA: DUKUNG DIRIMU SENDIRI

Saya sering menemukan di forum-forum kepenulisan yang mana mengeluh orang tua yang tidak mendukung keinginan mereka menjadi penulis. Saya juga sering menemukan beberapa orang yang mengeluh teman-teman menertawai keinginan mereka. Bukan hanya sering, saya sampai capai mendengarnya.

Saya capai mendengar mereka mengeluh banyak hal ke saya, meminta nasehat, dan hasilnya nol. Rasanya saya sudah keluar energi secara fisik dan juga psikis untuk mendengar keluhan mereka dan memberi mereka motivasi untuk terus menulis. Sepertinya pun mereka cuma mau ngeluh doang ketimbang belajar nulis ke saya. Ya ampun deh...

Saya lelah dan oleh karena itu mulai sekarang tutorial menulis novel akan saya posting di blog saja. Supaya kalau mereka ingin bertanya, mereka bisa membuka blog saya.

Saat ini banyak grup kepenulisan dan banyak sekolah online kepenulisan. Saya beritahu satu hal mutlak, bahwa mau seaktif apapun kalian di sana, kalau kalian tidak mempraktikkan ilmu yang kalian dapat secepatnya, sama aja bohong. Bagaimana pun motivasi terkuat dari sebuah keinginan adalah dirimu sendiri.

Dukunglah dirimu sendiri, Kawan!
Berhenti memaksa orang lain dan orang tuamu mendukungmu sebelum kau menunjukkan bukti!

Saya dulu, jangankan mendapat dukungan untuk menjadi penulis dari orang tua, ketahuan membaca novel saja langsung novelnya disobek kalau enggak dibakar. Saya menulis cerita saya dalam lembaran kertas binder lalu mengetik ulang di rental komputer. Saya duduk lima jam sehari. Saya bekerja di rental untuk menghemat biaya sewa komputer ketika mengetik novel. Tuban adalah kota kecil, untuk buku jenis novel,  itu langka didapatkan pada masa saya SMA. Saya berusaha meminjam novel dari teman-teman saya yang membeli novel di Surabaya.

Saya belajar menulis secara otodidak. Tak satupun keluarga saya hobi membaca apalagi menulis. Saya sering dianggap aneh sama keluarga saya karena menjadi "lain" dari saudara-saudara lainnya.

Saya cuma diam. Diam. Diam. Dan diam-diam terus menulis. Saya mengirimkan naskah ke penerbit-penerbit dan tidak terhitung penolakan yang saya dapat. Keluarga saya menertawai, saya diam. Saya memilih cara diam dan sembunyi-sembunyi ketika menulis novel. Sampai ketika novel saya diterbitkan, tak banyak teman saya yang tahu kalau saya suka menulis. Kemudian keluarga tidak lagi mengeluarkan reaksi berlebih kalau saat ini saya membaca novel terang-terang di rumah. Rasanya asyik.

Mula-mula saya mengenalkan keluarga saya (utamanya mami saya) pada dunia kepenulisan. Saya sengaja memakai alamat rumah saya di kampung supaya segala kiriman buku, surat dari penerbit, dan surat menyurat kepenulisan lainnya jatuh di tangan mami saya. Saya ingin mami saya membukanya, membacanya, mengetahuinya tanpa saya harus teriak: mami, anakmu pengen jadi penulis! Saya sengaja membiarkan mami saya membuka paket-paket buku saya, surat-surat dari penerbit untuk saya, dan segala macam.

Dan alhamdulilah dengan lahirnya anak pertama, kondisi lingkungan saya menjadi jauh lebih kondusif dari sebelumnya. Sekarang saya mau bertingkah aneh sedikit, selalu ada pemakluman dari teman dan keluarga, kata mereka:
"Novelis itu, suka bertingkah aneh ya...?"
"Emang kalau novelis sukanya mengurung diri di kamar ya?"
"Kalau novelis itu mood-mood an ya antara jadi makhluk sosial dan makhluk antisosial?"

Saya biasanya menjawab dengan senyum. Sebenarnya keanehan saya ga ada hubungannya sama kesukaan saya menulis. Aneh mah aneh aja. Cupu mah cupu aja, ga ngaruh sama apapun. Haha. Tapi berhubung bisa dijadikan excusement, ya sudah saya biarkan saja. Lumayan, predikat penulis bisa bikin mereka menerima keanehan saya. Haha... *ketawa gila*

Last but not least. Pesan saya:
Berhenti mengeluh dan buktikan kamu mampu. Itu kuncinya.

Oh ya, saya senang, tutorial pertama dan kedua diterima dengan positif. Semoga bisa membantu. Saya nggak bisa berbuat banyak. Saya bukan wonderwoman. Saya cuma cewek culun biasa.

Salam hangat,

9 comments:

  1. wah saya banget tuh, tukang ngeluh baru nulis separagraf dah ngeluh capek ah, bingung ah #jitak kepala sendiri

    ReplyDelete
  2. ok deh diem aja jadinya ngikut saran teteh :D

    ReplyDelete
  3. Subhanallah. Memang nggak ada yang bisa menghalangi ilmu kalau niatnya kuat, Nes ^_^

    ReplyDelete
  4. memang suka bikin makan ati kalo orang curhat, kita kasih masukan, tapi mereka nggak belajar dari nasehat kita. keasikan menggalau... =.='

    saya pengen banget bisa nulis novel yang bagus buat dikirim ke penerbit.

    saya kagum sama Annesya yang tetap nulis walau nggak mendapat dukungan penuh dari keluarga. semoga sukses terus! :)

    ReplyDelete
  5. aje: saya bantu jitak je. mau?

    asep: diem ga ngapa2in... -___-

    una: :)

    della: semangat kakak...

    chandra: ayo semangat ya!

    ReplyDelete
  6. memang semuanya harus dari diri sendiri, yang harus punya keinginan kuat dan nggak cuma ngomong aja, tapi harus bertindak!
    tapi tapi tapi...

    masih suka males :(
    duh

    ReplyDelete
  7. Keren kak, kakk annesya aduh sedikit sukar buat diinget hehe tapi bagus kok, kak akunih skolah do ponpes trus ada tugas disemester ini buat bikin novel, masih bingung gmna cara jitu nentuin inti novel pertamaku, mohon diresback yaa

    ReplyDelete
  8. Keren kak, kakk annesya aduh sedikit sukar buat diinget hehe tapi bagus kok, kak akunih skolah do ponpes trus ada tugas disemester ini buat bikin novel, masih bingung gmna cara jitu nentuin inti novel pertamaku, mohon diresback yaa

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower