TENTANG SI CHIMER

Monday, June 20, 2011

(S)TUCK EVERLASTING



Pengarang                   : Natalie Babbit
Tahun terbit                 : New York, 1975; Indonesia, Penerbit Atria, 2010
Penerjemah                  : Mutia Dharma
Tebal halaman             : 172 halaman
Harga                          : gretongan dari Serambi Ilmu. Yippie !!!

Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya? -- Itu adalah tagline dari novel klasik anak-anak dari TUCK EVERLASTING.

Kenapa? Merasa tidak asing dengan tagline tersebut? Mengingatkanmu dengan Edward Cullen dan Bella Swan?

Calm down, babe, novel ini diterbitkan tahun 1975 di New York. Tidak ada yang namanya plagiat dari novel Twilight Saga di sini. Dan yang pasti Tuck Everlasting, sebagaimana ciri khasnya sebagai cerita klasik, sangat kentara unsur originalitasnya sehingga Twilight Saga – ah lupakan saja novel teenlit itu! Patut dicatat, sepertinya saya masuk dalam golongan dari sedikit orang yang tidak menyukai novel Meyer-Twilight Saga yang sedang booming tersebut.

Oke deh, dari tagline… anggap saja itu suatu kebetulan yang tidak mengenakkan karena ada kemiripan dengan Twilight Saga. Atau sebenarnya Twilight saga-lah yang terinspirasi dari novel ini? Heavenknows!

So, yang sedikit mengecewakan di sini justru terletak pada kover novel ini yang bergambar seorang gadis berusia 10 tahun tengah berpakaian mengerikan dengan seekor katak di pangkuannya dengan latar sebuah hutan. Oke saya tahu! Kover ini sangat merepresentasikan isi novel ini yang terkesan “dalam” dan “gelap”. Masalahnya adalah tipe kover seperti ini sungguh kurang komersil di Indonesia. Kover yang seperti ini bisa mudah tertimbun tumpukan kover-kover novel lainnya yang berwarna cerah, mencolok, dan berwarna-warni. Saya sangat menyayangkan hal ini karena biasanya saya adalah pengagum berat kover-kover buku Atria.

Menurut saya, kover yang menipu isi buku itu menyedihkan! Namun buku bagus yang tidak tersampaikan ke pembaca karena kover yang tidak mendukung, itu lebih menyedihkan lagi. Sebab TUCK EVERLASTING ini masuk dalam kategori buku bagus dalam list saya.

Oke, masuk ke bagian isi buku untuk “merobek-robek” daging buku ini.

Supaya kalian tidak bingung, saya akan berikan sinopsis cerita dari novel berjudul TUCK EVERLASTING ini – yang mana sudah difilm-kan oleh Disney tahun 2002 yang lalu dengan pemain Alexis Bledel. Jangan tanya film-nya seperti apa, bagus, keren, dan tonton saja sendiri lah… sebab di sini saya sedang konsentrasi meresensi bukunya. Wek!

TUCK EVERLASTING menceritakan tentang seorang gadis bernama Winnie Foster yang mana keluarganya memegang kepemilikan hutan Treegap. Suatu ketika ia merasa sangat bosan dan melarikan diri. Dan saat itu ia bertemu dengan seorang pemuda tampan yang tengah minum mata air di bawah pohon raksasa, Jesse Tuck. Di sana Winnie berusaha ikut meminum mata air tersebut namun kemudian dia malah “diculik” oleh keluarga Tuck. Kemudian dimulailah perkenalan Winnie dengan seluruh anggota keluarga Tuck yang abadi alias tidak bisa menua, tumbuh dan juga mati. Konflik terjadi ketika pria bersetelan kuning berusaha mengungkap rahasia keabadian keluarga Tuck. Mae Tuck – Ibu Jesse – terpaksa membunuh pria tersebut. Kemudian diceritakan bagaimana usaha Winnie dalam menyelamatkan Mae Tuck dan juga menutup rapat rahasia mata air abadi Treegap.

Kenapa? Keliahatannya seru kan? Itu baru sinopsisnya, mamen!

Prolog dibuka dengan tiga adegan random dalam satu waktu: Mae Tuck yang akan menjemput kedua anaknya (Miles dan Jesse Tuck), Winnie Foster yang tengah berada dalam puncak kebosanan, dan terakhir adalah ketika petang hari seorang pria bersetelan kuning mendatangi rumah kediaman Foster. Di sini yang menarik adalah cara pendeskripsian Babbit yang luar biasa mengagumkan. Di awal cerita ia sudah memperkenalkan konsep circle of life (lingkaran kehidupan) dengan menggunakan konsep bianglala. Babbit berusaha merepresentasikan konsep cerita yang terkesan sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam.

Namun ada yang membingungkan saya di halaman 55. Di sana dituliskan: “bumi yang indah membuka keempat sudutnya yang luas untuknya seperti mahkota bunga…”. Heh? Apa? Bumi punya empat sudut? Apa sih? Dan saya kemudian berusaha mendownload seri asli buku ini lewat Gigapedia namun gagal karena website gigapedia masih dalam perbaikan dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Sepertinya saya memang harus membaca seri aslinya.

Kenapa saya merasa sangat penasaran?

Pertama, karena di sini banyak sentilan-sentilan kata yang membuat kita berpikir. Misalnya di halaman 6:
“kalau kaupikirkan, kepemilikan sebuah tanah adalah hal yang aneh. Sebenarnya, seberapa dalam tanah bisa kaumiliki? Jika seseorang memiliki sebidang tanah, apakah dia memilikinya sampai jauh ke dalam tanah, sampai ke inti bumi?”
It makes me laugh and think in the same time, I have no idea!

Kedua, banyak quote menarik…
Misal hal 7: “sesuatu yang kaumiliki tidak pernah menarik-jika kau tidak memilikinya barulah ia menjadi menarik.”
Hal 135: “dia melihat seberkas cahaya putih. Itu petir. Lagi dan lagi, tanpa bersuara. Itu seperti rasa sakit, pikirnya.”

Terdapat pula adegan yang secara intrinsik  memberi pesan tentang hidup…
Misalnya adegan memancing Miles – kakak Jesse – dan Winnie yang mana Winnie mulai menyadari adanya circle of live. Harus ada yang mati dan hidup di dunia ini.
Serta perbincangan “dalam” antara Winnie dan Angus Tuck – kepala keluarrga Tuck – di danau tentang mata air, keabadian yang tidak semenggiurkan yang terlihat oleh banyak orang.
Semua dikemas dengan kemasan sederhana namun dengan “isi” ekstra. Mau bagaimana lagi, Babbit memang hebat dalam mengemas cerita serius dengan sentuhan ringan – sebagaimana endorsement dari CHICAGO SUN-TIMES.

Sayangnya terjemahan buku ini masih terkesan kaku. Dan juga terdapat beberapa kesalahan ejaan. Misalnya yang saya temukan:
  • di halaman 50 “akan akan” dobel “akan”-nya,
  • hal 97 “bersetelah” yang seharusnya “bersetelan”,
  • hal 107 penggunaan “mengena” terkesan weird coba kalau pakai kata “kena” saja?,
  • hal 110 istilah “mengeletar-geletar” juga aneh coba pakai “menggelepar” saja???

Saya sangat suka cerita seperti ini. Ini cerita yang membuat kita berpikir setelah membacanya. Bukan sampah setelah sekali pakai. Sekali baca langsung buang. Wesss… tanpa kesan tertinggal. Babay, sampah!!!

Dan endingnya… endingnya… endingnya… hiks hiks… I don’t wanna be a big spoiler, but… yang pasti endingnya… beautiful ending! Ending yang seharusnya terjadi. Winnie memilih jalan yang menurutnya paling baik atas pesan bijaksana Angus Tuck. Walaupun dia mencintai Jesse Tuck, walaupun mereka saling berjanji untuk suatu saat bertemu dan hidup bersama selamanya namun Winnie memilih untuk menghadapi hidupnya seperti seharusnya. Walaupun saya sedih, saya suka ending novel ini!

Twist novel ini adalah terkait:
siklus hidup, harus ada yang lahir, tumbuh, berkembang, tua, mati, dan kemudian digantikan oleh kehidupan yang baru. Dunia harus terus bergerak agar bisa terus diperbaharui dan oleh karena itu harus ada yang mati. Dan sebenarnya kematian itu bukan sesuatu yang patut untuk ditakuti dia hanya sesuatu yang harus dihadapi. Dan Natalie Babbit mengambil ikon keluarga Tuck untuk menggambarkan kondisi ini. Dan bahwa keabadian tidak selalu seindah ketika kita membayangkannya. Oh maaaiiii dalam sekaliiii

Kesan saya terhadap novel ini hanya satu: saya lebih setuju kalau novel ini diberi judul (S)TUCK EVERLASTING sebab alur cerita dalam novel ini akan membuat otakmu terperangkap kisah ceritanya... selamanya!

6 comments:

  1. GREAT!
    Detail sekali reviewnya :)
    boleh pinjem? nguahahaha

    ReplyDelete
  2. hadehhh...jd pengen beli novelnyaa :(

    ReplyDelete
  3. Resensi yang KEREN adalah resensi yang ngebuat pembaca penasaran dengan buku yang kita resensi,

    And this entry makes me feel so curious. So... it means... resensi ini KEREN!! XD
    hahahahh.

    ReplyDelete
  4. manda: boleh,,, ke surabaya sini. haha

    m glo: belilah~~~ :)

    Frey: wah, padahal hasil resensi saya kan jahat abis lho... tunggu selanjutnya deh

    ReplyDelete
  5. Im with u nes, aku juga gk suka trilogi saga-nya si meyer :)
    soal siapa yg meniru, terinspirasi, atau apa, yeah... heavenknows ;)

    ReplyDelete
  6. iya, kenapa saya baca triloginya meyer(sampe maksa suka) kok tetep aja ga suka? sampe kepala saya pusing gara-gara maksa baca. lebay banget kan mbak. padahal saya lho suka baca buku. -_-"

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower