TENTANG SI CHIMER

Monday, May 2, 2011

KENAPA SAYA MASIH MENJOMBLO

Ada banyak rasa di dunia ini dan rasa yang paling gemar dicari dan dipenasari oleh manusia adalah rasa jatuh cinta atau jatuh hati…

Kenapa selalu ada kata “jatuh” yang mengawalinya?

Karena jatuh adalah penjelasan yang sesuai tentang kronologi terbentuknya cinta itu sendiri.  Jatuh: sebuah kejadian yang tidak direncanakan. Kadang kita bisa menjadi lebih kuat ketika bangkit berdiri atau kadang kita tidak akan mampu lagi berjalan karena luka yang diakibatkannya. Dan dari sekian banyak rasa yang Tuhan hadirkan bagi saya, rasa jatuh cinta adalah apa yang paling Ia hindarkan dari saya. Ia membiarkan saya terus disibukkan oleh kehidupan saya dan impian-impian saya.







Ketika Lilik melihat telapak tangan kanan saya, dia terkejut, seharusnya ada garis hati yang menggurat dari kanan menuju ke atas. Itu adalah garis hati dalam palmistry (ilmu membaca garis tangan). Saya tidak memilikinya. Telapak tangan kanan saya lurus dan langsung menyambung dengan garis takdir. Dalam palmistry, garis tangan saya disebut sebagai monkey line (entah kenapa namanya begitu) dan garis tangan seperti ini cukup jarang ditemukan.

Saat Ocha dan teman-teman saya bertanya: tapi kamu pernah pacaran kan? 
Saya cuma tersenyum dan berkata: garis hati saja saya tak punya, itu artinya saya tidak punya hati. Nah kalau hati saja saya tidak punya, mana mungkin saya bisa mencintai seseorang dengan sepenuh hati? 
Ocha, Lilik and the geng: eaaaaa!!!!
Jeng jeng… dan saya jadi pujangga dadakan…

Itulah cara ngeles saya yang sangat mujarab untuk mengatakan bahwa saya sama sekali belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta.

Rata-rata teman-teman saya merasakan fenomena mabuk cinta saat menginjak SMA. Saat itulah hormon mereka meledak-ledak dan pembicaran tentang belahan hati mengudara ke seluruh atmosfer. Setiap harinya mereka akan membicarakan siapa jadian dengan siapa dan siapa putus dengan siapa, mereka akan sering curhat tentang gebetan yang tidak membalas smsnya atau cowok mereka yang sama sekali ngga care dengan mereka.

Setiap jam istirahat, mereka akan keluar dari kelas dan menuju lapangan basket, untuk melihat gebetan mereka telanjang dada main basket dan menjerit tertahan ketika cowok gebetan mereka bertingkah keren.

Dan apakah yang dilakukan oleh upik abu macam saya?

Ketika mereka asik curhat, saya sibuk memikirkan bagaimana menghubungi kedua orang tua saya yang tinggal di luar kota karena saat itu saya belum punya hp dan memang harus menghubungi kedua orangtua yang entah ada di mana. Setiap jam istirahat dimulai, saya sibuk mengerjakan tugas sekolah yang tidak sempat dan juga tidak bisa saya kerjakan. Lalu ketika jam pulang berbunyi, mereka akan merencanakan akan hang out ke mana dan pakaian apa yang akan mereka kenakan di malam kecan mereka.

Sedangkan saya, saya akan cepat-cepat pulang ke kos, makan, shalat, dan berangkat kerja. Sepulang kerja, jam 9 malam, saya sudah terlalu kelelahan dan jatuh tertidur. Saya baru bangun jam 3 malam untuk mengerjakan tugas dan melakukan hal-hal yang saya inginkan. Pukul 7 saya berangkat sekolah dan baru pulang pukul setengah 4. Lalu saya akan cepat-cepat pulang ke kosan dan berangkat kerja lagi sampai pukul 9 malam. Begitu terus roda berputar dan masa SMA – yang katanya indah – saya terlewat begitu saja.

Saya kehilangan rasa masa SMA yang katanya adalah masa terindah dalam hidup. Saya tidak merasakan apa yang dituliskan dalam novel-novel teenlit atau digambarkan dalam film-film remaja semcam Ada apa Dengan Cinta, Eiffel I’m in love, dan lain sebagainya. Saya bahkan tidak punya waktu memikirkan itu.

Hati adalah prioritas terakhir dalam hidup saya.

Ketika teman-teman saya sibuk membicarakan patah hati, saya sibuk memikirkan akan makan apa besok pagi. Ketika mereka belajar, saya tenggelam dalam kesendirian kamar saya. Dan ketika mereka asyik hang out, saya bekerja untuk mencukupi banyak hal, saya mengikuti beragam lomba dan mencoba mencari penghasilan dari menulis.
Bukannya saya ingin mengeluh, saya hanya ingin mengenang masa-masa tergelap dalam hidup saya dan menerima tanpa berusaha lari lagi.

Saya pernah berkata pada kakak saya: saat ini (masa kuliah) adalah masa-masa terindah dalam hidup saya.
Kakak saya bengong: indah dari Hongkong, biasa aja kaleee…
Yang ia tidak tahu adalah – bagi saya – kebahagiaan bukanlah ketika kita mendapatkan apa yang paling kita inginkan dalam hidup. Itu terlalu berlebihan, terlalu indah, it’s too good to be trueBagi makhluk hitam seperti saya, hidup tanpa rasa sakit, adalah kebahagiaan itu sendiri.

Dan saat ini bukannya saya menutup hati saya dari rasa itu. Saya (bagaimanapun cueknya saya) juga menginginkannya. Hanya saja, saya tidak memaksakan diri. Itu sebabnya ketika melihat teman-teman saya yang berteriak “jomblo… jomblo” seakan itu adalah masalah yang besar bagi mereka, saya cuma diam saja sambil senyum-senyum. Bukan berarti saya meremehkan masalah mereka (yang jomblo, sama seperti saya), hanya saja saya lebih beruntung dari mereka. Saya belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Saya tidak pernah kehilangan rasa itu karena saya tidak pernah memilikinya.

Inilah yang disebut bahagia dalam ketiadaan, kawan *senyum

Ngomong-ngomong… stat blog saya sudah di atas 1000. Yeee… saya senang walaupun tahu sebagian stats itu adalah hasil dari orang kesasar.

Selamat datang di dunia saya. Kalau menyukainya, mampirlah kapanpun kamu mau, racikan kata saya selalu hadir tersaji bagi kalian. Kalau tidak… tidak apa-apa. Kalau benci, ya sudah, saya sudah biasa. *menerimaDenganLapangDada

8 comments:

  1. Ketika Lilik melihat telapak tangan kanan saya, dia terkejut, seharusnya ada garis hati yang menggurat dari kanan menuju ke atas. Itu adalah garis hati dalam palmistry (ilmu membaca garis tangan)--> aku g terkejut sebenarnya,aku waktu itu bingung,apa maksudnya ini?hahahaha

    Saat Lilik dan teman-teman saya bertanya: tapi kamu pernah pacaran kan? --> aku g tanya gini deh.aku g tanya aja tau dari kita PPKMB. kalau-kalau deva lupa, kita PPKMB bareng dan aku pernah ke kos pertamamu lho waktu mau ESQ di kampus C :)

    ReplyDelete
  2. haha, iya ding, yang tanya begindang Ocha, *baruingat

    hah iya? aku lali lupa, emang pas ke kosanku kita bicara apa? *lalitemenan :p

    ReplyDelete
  3. Nah, lho, kebongkar bohongnya, lol

    ReplyDelete
  4. nice writing nesya. keep ur good work. and keep posting as well.

    ReplyDelete
  5. selamaaat udah seribuuuuu :D

    wahahha sama aku yo gak punya masa2 indah SMA dan gendakan
    wakakakaaaa
    AADC dsb iku gede2 amat pemerane waktu SMA kita kueeciiill kyk unyiiill

    ReplyDelete
  6. iya nih nin. kita kena tipu Dian sastro dan bang Nicho.
    sumpah masa SMAkita serem abis!!!! *teriakGila
    @m maya: yoha, mbak maya juga deh... :)

    ReplyDelete
  7. mhmhmmhm..
    kayaknya ini stuasi ini sdag melanda saia...
    krena sibuk dngn pkerjaan dan cita2 yng blum digapai...
    "sesuatu akan indah pada waktunya"..
    amin..:)

    ReplyDelete
  8. mbak saya suka tulisan nya,,,
    hidup tanpa rasa sakit adalah kebahagian tersendiri
    hahaha,,, :)

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower