TENTANG SI CHIMER

Wednesday, November 2, 2011

CURIOUSITY

"Kamu bukannya tidak ingin bercerita, kamu takut berbagi!"
"Kalau tidak kauceritakan sekarang, siapa yang akan bisa membantumu?"
"Kamu menutup dirimu dan karena itu kamu merasa kesepian."

Dan kemudian aliran kata-kata itu muncul.
"Coba kamu gambar seseorang...,"
Saya menggambar seorang wanita dengan dress merah menyala.
Wajah yang cantik dengan senyum tersungging.
Dress yang indah, rambut yang terurai jatuh sempurna ke panggul.
"Kamu pandai menggambar juga. Cantik... sayangnya itu palsu."
Gadis dalam gambar itu tersenyum, senyum yang beku.
Ia tegap menatap ke depan dengan padangan mata kosong.
Kedua tangannya mengepal.
"Ceritakan tentang gadis ini?"
Dia pergi ke perjamuan mengenakan dress kasual warna merah menyala, memakai beberapa aksesori sederhana, berdandan sedikit saja, dan tersenyum. Saya menjelaskan dengan bingung.
Kamu tersenyum. "Itu adalah apa yang kamu harapkan orang lain melihatmu seperti apa. Gambar itu merepresentasikan penampilan dirimu. Kamu ingin terlihat cantik di luar, sempurna, baik-baik saja, namun sebenarnya tidak begitu."

Kamu menunjukkan gambar pohon yang sebelumnya saya gambar.
Mati, kering, dan meranggas.
Pohon besar itu tumbuh di tanah kering yang retak-retak dengan angin kencang menerpa, menjatuhkan keseluruhan helai daun yang tersisa.
Batangnya besar, akarnya kuat, hanya sayangnya ia seperti hampir roboh.
"Kamu yang sebenarnya... adalah pohon ini. Kamu pasti tahu tanpa harus kujelaskan kondisinya kan?"
Kussharo Lake Tree, Kotan, Hokkaido, Japan. 2002
pict from here

Kemudian saya pikir kamu hanya mau membantu saya.
Kemudian saya pikir kamu tulus.
Kemudian saya pikir kamu peduli.
Dan lagi-lagi saya tertipu dengan kenaifan otak saya.
Lagi-lagi saya bodoh karena percaya bahwa seseorang bisa menolong.

"Kamu mau jadi bahan observasiku? Ada tugas kampus yang sedang mencari kasus seperti kamu. Kasus A, B, C... blablabla...,"

Saya hanya tertawa.
Mengajukan syarat-syarat yang membuatmu kesal.
Saya ingin bilang saya kecewa, saya ingin teriak betapa bodohnya saya.

Tapi terlambat...
Kesalahan terjadi tepat setelah saya membuka sedikit "topeng" yang saya kenakan di hadapanmu.

Dan satu pertanyaan besar muncul dalam benak saya:

Ketika seseorang menanyakan masalah orang lain, sebenarnya apa yang mendasarinya? Kepeduliankah? 
Atau sebenarnya hanya... 
Keingintahuan??

Follower