TENTANG SI CHIMER

Saturday, June 4, 2011

EGOIS DALAM BERDOA


Setiap manusia memiliki keinginan yang tak ubahnya seperti nafsu, ia akan terus meminta sesuatu sampai keinginan kita terkabulkan, bahkan ketika keinginan kita sudah terkabul sekalipun kita pasti akan meminta lainnya dan lainnya. Tidak akan pernah berhenti. Manusia akan terus meminta dan meminta dalam doanya.

Bukan berarti terlalu banyak meminta dalam doa itu salah. Setiap manusia layak meminta kepada Tuhannya. Dan tidak ada kata “terlalu banyak berdoa”. Tidak ada. Tuhan itu sangat suka pada umatnya yang manja dan terus berdoa kepadanya. Yah, seperti seorang anak yang manja pada orang tuanya mungkin?

Anggaplah analogi hubungan manusia dan Tuhan demikian adanya.

Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah, seringkali manusia menyesali doa-doanya tepat setelah doa mereka dikabulkan oleh Tuhan. Itu aneh sekali bukan? Saya menemukan teman saya yang tekun meminta agar dia menjadi anak yang pintar. Dia juga berusaha belajar dengan tekun. Dan ya, Tuhan mengabulkan doanya. Ia menjadi sangat pintar, dia menyabet gelar olimpiade dan bisa masuk ujian STAN berulang kali. Masalahnya, pintar pun memiliki resiko, ada tekanan di sana, dan juga ada persaingan. Orang tua akan semakin menuntut supaya kita mempertahankan prestasi kita. Menurunnya akademik kita dianggap sebagai dosa dan menjadi nomor satu adalah kewajiban kita. Bukankah itu memuakkan? Ketika kita berhasil menyabet gelar terbaik, orang tua akan bilang: ya… sudah seharusnya begitu kan? Tapi kalau prestasi kita menurun, kita bakal kena omel orang tua. Grrr… saya pernah juga mengalami hal yang sama dengannya. *peluk* *senasib*

Saya juga ingat dulu saya pernah berdoa agar saya memiliki kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan terhadap saya. Saya ingin tahu apa yang orang lain pikirkan terhadap saya, apa sifat saya yang membuat seseorang tidak menyukai saya, dan kenapa mereka tiba-tiba saja menjauhi saya.

Ketika doa itu saya ucapkan saya merasa bahwa doa saya pantas terkabulkan oleh Allah SWT karena (merasa) sudah rajin sholat dan tekun berdoa. Namun kadang yang kita tidak menyadarinya adalah kita egois dalam berdoa. Ketika keinginan saya itu terkabul, saya menjadi makhluk yang lebih sensitif dari sebelumnya. Karena itu saya selalu minder dan berpikiran negatif, saya mudah tersinggung dan tidak lagi menjadi ekspresif seperti sebelumnya.

Kalau bisa dibilang, saya menyesali doa saya tersebut.
Saya meminta sesuatu yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Kadang di dunia ini memang harus ada sesuatu yang tidak perlu kita ketahui, salah satunya pemikiran orang tentang kita. Karena memang kita tidak perlu tahu. Karena kalau kita tahu, itu hanya akan menyakiti diri kita sendiri.

Yah, doa kita memang seringkali egois dan tidak berpikir panjang. Suatu ketika teman HI saya, Varian, memasang status bahwa ia berdoa pada Tuhan agar dia menjadi tampan, gentleman, bijak, dan pintar. Melihat status tersebut, saya tidak bisa tidak memperingatkannya. Saya berkata, berhati-hatilah dengan apa yang kamu minta dalam doamu. Karena seringkali apa yang kita minta adalah apa yang tidak kita butuhkan.

Pertama kali saya belajar berhenti meminta dengan egois adalah ketika dalam suatu kompetisi, saya berdoa agar saya dimenangkan. Namun setelah saya pikir ulang, doa itu sangat egois, karena kalau saya berdoa agar saya menang, itu artinya saya mendoakan agar pesaing-pesaing saya kalah. Padahal bisa saja mereka berusaha jauh lebih tekun dari saya dan layak mendapatkan kemenangan. Dan bisa saja dalam kompetisi tersebut, kemenangan akan lebih berarti di tangan orang lain ketimbang di tangan saya. Maka saya berhenti berdoa demikian pada kelas 3 SMA, semenjak itu saya berdoa kepada Tuhan agar Tuhan tidak membuat saya jatuh dan menangis ketika saya mendapatkan kekalahan dan semoga Tuhan menguatkan saya seandainya kekalahan merupakan salah satu rencana-Nya kepada saya.
Saya (berusaha) belajar lebih ikhlas dari sebelumnya dalam berdoa.

Saat ini ketika saya berdoa, saya memang masih meminta sesuatu dengan egois. Misalnya, ya Tuhan… aku ingin rencana A saya sukses. Namun di akhir doa saya selalu menambahkan. Ya Tuhan, itu keinginan saya sebagai manusia yang seringkali berbuat salah. Jika kau punya rencana lain yang lebih baik dari permintaan saya, maka laksanakan saja rencana-Mu, Tuhan. Karena aku yakin kau Tuhanku yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
Amin…

Mari berdoa dengan hati yang lebih ikhlas, kawan.

1 comment:

  1. saya suka sekali dengan tulisan ini. bahasanya yang sederhana dan mengalir langsung kehati. serasa mendengar langsung orangnya bicara didepanku. istilahku : ibarat mendengar dengan mata :)(lebay dikit ya).
    oya, aku juga punya pandangan yang sama tentang egoisnya manusia dalam berdoa. kenapa ya selalu saja di dalam doa itu isinya permohonan tentang AKU..AKU...AKU dan AKU... ?? kapan untuk orang lain disekitar kita ? jadi menurutku orang yang sudah mampu berdoa sebagian besar utk orang lain dan bukan melulu AKU adalah orang yg disayang oleh Tuhan. dan orang yg disayang Tuhan itu semua kebutuhan dan keperluannya pasti akan dipenuhi tanpa bawel-bawel minta karena Tuhan itu Maha Tahu akan segala sesuatu.
    mengenai pertanyaan menggelitik : satu tambah satu = dua ? kalo aku sih jawabannya udah bukan dua tapi 1 + 1 = 1. salam kenal dan keep writing ya.

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower