TENTANG SI CHIMER

Thursday, July 7, 2011

Satu kata, sebuah flashback, dan sejuta rasa

sebuah file jpg


Saya mengingkari kata-kata saya untuk absen nulis blog karena sedang ada yang ingin saya luapkan.

Saya menangis lagi. Yep, sore ini karena hal yang sangat sepele. Saya tahu itu hanya kata-kata yang tak sengaja terucap dan menguap, tapi feedback yang terjadi adalah flashback ke masa-masa yang tidak menyenangkan.

Saya selalu begitu. Berakhir dengan mengunci diri di kamar dan pura-pura sibuk mengerjakan tugas padahal nangis. Seharusnya saya bilang ke temen saya: saya ga suka kata-katamu. Jangan diulangi lagi, tapi selalu gagal. Saya selalu meremehkan perasaan saya.
Saya membuat semuanya jadi seperti lingkaran setan yang tidak pernah berakhir. Berulang dan terus berulang karena saya tidak menghentikan lingkaran tersebut.

Satu kata, sebuah flashback, dan sejuta rasa (sakit)…

Itu yang terjadi pada saya sore ini.
Saya tahu kata-kata itu hanya kata-kata biasa. Saya tahu kata-kata seperti itu tidak mungkin bisa menyakiti orang-orang pada umumnya. Saya tahu, tapi saya tidak bisa menahan mata ini untuk ga nangis, ga bisa nahan diri untuk ga mewek…

Begoknya saya!

Saya selalu merasa perasaan saya ini ga penting dan ga ada yang peduli sama perasaan saya jadinya saya ga pernah memperjuangkan hati saya untuk ga disakiti lagi.

Di tengah aksi mewek saya, saya me-sms Lilik dan smsnya membuat saya sedikit tersenyum walaupun masih mewek. Dan lagi asyik-asyiknya mewek, teman sekamar saya datang dari kampus.

Maka saya tersenyum, balas menyapa dia, berbasa-basi kemudian buru-buru hijrah ke kamar mandi dengan kepala menunduk, nyalain keran kenceng-kenceng – nerusin ceremonial saya, mewek nguwek uwek. *dramatis*

Rasanya suatu saat saya bakal masukin adegan itu ke novel saya deh. Hadeeh… *mandi Baygon 3 kali sehari*

SAYA HANYA INGIN SAYA SELALU INGAT,
Tuhan tidak pernah tidur
seburuk apapun hidup saya,
sesial apapun nasib saya,
sejahat apapun seseorang terhadap saya,
dan securang apapun kenyataan yang ada;

selalu akan ada “kebaikan dan keindahan” yang terselip dalam keburukan nasib saya,
selalu ada “keberuntungan dan kejutan” yang melengkapi deretan kesialan saya,
selalu akan ada mereka yang bersikap “sangat” atau “bahkan terlalu baik”,
dan selalu ada keadilan dari segalanya.
*menangkupkanTanganDiDada* *senyum* *kembaliBeraktivitas*
Life must goes on… J

9 comments:

  1. Aku juga gitu, aku juga gitu...
    Terkadang omongan orang yang nggak penting atau biasa aja, bahkan yang ngomong juga nggak penting buat aku aja kadang-kadang juga jadi kepikiran terus mewek... Memang sepertinya nasib manusia berpikiran berat dan cengeng kayak aku ini agak ribet deh...
    Tapi tetep semangat Nesya, habis mewek jadi lebih lega kan, hehe... :D

    ReplyDelete
  2. setuju, Tuhan memang tak pernah tidur...Berserah saja.

    ReplyDelete
  3. Mbak...postingannya menyayat banget
    penuh kepasrahan dan keikhlasan
    kadang kita emang terlalu memikirkan apa yang akan terjadi
    padahal setiap kejadian pasti ada hikmahnya dan sudah diatur oleh Tuhan

    ReplyDelete
  4. namanya hidup pasti rasa, sedih, sakit, bahagia, senang, tawa...itu pernah kita alami...
    semoga tuhan mebalas tangis kamu menjadi keceriaan...


    salam kenal, tukeran link yok..

    ReplyDelete
  5. aku tau namaku pasti akan tertulis disana :p

    sun dolo :* (pake gaya arlin)

    ReplyDelete
  6. ima: huhu ima, senang punya temen mewek bareng. Makasi ya :p
    cerpenis: iya, ya mbak... :D

    Itik: amin... :)

    ReplyDelete
  7. bana: ok, tnggu aq ngeblog lwt pc ya...
    anin: makasi anin :D
    lilik: ga ga ga kuwat gagaga level

    ReplyDelete
  8. La Tahzan.....

    jgn bersedih...Tuhan Tidak pernah tidur sist.....


    let's make a friend yah....

    i'm waiting for u

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower