TENTANG SI CHIMER

Sunday, May 8, 2011

YANG TERDALAM, YANG TAK (AKAN) TERUNGKAPKAN


Bukannya kamu hilang, kamu cuma…

Tidak ada.

Manakah yang lebih menyakitkan? Ketiadaan atau… ketidaktahuan?



Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya masih suka jajan pentol dan makan brem murahan. Keseharian saya terisi dengan pemikiran-pemikiran sederhana yang kini sudah menjadi jauh lebih rumit dari waktu ke waktu. Pemikiran saya, dulu, ah… saya rindu bisa berpikir seperti itu.

Kamu tahu, saya anak yang tidak pernah bisa diam, kan? Kamu tahu saya selalu suka melakukan hal-hal yang saya sukai, dan kamu tahu saya akan melakukan segala hal untuk itu.

Saya, saat itu, belum begitu tahu apa yang terjadi. Saya belum tahu bahwa “hal-hal yang saya sukai” tidaklah sama dengan yang kamu sukai. Saya belum  begitu paham semua itu dan saya hanya bisa merasa aneh ketika saya berbeda dengan teman-teman saya pada umumnya.

Saya adalah murid yang pintar sewaktu SD, kamu tahu itu. Tapi bagimu itu tidak pernah cukup, kamu mau saya melakukan hal-hal lebih.

Tidak.

Kamu tidak menginginkan saya melakukan lebih.

Karena sebenarnya saya sudah melakukannya. Sejak SD saya suka mengikuti berbagai lomba dan ajang bakat dan seni sedari kecil. Saya suka ikut drum band, saya suka ikut lomba baca puisi, saya suka pendakian, saya suka ikut dewan mahasiswa, saya suka menari, saya suka menyanyi, dan saya suka menulis.

Kamu tahu itu namun sebenarnya kamu tidak menginginkan itu semua.

Kamu hanya ingin saya menjadi seperti yang kamu inginkan: duduk diam, belajar, dan mencapai nilai akademis yang memukau.

Kamu ingin saya seperti itu. Maka dari itu segala hal yang saya lakukan sia-sia di matamu.

Saya ingat, ketika SD, ketika parade drum band kami menyabet juara I tingkat kota, kami bersorak-sorak gembira. Semua orang tua memeluk putra putrinya dengan bangga dan berpoto. Tapi kamu tidak ada. Saya ingat ketika kelulusan SD semua orang tua datang dan merasa anak mereka yang terbaik. Tapi kamu tidak datang. Saya ingat, ketika saya mengikuti berbagai lomba pramuka di tingkat SMP, orang tua teman-teman saya mendukung banyak hal pada anak-anaknya. Tapi kamu tidak peduli. Saya ingat ketika kelulusan SMA, mereka pulang bersama anak-anak mereka dan memikirkan akan ke mana anak mereka nantinya berkuliah. Tapi kamu terlalu sibuk untuk memikirkannya.

Saya ingat… dan ingatan itu seringkali menyakitkan.

Saya selalu bisa melakukan banyak hal. Saya selalu mampu sendiri dan saya selalu mampu menghadapi. Saya selalu mampu bertahan dan saya selalu mampu berjalan.

Saya selalu mampu.

Dan mungkin memang benar, tidak ada yang gratis di dunia ini. Saya harus membayarnya.

Saya melakukan segalanya sendiri karena saya selalu mampu. Saya menentukan jalan hidup saya sendiri karena saya selalu bisa memilih. Saya melakukan segalanya sendiri karena semuanya pasti baik-baik saja. 
Saya selalu mampu memperjuangkan apa yang saya ingini.

Dan karena itu kamu pikir saya tidak membutuhkan bantuan.

Saya selalu mampu, begitu kamu berkata.

Dan lagi-lagi saya dibiarkan sendiri.

Saya tahu saya keras kepala. Saya tahu kamu lelah berdebat dengan saya. Tapi mungkin bisakah kita berusaha (setidaknya) membuat satu kenangan indah?

Saya ingin seperti teman-teman saya, berpoto ketika saya meraih prestasi. Saya ingin seperti teman-teman saya, yang dengan bangga orang tua mereka memamerkan kehebatan putra putrinya. Saya ingin seperti teman-teman saya yang kedua orang tuanya selalu hadir ketika dibutuhkan, menemani, dan memberi dukungan.

Tidak. Tidak. Tidak. Itu mungkin terlalu baik buat saya…

Saya tidak ingin seperti mereka. Permintaan saya terlalu banyak dan mungkin kamu akan muak mendengarkan. Permintaan saya terlalu kekanak-kanakan untuk dijalani. Lagian sudah terlambat bukan bagi saya untuk meminta hal-hal remeh seperti itu?

Saya sudah dewasa, begitu kamu bilang.

Tapi kamu lupa, saya… masih anakmu.

*sigh*

Ya, saya tahu, kata-kata ini akan terlalu menyakitkan untuk diucapkan kan? Saya tahu kamu tidak ingin mendengarnya. Dan saya memang tidak ingin menyakiti kamu.

Saya tidak ingin kamu melakukan itu semua karena saya menyampaikan kata-kata menyakitkan ini. Lagian saya juga tidak ingin kamu melakukannya karena terpaksa.

Seperti yang selalu kamu bilang,

Saya selalu mampu…

Sendiri…

Dan saya tahu kenapa saya sangat tidak menyukai Andrea Hirata dan Laskar Pelangi-nya. Dia (Andrea Hirata) sangat beruntung, dia dikelilingi orang-orang yang mendukung mimpinya.

Tenang saja…

Aliran kata-kata ini tuntas sudah bermuara padamu seorang, HeartChime sayang.

Sudah cukup.

*senyum*



3 comments:

  1. bisa kufahami bila warna itu kini kental hingga kerelung hati juga mengalir hingga jalan darahmu

    tapi bagaimanapun juga, kita tetep tak bisa mengelak bahwa 'sebagian darah dia' ada pada diri kita.

    Pesenku = cukup engkau tahu bahwa banyak orang yang sayang dan cinta kepadamu.

    itu saja - salam

    ReplyDelete
  2. entah kenapa aku hampir nangis baca ini.. :')

    ReplyDelete
  3. terkadangg..... dia terlalu sibuk untuk datang..
    terlalu jarang menemani...
    tapi sebenarnya,... kita tak pernah beranjak dari fikirannya...
    meski kita merasa tak seberuntung itu...
    sebenarnya bukan tak seberuntung itu...
    dia hanya masih merasa canggung untuk kembali karena terlalu lama meninggalkan dan lupa cara memulai menciptakan sebuah kenangan bari.. :)

    *apa'an sih komenku ini... sok puitis tapi gk nyambung... hehehe

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower