TENTANG SI CHIMER

Wednesday, May 11, 2011

PUTIH DAN ALASAN KAU MENCINTAINYA


Hampir semua orang berharap ia menjadi sang Putih. Mengapa?
Karena putih adalah lambang kebaikan. Dia adalah cahaya yang memerangi gelap malam. Dia lambang kesucian, dia adalah representasi dari harapan manusia. Putih, bersih, dan suci. Bukankah semakin banyak orang yang terobsesi dengan warna itu?

Warna putih direpresentasikan sebagai pihak yang baik, sempurna, dan tak pernah menyakiti orang lain. Semua kepositifan ada di dalamnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah… apa yang paling kamu cintai, esensi dari putih atau justru warna putih itu sendiri?

Bingung?

Kita ganti pertanyaannya, kamu suka “menjadi baik” atau “terlihat baik”?

Saya mungkin pernah terobsesi dengan yang kedua. Saya ingin “terlihat baik” dengan menjadi sang Putih. Karena apa yang saya lihat dalam layar televisi, malaikat selalu berwarna putih, bawang putih selalu baik hati dan bernasib mujur, dan segala ikon-ikon kebaikan lainnya selalu berwarna putih.
Segalanya menjadi keharusan untuk “terlihat putih”.

Saya selalu bersikap baik, manis, tidak mau menyakiti, dan juga… teraniaya! Saya selalu tidak mau membalas dan membiarkan segala hal buruk menimpa saya. Saya akan menjadi bawang putih dalam hidup saya, saya akan menjadi tokoh protagonist dalam drama kehidupan saya.

Sampai akhirnya saya beranjak dewasa dan semakin mengerti.

Warna putih itu tidak baik walaupun tidak bisa dikatakan jahat.

Putih itu tak ubahnya warna-warna lainnya seperti hijau, merah, biru, hijau, dan bahkan hitam. Mereka sama, dan esensi keberadaannya di dunia ini sama, yakni mewarnai dunia. Apa lagi yang perlu diobsesikan dari warna putih kawan? Penampilannya atau esensinya?

Menjadi pihak yang kalah dan disakiti tidak melulu merupakan “pihak yang baik”. Ada banyak alasan ketika pihak tersebut disakiti. Misalnya, pertama, karena ia sebelumnya telah menyakiti lainnya. Atau kedua, karena ia memang tidak berusaha menjaga dirinya dari rasa sakit.

Ada penderitaan di dunia ini yang diakibatkan oleh diri kita sendiri, kawan.

Contoh konkritnya, misalnya, saya, di awal perkuliahan. Saya adalah anak yang pasif dan tidak mau terlihat menonjol. Dalam berbagai kerja kelompok, saya memilih diam dan mengerjakan. Saya sedikit berbicara sebab tak ada yang mendengar. Saya punya kapabilitas yang lebih baik dari lainnya tapi teman-teman sekelompok saya malah “menginjak-injak saya” dengan cara membiarkan saya mengerjakan segala tugas kelompok sendirian.

Wao, bukankah saya sudah seperti bawang putih dalam cerita legenda Indonesia? Mungkin saja saya ini versi nyata Lala dalam sinetron Ibu Peri ?

Masalahnya, kawan, buka matamu!

Saya bukan bawang putih dan saya juga bukan Lala. Keajaiban itu bukan hadiah lotre yang dengan tiba-tiba jatuh padamu dan ibu peri itu cuma tokoh khayalan bodoh yang membuatmu terbuai dalam kejamnya dunia.
Dari sana saya sadar bahwa selama ini saya hanya mencintai warna putih itu sendiri.
Bukan berarti saya tidak percaya keajaiban, bukan berarti saya tidak percaya eksistensi Tuhan yang MahaAdil. Tapi mungkin, Kawan, berusahalah melawan! Keajaiban itu bukan ditunggu, tapi diraih! Dan keadilan Tuhan itu bukan pula ditunggu, tapi dicari!

Tuhan tidak akan mengubah nasib umat-Nya sampai kita mau berusaha.

Kalian boleh menjadi orang baik tapi jangan menjadi orang bodoh!!!

Berusahalah mempertahankan dirimu sendiri. Berusahalah untuk tidak diinjak-injak. Berusahalah mempergunakan kapabilitasmu untuk mengatur hidupmu. Berusahalah! Berusalah menjadi lebih baik walau kau tahu itu sulit, walau kau ingin menyerah sekalipun!

Dan menjadi baik bahkan tidak harus menjadi terlihat baik!

Berhentilah terobsesi pada warna Putih dan mulailah mencintai esensi dari warna putih itu sendiri!
Kamu bisa menjadi hijau, biru, merah, pink, bahkan hitam di dunia ini. Tidak perlu mengubah “warnamu”, tidak perlu memaksakan diri menjadi putih.

Berhentilah kawan, dan mulai terima eksistensi dirimu. Jika kau memang berwarna hitam, tidak apa. Jika kau memang berwarna hijau, tidak masalah. Jika kau memang merah, apa yang buruk dari warna itu?

Kalian bisa "menjadi baik” dengan cara kalian masing-masing.



Sebuah perbincangan:
A : Aduh, jurnalku numpuk! Gimana ngerjainnya nih? Blablablabla…
B : Ayo, semangat! Semangat! Kamu pasti bisa!
A : Ah, kamu mah enak! Kamu kan pinter! Kamu begini kamu begitu, blablabla…
B : loh... ya jangan gitu. Kamu harus semangat ngerjainnya, ntar nilaimu jelek loh !
A : ah, sudah ngantuk. Sudah capek. Kepalaku pusing, dan blablabla...
C : *tiba-tiba menyahut* Iya! Makanya, udah deh… nyerah aja… ga bakalan selesai malam ini. Nyerah aja loooo !!! ngapain juga ngerjain jurnal, ga penting juga!
A : *tertegun*
C : *senyum jahat*
A : Ngerjain aja deh…
C : *ketawa*




2 comments:

  1. Hmmm... Menusuk2 hatiku... Kamu benar sekali, kawan!

    ReplyDelete
  2. hahahaha,,, kamu emang ga bakal tau apa yang akan terjadi kalo kamu ga mencobanya.

    kadang menjadi baik itu perlu, tapi kalo terlalu baik yang ada digobloki
    menjadi jahat itu ga baik, tapi kalo ga "jahat" diinjek-injek

    begitulah hidup --"

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower