TENTANG SI CHIMER

Tuesday, August 16, 2011

MAAFKAN KEEGOISAN SAYA

Akhir-akhir ini saya sedang dalam masa perenungan. Yep, saya memang suka begitu. Suka memikirkan diri sendiri, kemudian berusaha memperbaiki diri. Saya selalu sibuk memikirkan segala sesuatu yang salah dan harus dibenahi.
Baru-baru ini juga saya menemukan bahwa saya telah menjadi sangat egois.
Saya telah menyakiti sahabat-sahabat saya secara tidak sadar.
Bagaimana mungkin saya bisa melakukan kesalahan sefatal itu ?
Mereka yang mengikuti post-post awal pembentukan Heartchime akan menyimpulkan bahwa masa kanak-kanak saya tidak terlalu baik. Oleh karenanya saya lebih sering memilih untuk mengingkari dan melupakan. Saya terus berjalan dan membiarkan “pondasi” dalam hidup saya terbengkalai begitu saja. Saya tahu pondasi itu berantakan namun terlalu takut untuk kembali menoleh ke belakang dan membenahi.
Orang yang disakiti akan mencari medium baru untuk menyalurkan rasa sakitnya.
Ini adalah hukum yang saya temukan, seseorang boleh percaya atau tidak, namun ketika kau disakiti kau akan mencari pelampiasan atas rasa sakit tersebut. Saya menyebutnya sebagai HUKUM TRANSFER RASA SAKIT.
Saya pun demikian. Saya tanpa sadar telah menjadikan sahabat-sahabat terbaik saya sebagai medium transfer rasa sakit. Saya menjadikan mereka sebagai subtitusi kekurangan dalam hidup saya. Saya menuntut mereka, saya meminta mereka menjadi bagian dalam hidup saya yang hilang. Saya memperlakukan mereka sebagai keluarga saya sendiri.

Manusia terlahir dengan dua kehidupan. Yang pertama adalah kehidupan yang Tuhan khusus hadiahkan padamu, KELUARGA. Dan yang kedua adalah kehidupan yang kau ciptakan, yakni lingkungan kerja, sekolah, dan juga PERSAHABATAN.

Sejauh ini saya merasa kehidupan saya yang pertama tidak sempurna dan memuja kehidupan saya yang kedua. Saya tanpa sadar menuntut sahabat-sahabat saya menjadi bagian yang kurang dalam kehidupan pertama saya, yakni keluarga.
Bukannya itu salah, itu hanya KELIRU.
Kau boleh menganggap sahabatmu sebagai keluargamu, tapi jangan perlakukan mereka sebagai keluarga. Sebab… bukannya kau akan menghargai keberadaan mereka, kau justru akan mengikat mereka. Kau akan menuntut mereka menjadi hal yang di luar kemampuan mereka. Bagaimanapun mereka hanya sahabat dan sahabat hanya mampu melakukan tugasnya sebagai seorang sahabat. Mereka tak akan mampu menjadi keluargamu.
Dan ya, saya baru menyadari bahwa saya memperlakukan mereka sebagai keluarga saya atas keegoisan saya. Atas obsesi saya mendapatkan kehidupan yang sempurna. Saya memilih lari dari kehidupan yang pertama dan berkubang pada kehidupan saya yang kedua.
Tapi itu keliru. Itu tidak benar. Karena kemudian saya menyakiti orang-orang dari dua dunia tersebut. Keluarga dan juga sahabat saya. Saya menjadi egois…
Saya ingin meminta maaf. Sangat ingin. Walau tidak tahu harus bagaimana mengucapkannya, mengungkapkannya. Saya ingin memperbaiki ini. Saya ingin menghadapi masa lalu saya dan membenahinya. Saya harap saya mampu memperkuat pondasi bobrok yang sudah saya tinggalkan. Saya tidak ingin terlambat berjalan terlalu jauh untuk kembali menoleh ke belakang. Selagi sempat, saya akan membuka mata saya dan menghadapi masa lalu saya. Saya sudah berada pada ujung rasa sakit dan sudah saatnya melangkah maju. Saat ini saya sudah tidak takut lagi…
Tidak perlu khawatir, keberanian pasti datang. Karena keberanian adalah akumulasi dari rasa takut.
Maafkan saya, teman-teman. Maafkan saya karena tidak mampu mengucapkan maaf langsung dari mulut saya. Tapi hati saya… sungguh mengatakannya beribu kali.
Sepuluh tahun dari sekarang mungkin apa yang saya anggap besar sebenarnya hanya masalah remeh.
Sepuluh tahun dari sekarang apa yang saya anggap rumit mungkin sebenarnya hanya hal sederhana belaka.
Sepuluh tahun dari sekarang mungkin saja saya menghadapi masalah sepuluh kali lebih berat dari ini.
Sepuluh tahun dari sekarang saya mungkin menyesali waktu yang saya habiskan untuk menangis dan murung.
Sepuluh tahun dari sekarang saya mungkin menertawai tangisan saya.
Sepuluh tahun dari sekarang saya mungkin tidak bisa melakukan itu semua karena ternyata saya tidak bisa mencapai waktu itu.
Sepuluh tahun dari sekarang…
Saya tidak ingin menyesal.
Sepuluh tahun dari sekarang…
Saya tidak ingin menunggu sepuluh tahun lagi untuk menjadi lebih baik.
Sepuluh tahun dari sekarang…
Sepuluh tahun dari sekarang SEGALANYA MUNGKIN TERJADI.
Saya ingin menjalaninya sebaik mungkin.
pict from here
Salam hangat,

Follower