TENTANG SI CHIMER

Friday, July 1, 2011

BALADA PANTAT AMIRA


image from tumblr


Suatu ketika di sebuah gubuk kecil di tengah persawahan, hidup satu keluarga yang begitu adzan magrib berbunyi, kesemuanya akan duduk diam menonton sinetron walau tidak ada yang benar-benar memperhatikan. Bagaimana lagi? Negeri tempat keluarga tersebut tinggal, kesemua acara televisinya hanya berupa sinteron kejar tayang atau reality show tangis-tangisan. Daripada setiap hari lihat orang lain menangis, mending nonton yang lain.

Channel televisi tiba-tiba berhenti pada channel RCTI yang menampilkan wajah ganteng Atalarikh Syah.

“Pak Prabu ganteng...,” mami di keluarga tersebut mulai berkomentar dari dapur tapi kemudian sibuk membuat makan malam untuk keempat anak-anaknya.

Dua anak gadis – yang telah menginjak dewasa – mendengar sambil geleng-geleng kepala.

Satu anak laki-laki SMA dan satu anak perempuan yang masih SD lainnya di sana, ikutan menonton daripada disuruh belajar. Mereka rela setiap hari otak kecilnya dicekoki sinetron-sinetron tampar-tamparan ketimbang harus menghadap buku.

Adegan menunjukkan ketika Jasmine Wildblood – pemeran zahira – akan diperkosa.

“Tik, masuk kamar! Belajar!” saya – sebagai kakak kedua – berusaha menghindarkan adegan tersebut dari mata adik bungsunya.

“Ga mau. Mas aja ga belajar!” jawab si Bungsu.

“Mi, Tik tik ga belajar !!!“ kak pertama turut menimpali, memanaskan suasana yang sudah panas dengan adegan Zahira mendesah-desah (??) minta tolong.

“Kamu itu ya… blablablabla…,“ si mami mengomel dan adegan perkosaan itu tanpa disadari sudah berlangsung di hadapan anak-anaknya.

Misi mulia kakak pertama dan kedua… GAGAL.

Anak bungsu – yang biasa dipanggil Tik Tik pun – berlalu masuk ke kamar sambil gondok dan (tetep) gamau belajar selama masnya tidak ikut belajar. Iri hati.

Sinetron kemudian diikuti adegan ketika Pak Prabu mesra-mesraan dengan Amira.

“Mas, masuk kamar! Belajar!” mami mengomeli lagi.

Anak ketiga, laki-laki, dan dia lebih cerdas. Bukannya langsung masuk kamar, dia malah nyeletuk. “Ga mau, mau lihat kak Deva dulu,”

“Eh?” saya nyengir.

“Tuh, yang lagi digendong pak Prabu!” lanjutnya pewe.

Di tivi menunjukkan adegan ketika Amira sedang digendong pak Prabu.

”Belajar sekarang nggak!!!” bentak kakak kedua terluka, hatinya sakit dan berdarah-darah seperti disilet 
sembilu *halah*

Terlebih karena kameraman tanpa sengaja (tega) men-zoom in pantat Amira.

Si adek laki-laki kabur sebelum kakak kedua memandikannya dengan baygon satu gentong.
***
Esok hari…

Kakak kedua berdandan secantik mungkin dengan memakai celana jeans pensil terbaiknya. Harapannya, jins tersebut akan membuat pahanya terlihat seperti pensil pula.

Sebagai seorang gadis yang (merasa dirinya) seksi, si kakak kedua mulai menggoda adek laki-lakinya.

“Kakak seksi kan?” sambil striptis di depan adek laki-lakinya.

Si adik melihat kakaknya yang lagi disko cacing dengan tatapan kosong.

”Pantatnya kakak ga kaya Amira kan?” manuver kakak kedua masih terus berlanjut.

Si adik yang dari tadi bengong akhirnya menjawab, ”E-e-enggak”

TAPI… kepalanya manggut-manggut!!!

CIAAATTTTTTTTTT… KAMEHAMEHAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!

Bunuh diri ah… *harakiri pake tusuk gigi*

2 comments:

  1. lg lemot nes, emang knp gitu pantatnya amira?

    :)

    ReplyDelete
  2. hwe... ketauan mbak enno ga ngikutin cinetlon saya *halah. Perhatikan deh pantatnya Amir*, so wide~~~ haha

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower