TENTANG SI CHIMER

Tuesday, June 28, 2011

PART I: WISATA BAHARI LAMONGAN DAN KAPAN KITA MAIN LAGI?

Sebuah penelitian menyatakan bahwa memori indah jauh lebih berharga dari benda termahal sekalipun.
Saya selalu percaya hal itu maka saya menuliskan salah satu kenangan indah saya bersama beberapa teman seangkatan HI UNAIR saya, 2008.

Pada tanggal 4 Maret 2011 akhirnya kami – saya, Renny, Oki, Arsiel, Olive, dan Lilik – berhasil melaksanakan rencana sejak tiga bulan yang lalu bahwa kami bakal jalan-jalan ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang terletak di kota Lamongan *ya iyalah*. Sayangnya Widha tidak bisa ikut karena dia lagi sibuk belajar (fiktif).

Kami berangkat dengan mobil sewaan tepat pukul 7 pagi. Saya dan Renny boncengan naik motor Absolute Revo menuju tempat mobil sewaan dan bertemu dengan Oki yang saat itu pakai baju hitam-hitam – entah mau melayat kemana -_-“.

Bersama mas-mas supir sewaan, kami menjemput Lilik dan Arsiel. Lilik sang wanita muslimah memakai baju hitam-hitam juga – siapa yang (bakal) mati ya -_-“ –  dan Arsiel sang gadis berani memakai jaket merah menyala. Kemudian kami menjemput Olive yang berdandan imut-imut dengan hot pant dan kaos biru bertuliskan Olive. Sungguh pakaian mencerminkan karakter-karakter pemakainya.

Selama perjalanan kami lebih banyak membicarakan kabar masing masing selama liburan berlangsung: kegiatan magang kami di Deplu, dan kabar Aji yang magang di Deplu. Lalu kabar anak-anak lainnya yang magang di seluruh pelosok negeri serta mereka yang ikut pertukaran mahasiswa ke luar negeri seperti Rusia, India, Filipina dan lain-lain.

Begitu sampai WBL kami langsung menyiapkan senjata untuk berpoto.

Kami berpoto di depan kandang kuda yang tidak ada kudanya (jadi kandang siapa nih?)

.
Lilik tidak mau kehilangan kesempatan berpoto dengan kekasihnya. Lama tak berjumpa, saya kini kembali padamu, memang hanya kamu yang mengerti aku… 

Oki sang pemandu jalan, sibuk membaca peta dan menentukan tujuan selanjutnya…
Yah… kami ke RUMAH KUCING yang kebanyakan kucingnya lagi bolos kerja karena hari itu hari Jumat dan juga masih pagi-pagi buta. Arsiel sibuk meneriaki: woooy, bangun, makan gaji buta! Padahal tuh kucing gaya, pakai AC dan diatur temperature suhu ruangannya. Saya yang kuliah di UNAIR – yang katanya world top university dan excellent with morality (hafalan masa OSPEK)saja seringkali kepanasan karena AC kelas rusak atau kedinginan karena AC ga bisa dikecilin. Macam mana pula… UNAIR ini…

Kami melewati Gerbang Es Krim dan menuju ARENA PERMAINAN KETANGKASAN. Lilik dan Oki mencoba basket sementara Renny mencoba lempar bola. Sedangkan saya… moto aja deh…

Seharusnya setelah itu kami masuk ke RUMAH SAKIT HANTU namun karena saya dan Arsiel sudah pernah masuk ke sana, saya dan Arsiel malas masuk lagi. Saya sih merasa mual soalnya ingat di sana banyak kain kafan beterbangan dan ketika menempel di muka saya, bau ludah orang-orang. Yaks, udah gitu, yang bikin sebel adalah ada petugas yang hobi pegang-pegang kaki pengunjung di kegelapan. Karena minimnya niat masuk kami, yang lainnya ikutan tidak masuk. Tapi kalaupun kami niat masuk sekalipun, kayanya juga ga ada yang mau ikut, wekeke…

well, setidaknya saya dan Arsiel sudah berpoto dengan salah satu penunggunya

Menuju permainan wisata bawah laut yang dikhususkan anak-anak di bawah umur, kami (jelas) malas masuk karena kami adalah wanita dewasa!


Um… mungkin… ehem… kecuali saya…

Setelah duduk di moncong hiu tersebut, sumpah paha saya sakit sekali, mas hiu… gigimu terlalu tajam merobek-robek tubuhku!

Destinasi selanjutnya adalah RUMAH KAPAL DAN KERANG. Di sana kami mengenang pelajaran Biologi masa SMA. Hm…


Mulailah kami masuk ke arena bermain memacu adrenalin. Kami menaiki DROPZONE yang kelihatan serem.
Tapi ternyata setelah di puncak, kami dihadapkan pada pemandangan laut biru luas yang indah. Dan bukannya kami (saya dan Arsiel) berteriak ketakutan, kami malah berteriak mesum: satu… dua… tiga! Go! Oh yeah… oh yeah… OH YEAAAAAH!


Maafkan kemesuman saya kami…
Lalu kami naik permainan ini yang namanya… apa ya? Lupa…
 

Dalam foto bisa kita lihat saya yang imut, Oki yang sibuk baca peta, Arsiel yang ceria menyala, Lilik wanita muslimah, serta Olive yang pegangan erat ke besi – karena badannya kebanting-banting. Lalu Renny mana ya?


Dan ternyata kami memang belum dewasa-dewasa amat. Buktinya kami terpikat untuk maen di mainan ketangkasan buat anak di bawah 15 tahun. Serta berfoto di perosotan dan di ujung kapal Titanic-titanikan.
Well, terus terang, saya tidak pernah masuk TK, jadi saya akui saya belum pernah sekalipun main di arena seperti di atas. Dan ketika saya masuk SD, rsanya sudah terlalu dewasa untuk bermain yang seperti itu. Seandainya saya tidak ke WBL dengan teman-teman saya tanggal 4 Maret yang lalu, hampir dipastikan saya tidak akan pernah merasakan permainan ini seumur hidup saya. Mengingat itu semua, saya sangat beruntung.


Lalu kami main BOM BOM CAR… yah saya cukup OOT dan mobil saya sering nyangkut di pinggir arena. Oleh karena saya (masih) punya rasa malu, saya tidak mencantumkan foto saya.






Lalu kami sampai di Tanjung Kodok. YAYYY!!!
Laut lepas yang biru, cakrawala yang luas, angin sepoi yang membelah udara, serta terik mentari Lamongan yang membara bercampur menjadi satu – menghadirkan sensasi kebebasan yang tak terlupakan.
Begoknya saya, saya pakai sepatu, padahal yang lain pakai sandal. Jadi ketika ada kerikil masuk ke sepatu saya, beginilah aksi saya…




Eaaa... saat-saat berpoto malah saya habiskan dengan mengurus kaki dan sepatu saya… -__-“
Dan betapa teganya Renny memoto saya dalam kondisi begitu ter-humiliate? *puitis*
Dan kenapa pula saya mencantumkan foto-foto di atas ya??
Ya sudahlah… saya kan memang masokis.

Dan semuanya pun… segera pasang aksi maksimal untuk berpoto.
bersambung ke  part II-->


2 comments:

  1. Wah emang pemandangan laut disana cantik sekali, semilir hembusan angin membuat refresh pikiran kita. Apalgi kalau anda bisa berkunjung ke Magetan, ada telaga sarangan yang alami dijamin gak kalah dengan pemandangan disana.

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower