TENTANG SI CHIMER

Friday, June 24, 2011

MUSUHKU TERSAYANG


deathnote -- sebuah file yang asal muasalnya terlupakan

“Dia lho… menang kulit putih doang! Mukanya biasa aja juga!“
“Ah… dia boleh jadi populer habisnya otaknya ga oke. Nilai ujian aja jeblok mulu!“
“Dia boleh pinter, tapi antisosialis abis! Memangnya hidup di dunia ini cuma bisa ngandalin akademik thok? Gimana entar dia kalau mau hidup di sosial?“
“Ah… dia menulis kan demi pelarian… sebenernya selain itu dia kan ga bisa apa-apa!”
***
Pernah dengar yang seperti itu kan? Perkataan-perkataan yang menjatuhkanmu. Perkataan-perkataan yang tidak terlalu dipikirkan oleh yang melontarkannya. Saya yakin kalian semua pernah menghadapi perkataan serupa, dari orang lain, terhadap diri kalian. Yup selalu tiba masa ketika diri kalian mendapatkan penghakiman atas eksistensi kalian.

Bagaimana ya? Kita memang makhluk yang tinggal di lingkungan bersosial. Mau tidak mau kita akan menerima penghargaan maupun penghakiman atas keberadaan kita. Lalu bagaimana menghadapi yang seperti itu? Apakah kita harus berubah, pura-pura tidak dengar atau menjadi murung?

Kalau saya ya… saya bakal manjat tower terus lompat dari ketinggian!
Haha, bercanda… *potong lidah*

Saya tidak akan bilang perkataan-perkataan di atas buruk atau baik. Saya bukan Tuhan yang memiliki kapabilitas untuk melakukan penghakiman. Saya sama dengan manusia lainnya, kadang memiliki kesalahan yang disadari namun tidak disadari.

Sebenarnya kata-kata di atas, kesemuanya pernah dilontarkan oleh berbagai mulut kepada saya. Yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Mula-mula saya berang menghadapi yangs eperti itu namun kemudian saya sadar bahwa kita tidak bisa meminta seluruh dunia untuk mencintai kita dan menghargai keberadaan kita. Pasti akan ada beberapa orang yang iritasi atas tingkah laku kita.

Bagaimana saya menghadapi pernyataan-pernyataan di atas kala itu? Beginilah saya waktu itu…

Pada pernyataan pertama, saat itu saya masih SMP dan saya balas ketawa mengejek dia: emang… kalo kulit lo putih, lo yakin bisa lebih oke dari guweh??? Kasian deh!
Pada pernyataan kedua, saat saya SMA, saya hanya tersenyum getir dan berusaha melakukan yang lebih baik dalam akademis saya walau gagal total.
Pada pernyataan ketiga saat kuliah, saya memilih pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan kehidupan saya.
Pada pernyataan keempat, saya sudah menjadi lebih bijak dari sebelumnya dan menjawab dengan senyuman: iya, emang bener, saya ga bisa apa-apa. Daripada ga bisa apa-apa trus ga produktif? Mendingan saya produktif toh ?

Kalau kalian perhatikan ada beberapa pola yang sama dalam penghakiman seseorang. Pertama, mereka yang menghakimi kita adalah orang yang merasa iritasi pada keberadaan kita entah dengan alasan mereka sirik pada kemampuan kita atau memang kita sendiri yang mengiritasi semua orang? (hade -_-“) Dari sini sebaiknya kita menemukan jawaban yang sejujurnya dari diri kita sendiri atau meminta bantuan kepada teman terdekat untuk membicarakan hal yang sejujurnya atas sifat dan tingkah laku yang tidak kita sadari. Kalau dalam pembicaraan tersebut kita menemukan orang-orang tersebut sirik dengan kemampuan kita, kita bisa terus move on dan menganggap nothing happen with them. Namun kalau sikap kita yang memang bikin iritasi, tidak ada salahnya berusaha berubah memperbaiki diri. Jadikan sarkatisme mereka sebagai dorongan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Pola yang kedua, bicara soal pelarian… bukankah setiap manusia di dunia ini selalu mencari pelarian? Saya berlari ke tulisan untuk meluapkan unek-unek. Mereka anak populer, melarikan diri pada komunitas sosial untuk mengaburkan kelemahan mereka. Anak kutu buku melarikan diri – dari kekikukkannya dalam bersosialisasi – dengan membenamkan diri pada buku-buku pelajaran. Mereka yang sombong menutupi keminderan mereka dengan memamerkan kekayaan mereka.

Setiap manusia butuh pelindung, perisai, atau topeng untuk melindungi kelemahan mereka. Setiap manusia ingin bertahan dengan cara mereka masing-masing. Entah itu dengan memakai topeng atau justru membangun tembok yang sangat tinggi. Jadi tidak ada salahnya kalau kalian melarikan diri pada sesuatu asal pastikan kamu “berlari ke arah yang benar”, pada hal yang berguna dan tidak merugikan orang lain. Tidak masalah juga kalau seseorang melihat “kelemahanmu” dan mengejekmu, hadapi mereka dengan senyuman, akui, dan lanjutkan hidupmu. Mereka yang berkomentar atas pilihan hidupmu adalah mereka yang sebenarnya ingin menarik perhatianmu, atau ingin mengenalmu dengan lebih baik. Temukan keinginan dari orang yang menghakimimu dan tentukan hubungan apa yang kamu inginkan atas dirimu dan dirinya, saingan, musuh, kritikus, atau mungkin percintaan (halah)?

Sebenarnya kamu bisa mengambil keuntungan dari orang-orang seperti mereka. Perkataan mereka bisa membuatmu menyadari kelemahanmu atau justru memacumu untuk terus maju. Dalam hidup kau akan lebih terpacu dengan keberadaan musuh ketimbang sahabat. Rasanya rumus itu sudah terlalu sering dijelaskan dalam film-film, sinetron, novel, atau bahkan komik. Kalian lihat? Setiap tokoh utama selalu butuh musuh untuknya bercermin… setiap cerita membutuhkan antagonis untuk menentukan kemana arah cerita akan berakhir.

So, pleased your enemy with your revenge!
(*buka kamus* *mewek* mbak… artinya apaaa???)
(*pasang tampang cool*)
Mari menjadi lebih baik untuk menjadikan mereka jengkel setengah mati!
(google translate error :v)

Tulisan ini bukan tentang baik dan buruk seseorang, tulisan ini tentang bagaimana kita memahami pilihan hidup seseorang, bagaimana kita menghadapi penghakiman, memahami orang yang menghakimi kita dan belajar memaafkan mereka. Bagaimana kita menjadi lebih baik dari sebelumnya dan berhenti mengeluhkan hal-hal sepele.

I want your love, and I want your revenge. I want your love and I don’t wanna be friend. Hou… caught in bad romance! – Bad Romance, Lady Gaga 

9 comments:

  1. Ah salut.
    Tadinya mau baca awalnya aja, eh keterusan, abis bagus sih -.-"

    beneran merenung deh habis ini.

    ReplyDelete
  2. setuju :D
    hehhee...dulu aq "kabur" ke Sumsel banyak yg bilang "ahh, bisa apa sih dia? makanya gak kepake di Jateng kan?"
    tapi nyatanya waktu main di kejurnas, saya yang kata mereka gak bisa apa2 tau2 di boikot gak boleh main bawa nama sumsel, mereka takut kalah sama anak sendiri...ckckckk

    org sirik emang kudu di bales dg ditunjukkin prestasi kita, biar makin gondok :D

    ReplyDelete
  3. ohohohohh poin antisosial?
    kayaknya dia ngga ngomongin depo deh
    karaktermu bukan tipe antisosial
    yah biarin dah kita kagak ayu juga yang penting... *bingung*
    yang penting nekat (loh hahahaha)

    ReplyDelete
  4. amanda: ah makasih manda... mari merenung...

    m glo: iyakah? iyakah? ooo... dasar orang sirik pantatnya burik *lho

    nyindul: anin, deva yg dulu sanguinis sekarang jadi makhluk antisosial. ah, hidup memang penuh ketidakpastian *halah* ayo, bonekmaniaaaaa *apaSeh

    ReplyDelete
  5. Uwoooohh~ berat nek XD
    tapi sumpa ya, tulisannya nenek ngena banget -__- jadi iri pingin bisa nulis kayak begitu. Semua yg saya tulis di blog kayaknya sama sekali gak mutu dan ga elit dehh.. *melirik isi blog yg dipenuhi Yaoi stuff*

    *sigh*
    iya emang semua orang selalu nyari pelarian
    para fujo melarikan diri pada setumpuk komik YAOI karna ngerasa romance dengan pairing kayak gitu lebi deep daripada pairing seharusnya

    jahh.. yg saya pikirin selalu aja yg kayak begitu. Kayak file jpg diatas. Itukan Light x L tuhh. Pairing fave di deathnote nomor dua setelah MattMello *plakked*

    huee~ DX pingin jadi manusia berguna.

    ReplyDelete
  6. tenang cucuku sayang, waktu saya seusiamu, tulisan saya sangat mengerikan. kamu masih muda, cu, waktumu untuk belajar masih banyak. yang penting jangan menyerah untuk terus belajar.

    haish, larinya ke YAOI lagi kau. ah, cu, nenek jadi pengen bacakan draft novel nenek ke kamu. biar dikasi masukan... :D

    ReplyDelete
  7. Ternyata tidak hanya aku aja yang terima kayak githu.....

    ReplyDelete
  8. semua orang di dunia pasti menerimanya kok Riu, tenang saja, tunggu saja *senyum

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower