TENTANG SI CHIMER

Monday, July 11, 2011

THE GLASS DOLL

“Hidup itu ga seburuk seperti yang digambarkan di film drama, tapi juga ga seindah seperti yang dilukiskan drama-drama itu. Soalnya kadang... hidup itu adalah drama itu sendiri.” – quote dari seorang teman.

sebuah file jpeg random di laptop

Tiba-tiba saja otak saya yang sangat kecil dan bulukan, memutar kembali memori itu. Saya dan mami saya duduk di belakang rumah. Mami saya mencuci piring sementara saya di balik punggungnya, menangis.
“Maaf…,”
Mami saya masih acuh.
“Saya minta maaf!” lagi-lagi saya mengulangi.
Mami saya masih meneruskan cuci piringnya tanpa sekalipun menoleh.
Saya mendekat dan memegang kaki mami saya sambil merengek. “Saya masih ingin ikut mami. Lupakan masalah kemarin dan saya janji ga akan membicarakannya lagi. Selamanya. Sumpah. Demi Allah…,”
Dan baru mami saya menoleh ke arah saya untuk kemudian acuh lagi.
Detik itu saya merasa sakit. Meminta maaf pada apa yang bukan kesalahan saya. Kondisi selalu memaksa saya untuk mengakui kesalahan dan menerima hukuman. Selalu saya yang wajib menanggung rasa sakit yang seharusnya tidak saya derita. Saat itu saya tahu saya tidak memiliki siapapun untuk berlindung. Saya tidak memiliki tempat aman jika saya berada di rumah.
Rasanya seperti seluruh udara ini lenyap begitu saja. Saya masih dapat melihat keberadaannya namun itu teruntuk untuk orang lain, selain saya. Tidak ada jatah buat saya. Saya memang tercipta untuk mengais dan meronta. Untuk menjadi sang Hitam agar putih bisa dikatakan sebagai putih. Tanpa hitam, putih bukanlah putih kan?
Saya… benci putih. Putih itu seperti mami saya, seperti kakak saya, dan seperti hidup yang mereka impikan. Putih itu seperti yang seluruh orang di dunia ini anggap sebagai sang Baik. Putih adalah sosok pujaan, sosok protagonist dalam drama. Sementara harus ada sang antagonis.
Beberapa tahun kemudian kakak saya bicara bahwa ia tahu apa yang terjadi pada saya saat itu. Apa yang menyebabkan saya sampai merengek meminta maaf pada mami saya.
“Lalu kenapa diam saja?”
Kakak saya ragu. “Aku ga tahu harus berbuat apa…,”
Ya. Dan keraguanmu membuat saya berjuang sendiri. Keraguanmu adalah membiarkan saudaramu menjadi sang Hitam agar kau terlihat Putih. Keraguanmu adalah keterdiaman yang seperti tebasan pedang samurai. Tak terlihat, namun mematikan saya, di dalam. Kau membiarkan aku menjadi alien. Kau membiarkan aku sendirian.
Sendirian.
Sendirian.
Adakah rasa yang lebih mengerikan dari kesendirian?
Bagi saya, rasanya seperti neraka.
Kamu tahu kamu memiliki namun apa yang kamu miliki sebenarnya tidak ada sama sekali. Kamu tampak cantik dari luar namun di dalam kamu tahu tidak ada apa pun selain kekosongan itu sendiri. Itulah yang disebut kesendirian.
Dan bertahun-tahun kalian, sang Putih, menutup mata dan telinga. Sementara saya masih bergelut melawan diri saya sendiri. Mempertanyakan kewarasan saya. Mempertanyakan apa tujuan saya hidup. Mempertanyakan bagaimana mungkin Tuhan memilih saya sebagai sang Hitam? Bagaimana mungkin saya tidak diijinkan untuk memilih? Bagaimana mungkin? Dan betapa tidak adilnya…
***
Tapi sore ini tiba-tiba memori itu muncul ketika saya sedang tidur siang dengan kepala menghadap langit-langit rumah saya. Dada ini masih terasa sesak setiap saya berada di sini. Ketakutan itu masih nyata terasa di dalam. Namun tiba-tiba saja memori itu tervisualisasikan ketika saya melihat ke arah dapur.
Saya seperti kembali melihat adegan sore itu, bertahun-tahun yang lalu. Saya yang masih remaja, kecil, dan rapuh. Dan punggung mami saya yang dulu terlihat selalu tegas dan tidak pernah ragu. Saya kembali melihat saya yang menangis sore itu dan bagaimana saya memelas meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahan saya. Saya melihat diri saya yang begitu menyedihkan karena tidak memiliki kemampuan untuk membela diri. Saya melihat diri saya yang sangat ketakutan dan tidak terlindungi. Saya melihat sosok saya yang masih seperti boneka kaca.
Retak perlahan-lahan…
Dan saya kembali melihat ekspresi mami saya ketika menoleh ke arah saya. Mata itu. Bukan mata acuh. Mata itu berair dan sembab. Saya yang masih begitu kecil tidak menyadarinya. Mata itu adalah mata bekas menangis. Mata itu adalah mata yang berusaha mami saya sembunyikan di balik sikap acuhnya. Dan ketika menatap saya, bukan ketegasan tak berperasaan yang terpancarkan (seperti halnya yang selalu saya kira selama ini) melainkan sebuah ekspresi tak berdaya yang berusaha mengucapkan sebuah kata:
Maaf…
Maaf…
Mami saya tahu saya tidak dalam posisi yang seharusnya meminta maaf. Mami saya tahu dan tidak mampu berbuat apa-apa untuk membenahi segalanya. Dan mami saya (seperti halnya kakak saya) memilih diam, membiarkan saya menahan sakit itu sendiri agar tidak menyebar ke bagian putih lainnya seperti virus menular. Masih banyak yang harus terus dipertahankan, diselamatakan, dan dilindungi. Mereka memilih untuk diam.
Dan saya merasa ditinggalkan. Sendiri.
***
Bagi saya saat ini tidak penting lagi sebuah kata “maaf”, semua sudah berlalu. Tidak penting lagi perlindungan berlebih karena saya telah bertransformasi menjadi boneka kaca lapis besi yang entah sudah berapa kali dibanting, saya masih akan tetap dalam bentuk saya, tidak bercacat di luar. Tak peduli seberapa remuknya elemen-elemen kaca di dalam tubuh saya, itu sudah tidak penting lagi kan? Sebab mereka sama sekali tidak terlihat.
Sebab saya sudah membalutnya dengan lapisan besi yang sangat kuat.
Bagi saya memori itu sudah mampu menjawab segalanya. Sebuah permintaan maaf yang tak terucap, sebuah kesalahan yang harus ditanggung, dan sebuah keterdiaman yang akan lebih baik tetap begitu.
Hidup itu seperti lingkaran setan. Manusia yang menciptakannya, karena merekalah setan-setan tersebut.
Hidup ini seperti lingkaran setan. Manusia yang menciptakannya dan hanya manusia pula yang bisa memutusnya.
Hidup ini seperti lingkaran setan. Akan terus berputar dan berulang kalau tidak ada yang rela menjadi “yang terakhir”.
Maka tidak apa kalau saya harus menjadi akhir lingkaran tersebut. Saya akan menjadi sang setan, sang pemutus lingkaran sekaligus sang akhir. Tidak apa kan, di antara sekian banyak kekurangan dan kesalahan yang saya miliki, setidaknya saya tahu, saya pernah sekali saja melakukan hal yang benar dalan hidup ini. Dengan hanya diam dan tersenyum. Dengan hanya terus berjalan dan mencoba memaafkan. Dengan hanya menanggung dan tidak mempertanyakan siapa yang layak menerima rasa sakit ini. Saya bahagia karena tidak perlu menyakiti lainnya.
Saya senang lingkaran setan ini terputus. Dan mungkin akan benar-benar hilang ketika saya mati nanti. Saya senang dengan rasa sakit ini. Saya merasa nyata, saya merasa hidup.

Bukankah rasa sakit adalah bukti bahwa kau “ada”?

Tidak apa-apa, saya sudah mulai membangung ruang bagi diri saya untuk memaafkan. Keluarga, seburuk apapun itu, memang diharuskan untuk terus bersama.




ikut giveaway saya, di sini

5 comments:

  1. Rasa sakit, sakit hati atau semacamnya itu menurutku hal yang wajar. Itu menandakan bahwa kita masih punya perasaan. Kalo yg banyak orang bilang sih, rasa sakit membuat kita jadi lebih kuat, tapi nggak tau kita mau dibuat sekuat apa???

    ReplyDelete
  2. Bukankah rasa sakit adalah bukti bahwa kau “ada”?


    Yes, tentu saja. Selama masih ada nafas di badan, rasa sakit pasti selalu ada.

    ReplyDelete
  3. Saya disini untuk memelukmu neeek *halah*
    Kalo baca entry sing berat2 kayak gini mesti aku jadi speechless eh D:

    Tapi,, how i put this? kata-kata e sampean.. kayak, hidup. Ben aku baca, lek mellow aku ikut mellow. Lek kayak gini, rasae dada ikut sesek. Dan jadi bingung mau ngomong opoh.

    Aku ndak tau apa-apa se :( tapi, saya disampingmu... *cielahh ngesok sekali XD

    ReplyDelete
  4. rasa sakit itu kalo di hati susah ilangnya tapi kalo di tubuh lebih mudah hilang....

    ReplyDelete
  5. ima: yup, mari kita cari tahu :)

    arif: hm mau gimana lagi ya, hidup memang begitu kan?

    Frey: hiks *balespeluk*

    mbak cerpenis: itu betul sekali. :)

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower