TENTANG SI CHIMER

Wednesday, July 20, 2011

KONFLIK INTERNAL KKN YANG MENCAPAI KLIMAKS

gambar dari sini
So, guys… akhirnya semalam klimaks dari konflik internal anak-anak cowok dan cewek di kelompok saya meletus.

Kronologinya adalah kami sedang ngobrol-ngobrol sama anak-anak Karang Taruna desa Kalipecabean (Katar) dan ada alumnus UNAIR juga – namanya mbak Indah – yang merasa kelompok kami ga kompak dan mengolok-olok kami di muka anak-anak Katar lainnya. Saya – yang merasa memang kelompok kami ga kompak – memilih diam saja.

Begitu sampai kosan, tiga anak cowok di kelompok kami, Hendy, Rizki, dan Faiz mengadakan rapat kecil-kecilan dengan anak-anak cewek, meminta kekompakan dari semua regu untuk menunjukkan kami kompak di hadapan anak-anak Katar dengan berapi-api. Saya yang mendengarnya semakin bad mood. Apakah harus tunggu sosok antagonis macam mbak Indah untuk membuat laki-laki akhirnya menanyakan adakah dari posisi cewek yang “bersinggungan” dengan anak-anak cowok.

Maka saya angkat bicara, terjerumus dalam emosi (pula).
“Ada. Ada gap. Anehnya, gap itu hanya dirasakan oleh anak-anak cewek dan anak-anak cowok ngga ngerasain apapun. Kita disuruh bicara tapi sebenarnya suara kami ga didengar! Dan lucunya lagi, masa baru sekarang kalian sadar kalau kita ga kompak. Saya udah dari dulu tuh tahunya!”
Rizki, yang memang sudah emosi dari awal, membantah dan membela diri. Intinya dia bicara blablabla yang isinya pembelaan bahwa sebenarnya anak-anak cowok sebenarnya sudah cukup care pada anak cewek.

Saya – yang pelit omong – cuma ketawa sinis. “Sebenarnya saya ga perlu banyak omong. Buktiin aja ke depannya!”

Dan permasalahan malam itu ditutup dengan badai emosi dari saya vs Rizki. Seperti biasa – tabiat anak cowok – mereka lebih suka diberi detail apa yang harus dan tidak boleh mereka lakukan. Sementara anak-anak cewek akan memilih, pikirkan sendiri, temukan jawabannya, karena kalau diberitahu kalian pasti akan membantah.

Sebelum rapat emosi tersebut diselesaikan, ada perjanjian bahwa masalah ini akan berhenti di sini disertai berbagai janji yang diucapkan anak-anak cowok bahwa mulai sekarang kita ga akan bla dan ga bakalan blablabla lagi.

Yep, saya memang emosian tapi saya bukan tipe pembenci apalagi pendendam. Esok harinya saya sudah menjadi diri saya yang ceria dan fokus mengajar bahasa Inggris di kelas 5A dan 4B, serta program story telling – program menceritakan beberapa dongeng Indonesia ke anak-anak SD. Saya pikir semua sudah berjalan baik-baik saja walaupun saya merasa bahwa beberapa anak laki-laki menjauhi saya. Karena saya tipe cuek bebek nguwek uwek… saya juga ambil peduli dan tidak memaksakan diri untuk beramah tamah.

Ga apa kan… untuk mengambil jarak ketika orang lain membutuhkannya? Jarak itu terkadang menjauhkan kita dari konflik dan rasa sakit.

Saya tetap makan siang bersama. Tetap tidak terlalu banyak bicara dan tidak memaksakan diri melakukan apapun untuk mengambil hati anak-anak cowok lainnya atau gimana. Beginilah orang yang sudah biasa dibenci, dibenci berulang kali pun rasanya sudah kebas.

Setelah makan siang usai, kami melakukan rapat evaluasi. Saling melapor kegiatan hari ini dan lain sebagainya. Tetap mendengar selipan sindiran-sindiran dari anak cowok ke saya, tapi saya tetap stay cool. yang penting mereka sudah berubah. Yep, pagi ini mereka jadi lebih serius menjalankan program KKN ketimbang hari-hari sebelumnya.

Tanpa diduga, di akhir rapat, Rizki membuka topik semalam  yang katanya sudah ditutup -_-“.
Masih bicara dengan emosi yang ditahannya.
“Kami, anak cowok bisa hidup tanpa anak-anak cewek dan anak-anak cewek bisa hidup tanpa anak-anak cowok. Tapi kami akan coba untuk menuruti kehendak anak-anak cewek. Saya sebenarnya sih lebih suka jadi diri saya sendiri. Tapi ya sudah mulai sekarang kami akan makan dengan self-service, kami ga akan guyon pas rapat, dan kami akan coba-coba menjalani tuntutan anak-anak cewek atau mungkin orang yang mengatakan “diri mereka mewakili anak-anak cewek” padahal ga semua cewek begitu!”
Saya masih diam kendati tahu yang disebut terakhir ditujukan pada saya. Saya lebih memilih menyibukkan diri dengan sulaman tali untuk program kerajinan tangan esok hari untuk ibu-ibu PKK.
Sindiran masih berjalan dan kemudian Rizki berkata sambil mengarahkan mata ke arah Okky:
“Kemarin kita dapat banyak tanggapan dari anak cowok dan anak-anak cowok banyak yang ga terima dengan kata-kata semalam. Kemarin malahan ada yang bilang bakal misuh-misuh, tapi kok sekarang anaknya malah diam saja?”
Okky memang aneh hari ini. Kami memang ga begitu dekat, tapi dia pagi ini menghindari saya. Pada program bahasa Inggris kami dipasangkan, dia terlihat menghindari saya, namun saya – yang merasa tidak ada masalah dengan dia – tetap mengajaknya bicara. Tapi, masih, dalam beberapa pembicaraan, saya merasa dia menyindir saya.

Entah kenapa lama kelamaan pembicaraan anak-anak cowok ini semakin overlapping dan mengintrepetasikan yang tidak-tidak atas kata-kata saya dan beberapa anak cewek lainnya semalam. Maka saya mulai angkat bicara :
“Saya sebenarnya merasa ada yang aneh, ini seperti over-interpretasi dari anak-anak cowok tentang gap dan lain sebagainya. Seakan-akan saya – yang mewakili anak-anak cewek – atau mungkin saya merasa mewakili tapi sebenarnya tidak semua anak cewek begitu memandang seakan menyalahkan cowok habis-habisan. Tapi tidak seperti itu sebenarnya. “ 
ujar saya sambil menatap Okky lurus-lurus. Saya sengaja melakukan hal itu karena semalam Okky tidak datang dan pastinya ia hanya mendengar kata-kata dari sisi Rizki saja – yang semalam emosi jiwa setelah dihina habis-habisan oleh mbak Indah, disusul aksi anti-support yang saya lakukan semalam. Dalam kondisi demikian, sudah barang tentu Rizki emosi tingkat Dewa kan ?
“Tapi ya sudahlah, tidak perlu dibicarakan lagi. Yang penting saya melihat ada perubahan pada anak-anak cowok pada hari ini. Ya… saya tahu kalian emang belum berubah menjadi power ranger atau ultramen tapi.. pagi ini saya merasa tertolong dengan anak-anak cowok, saya berterima kasih atas bantuan kalian pagi ini. Saya minta maaf kalau semalam kata-kata saya ada yang menyakiti. Kita lupakan konflik ini, lagipula konflik itu ada karena kita semakin dekat, kalau ngga ada konflik… itu artinya ga ada hubungan di antara kita. Yang terpenting ke depannya kita bisa lebih baik lagi.”
“Jadi soal pembagian tugas… apa harus diulangi? Apa kita harus nanak nasi sendiri. Kita bisa ambil makan sendiri. Dan blablabla…” salah satu cowok kembali menyahut.
Tipikal cowok dan cewek… cowok selalu menanyakan hal detail sementara cewek macam saya selalu meminta pengertian esensi. Anak cowok mengira cewek merasa mereka bekerja terlalu banyak dan iri dengan anak cowok. Padahal anak cewek sebenarnya hanya meminta pengertian dari anak cowok untuk menghargai pekerjaan cewek dan berusaha "ada" ketika dibutuhkan.
“Sebenarnya ngga perlu. Intinya adalah kami meminta kalian untuk lebih tanggap dengan keluhan kami. Kalau kami diam soal tugas memasak, bersih-bersih rumah dan lainnya, itu artinya kami ga keberatan. Tapi kalau kami mulai complain, kami minta anak-anak cowok untuk tanggap dengan complain kami. Itu aja kok. Dan makasih sudah mendengarkan keluhan kami, saya pribadi juga merasa plong.”
Dan rapat evaluasi yang ditutup dengan sesi curhat ini berakhir. Saya merasa Okky  sudah paham tapi saya masih malas menjelaskan soal esensi. setidaknya mereka sudah mulai berubah menjadi lebih baik dan tanggap dengan komplain atas anak cewek setelah konflik ini.

Sore ini saya merasa lega setelah unek-unek saya (akhirnya) didengarkan oleh anak-anak cowok. 

Entah apa suatu hari topik ini akan diangkat lagi. Rizki masih kelihatan “aneh” tapi akan saya biarkan saja. Cowok dengan jalan pikiran cowok sendiri dan cewek dengan jalan pikiran cewek sendiri.

Semoga ke depannya kelompok saya dan juga saya diberi hidayah oleh Allah SWT. Amin…

Mari menjadi antisosialis yang peduli sesama dan tidak merugikan orang lain!
merdeka!

5 comments:

  1. ihh geli ya liat gambarnya hehe ^^

    ReplyDelete
  2. ya amppuuun, ribut bgitu kan satu kelompok toh?
    tapi memang ga bisa marah2 sama anak cowok mah mbak, hrus pelan2 dan pas mereka mood ngomongnya, yg ada ntar qt dibilang crewet blabla blaaa
    -__-# aku keseringan malah nyerewetin mereka, jd udh pada tutup kuping.

    ReplyDelete
  3. nurul: haha... ya jangan dilihat gambarnya naaakk

    Lia: cowok oh cowok... ya kan Lia? Biarkan mereka seperti apa adanya...

    ReplyDelete
  4. Terlalu baik.... ck, ck.
    Yakin, kalo saya mahh... udah saya tampar XD saya kesel banget =,=

    ReplyDelete
  5. wkwkkwkwk.. emang beneran bisa berubah jadi ultramen ya mbak? hehehe XD *canda

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower