TENTANG SI CHIMER

Wednesday, August 31, 2011

CINDERELLA IN PARIS: NOT A CINDERELLA’S STORY


Spoiler alert!

cover novel CINDERELLA IN PARIS - Sari Musdar
Mari kawan-kawan kita bedah buku pemberian mbak Fanny ini. Yuk ya yuuuk…

Well, first of all, saya mau menempatkan diri saya sebagai pembaca ketimbang penulis. Karena kalau saya menempatkan diri saya pada posisi penulis, saya tidak akan mampu meresensi novel apapun. Dan sebenarnya ketimbang meresensi, saya cenderung menjadi kritikus. I don’t know why… but I have a sharp eye kalau tentang kritik mengkritik tulisan. Mungkin itu sebabnya kawan-kawan kampus saya suka meminta pendapat saya mengenai tulisan mereka. But, sebelumnya, saya ingatkan tulisan ini hanya bersifat subjektif. Kalian bisa saja berpendapat berbeda.

Inti cerita Cinderella in Paris adalah sebuah novel yang menceritakan perjuangan seorang gadis di ambang usia yang mencari tambatan hatinya hingga keliling dunia, mulai dari Australia, Italia, sampai dengan Paris – di mana kemudian ia menemukan tambatan hatinya.

Pertama kali, nilailah buku dari kovernya. Kover novel ini berwarna biru dengan tulisan glitter emas. Sekali pandang kover ini seperti memiliki cerita sendiri. Kita membayangkan isi ceritanya akan berbau metropop. Sayangnya isinya tidak demikian, bukannya berarti ceritanya jelek, hanya kovernya tidak merepresentasikan isi cerita. But, saya akui kovernya komersil. Kover komersil juga turut mempengaruhi penjualan that’s why kita harus menilai buku dari kovernya dulu. Kesimpulan dari saya… kover buagus tapi… (isi titik-titik ini sendiri).

Kemudian masuk ke endorsement… saya bukan tipikal orang yang menilai sebuah buku dari endorsement. Sebab saya mengetahui kelemahan dari endorsement, pertama bisa saja sang pemberi endorsement tidak membaca keseluruhan isi cerita dan asal memberi dukungan. Kedua, selera setiap orang kan berbeda, satu orang suka, yang lainnya belum tentu suka. Maka saya suka melewati bagian endorsement sebuah buku. Itu adalah bagian yang paling akhir saya baca dari sebuah buku.

Masuk ke dalam cerita kawan-kawan… cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Kelebihan dari sudut pandang orang pertama adalah pendekatan yang intens dengan pembaca, pembaca diharapkan masuk ke dalam cerita sebagai tokoh utama. Adegan pertama dibuka dengan perkenalan tokoh utama bernama Saras Ratiban. Penulis buku ini, Sari Musdar, cukup berhasil memasukkan pembaca ke dalam cerita. Hanya saja terlalu banyak penggunaan kata ganti orang pertama, yakni “aku” dalam bab pertama (namun di bab selanjutnya sudah oke). Mungkin ini tugas editor untuk membenahinya. Selain itu masih cukup banyak kesalahan tanda baca dan juga penempatan spasi dalam kalimat. Contoh:
Di halaman 10: termasuk tentu saja termasuk, tentu saja,…
Halaman 18: disela-sela di sela-sela
Halaman 66 : kamibarusajatibalimajamyanglalu kami baru saja tiba lima jam yang lalu

Penulis berusaha memberikan info pengetahuan untuk para lajang dalam mendapatkan jodoh melalui penggalan adegan-adegan. Ini cukup bagus. Dan juga disertai istilah-istilah yang menambah pengetahuan. Hanya saja (menurut saya) kata-kata sulit tersebut ada baiknya dijelaskan pada catatan kaki untuk urusan kenyamanan pembaca ketimbang dijelaskan pada halaman belakang Glossary.

Hal yang menarik dari novel ini kita akan diajak berkeliling dunia dan mengunjungi tempat-tempat indah. Pendiskripsian setting tempat terasa mulus mulai halaman 85. Namun sayangnya terkadang penulis lupa pada kebutuhan pembaca akan cerita dan asyik menceritakan tempat-tempat yang dikunjunginya. Oleh karenanya ada banyak adegan dalam buku ini yang tidak “mempengaruhi” inti cerita. So, bagi pecinta traveling, ini novel yang menarik untuk dinikmati sambil bersantai dan meminum segelas kopi. Namun bagi pecinta fiksi, mungkin beberapa adegan akan terasa sedikit membosankan.

Dalam novel ini jiwa petualang penulis terpancar jelas dalam plot novel. Anda akan dibawa bepergian, mengenal orang dan budaya mereka. Kalian akan diajak berbincang bahasa Prancis dan Inggris. Bagi Anda yang pernah mempelajari bahasa Prancis seperti saya, ini referensi yang baik karena di sini penggunaan Prancis akan bersifat non-text book. Well, kalau kita belajar dari text book, mau tak mau bahasa asing kita akan terlalu baku kan? Saya lumayan refreshing sambil mengulang pelajaran bahasa Prancis saya di semester satu-dua perkuliahan. Lumayan asyik laaaah…

Pada bab 6 kalian akan diajak keliling Prancis. No… not Eiffel, penulis keluar dari pakem setting tempat yang biasa dipuja-puja banyak novel, yakni Eiffel. Kalian akan dibawa ke museum tempat Monalisa terpajang sampai taman-taman kerajaan Prancis yang indah. Deskripsi tempat di novel ini memadai meski deskripsi karakter kurang hidup. Orang asing dalam kehidupan sang tokoh utama datang dan pergi sampai kita akan bingung siapa si A dan si B. Kadang penulis melakukan kesalahan mendeskripsikan seorang karakter bahwa ia blasteran C dan D padahal mereka baru kenal dan tidak menjelaskan darimana ia tahu bahwa ia blasteran C dan D.

Mengenai pembentukan karakter dalam novel ini, sebenarnya tokoh utama Saras sudah cukup hidup. Sayangnya tokoh-tokoh lain belum cukup hidup untuk membentuk masalah dalam hidup Saras. Tokoh yang paling saya sayangkan di sini adalah Vanny. Seharusnya Vanny “dihidupkan” terlebih dahulu sebelum kemudian melakukan pengkhianatan pada Saras sebab dengan demikian adegan pengkhianatan yang Vanny lakukan akan lebih terasa “nyata”.

Sayang seribu sayang, judul novel ini pun tidak merepresentasikan isi cerita. Cinderella in Paris. Konsep Cinderella adalah gadis miskin yang memiliki ibu tiri kemudian ia menikah dengan pangeran. Pada kenyataannya sang tokoh utama, Saras, dia sama sekali bukan Cinderella. Dia bukan gadis buruk rupa, tidak miskin amat, dan juga tidak punya ibu tiri. Saras adalah tipikal gadis petualang yang modern dan globalis.

Novel ini beralur lambat. Cocok bagi kalian yang menyukai drama percintaan dan petualangan. Kaya deskripsi dan tips-tips yang membantu. Buku ini menggunakan diksi ringan yang mana saya merasa bisa menjadi jauh lebih apik jika menggunakan diksi yang lebih memukau.
Contoh, bedakan dua kalimat di bawah ini:
1. Aku ingin mengejarmu, memegangmu dan memeluk tubuhmu erat-erat.
2. Aku ingin meraihmu, menyentuh dan mendekap tubuhmu erat-erat.
Dua kalimat dengan makna serupa namun menimbulkan feel yang berbeda bukan?

Namun overall, ini novel yang bagus untuk ukuran penulis pemula. Penulis dengan buku perdana seperti ini punya potensi menelurkan buku yang jauh lebih bagus dari buku pertamanya. Saya menge-like page dari novel ini di FB dan penulisnya berkata bahwa penjualan buku ini bagus. Syukurlah, semoga bisa naik cetak lagi dan siapa tahu masukan, saran, dan kripik singkong kritik dari saya ini bisa diterima dengan baik.

Yuuk mari yuuk babaiii…

3 comments:

  1. lengkap amat. teliti pula. hehee.aku sih gak perhatiin sampai tanda baca, gitu. sip deh...

    ReplyDelete
  2. Mba Nesya.. Akau mau donk belajar novel sama mba, keren ih.. aku semakin suka dengan novel karena blog ini, ada tutorial dan tips tentang nopvel, meski cuma sebiji, suka suka sukaaaaaaa banget >,<

    ReplyDelete
  3. emang tante seksi yang satu ini expert ^_^

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower