TENTANG SI CHIMER

Saturday, May 14, 2011

GALAU ITU (BUKAN) AIB



Kata galau mulanya heboh beredar di tweeter, sampai-sampai ada istilah WIG (Waktu Indonesia bagian Galau) ketika mereka aktif di jejaring sosial di atas jam 12 malam dan menuliskan kegalauan mereka. Ya, saya juga sering online pada waktu-waktu tersebut, walau tidak melulu dalam kondisi galau.

Anin, teman SMA dan juga teman blogger saya, pernah sekali bicara dalam statusnya, bahwa untuk menulis kamu tidak perlu teknik yang hebat, kamu mungkin hanya butuh “hati yang retak”.

Saya akui apa yang dikatakannya benar. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mengalir dari hati. Dan “hati yang retak” mungkin adalah stimulus terkuat bagi kebanyakan seseorang untuk mulai menulis. Yang saya pertanyakan di sini. Bagaimana mungkin masih ada orang yang menghakimi tulisan galau seseorang?


Saya punya seorang teman yang sangat pintar menulis, Nadia namanya. Seingat saya, dulu waktu SMA, diantara TRIO DOBOL (yang terdiri dari saya, anin, dan dia) dia adalah makhluk yang paling produktif dalam hal tulis menulis. Saya bahkan berani berkata bahwa tulisan dia adalah yang terbaik di antara kami. Dia bisa membuat novel dalam ratusan lembar dan bahkan jumlah novel yang dihasilkannya sangat banyak sampai saya tidak bisa menghitung.

Diantara kami bertiga, Anin beruntung karena novelnya yang pertama kali diterbitkan. Sementara saya dan Nadia harus menunggu lama-lama-lama… walaupun kontrak sudah diteken sekalipun.
Saya kemudian baru menyusul Anin di tahun ini, lima tahun setelah novel perdana Anin diterbitkan (saya pakai kata perdana, agar ada kata kedua, haha). Sementara Nadia…

“Aku sudah nggak bisa nulis lagi,“
“Alasan!“ saya menyahut.
“Iya, alasan!“ Anin ikut menimpali.

Dan Nadia hanya tertawa.

Suatu ketika saya menemukan alasan kenapa Nadia berhenti menulis, dalam sebuah percakapan Facebook (Mungkin kapan-kapan akan saya post hasil perbincangan kami, saya belum tahu caranya printscreen).

Dulu, sewaktu friendster masih heboh, Nadia sangat aktif membuat note-note yang isinya curahan hatinya. Kebetulan saat itu hatinya sedang retak karena baru saja putus dengan pacarnya. Setiap hari bisa 3 note sekaligus ia ciptakan. Saya biasanya menanggapi note itu dengan komentar-komentar ringan seperti: aduh, capek deh… sabar ya… semangat!… atau kadang kumat deh

Masalahnya adalah… tidak semua orang mengenal Nadia dan kelebayannya – sebaik saya. Saya yang sudah full dengan tingkah laku lebaynya akan dengan santai menanggapi note-note lebaynya tersebut.

Namun yang terjadi adalah kebanyakan dari mereka yang membca tulisannya menghakimi tulisan-tulisan galau Nadia dengan berbagai pandangan miring seperti kata-kata: lebay deh… biasa aja deh… desperate banget sih… dan kata-kata lainnya yang akan terdengar menyakitkan bagi orang yang sedang sensitif.

Semenjak itu Nadia berhenti menulis… sama sekali!

Lihat? Betapa kata-kata mampu mempengaruhi seseorang?

Satu patah kata tak hanya mampu memperbaiki hati orang lain, ia juga bisa dengan mudah mematahkannya!

Seseorang seringkali lupa bahwa di dunia ini bukan dia satu-satunya orang yang memiliki hati. Mereka lupa bahwa ketika ia menghancurkan hati seseorang, ia belum tentu bisa mengembalikannya seperti semula.

Sekarang ketika Nadia berhenti menulis sama sekali. Adakah yang berani memastikan ia lebih baik daripada ketika dulu – ketika ia sering menulis note-note galau?

“Setidaknya ia tidak memalukan dirinya di depan umum,”???

Benarkah? Apa kamu bisa memastikan Nadia tidak bertingkah memalukan di depan umum lagi?

Saya percaya, bahwa hati yang luka selalu butuh medium untuk disalurkan. Begitu pula mereka yang mengalami masalah yang berat, mereka yang patah hati, mereka yang gagal, depresi, mereka butuh medium untuk berekspresi. Menulis mungkin adalah ekspresi paling bebas dari seorang introvert semacam saya.

Menulis memang bukan solusi tapi ia membuat saya “bertahan”.

Sekarang, ketika kata-kata kejam tersebut menutup medium itu, ke mana mereka akan berekspresi?

Kamu mau jadi mediumnya? Kamu mau setiap saat mendengar curhatannya? Tangisannya? Keluh kesahnya? Rengekannya? Dan tetek bengeknya? Kamu mau tidak? Jangan kabur, tanggung jawab dong!

Nah, kalau kamu tidak berani tanggung jawab mencarikan medium bagi ekspresi galau mereka yang tertuang dalam sebuah kreativitas serupa tulisan, jangan sok menghakimi. Jangan berkata seakan-akan itu hal yang memalukan. Jangan seakan-akan kamu lebih baik karena kamu tidak menuliskan kegalauanmu!

Saya yakin seratus persen kamu pernah galau. Mungkin kamu mengekspresikannya dengan cara yang jauh lebih buruk dari Nadia. Mungkin kamu ke diskotik, merusak tubuhmu, menghamburkan uang, bertingkah temperamen pada kawan-kawanmu… yah, itu urusanmu… *apatisAbis

Saya cuma berharap. Bagi para galauers, jangan pernah berhenti menuliskan kegalauanmu. Jangan merasa malu hanya karena kelemahanmu terlihat. Jadilah diri sendiri (setidaknya) dalam tulisanmu.

Setiap hari – ketika kau keluar dari kamarmu, menghadapi dunia –tersenyumlah, berjalanlah dengan ceria, hadapi masalahmu. Namun ketika kau menghadapi layar laptopmu, merenung, dan menggalau ria… tak ada salahnya menjadi dirimu sendiri.

Bagi saya, tak masalah kalau manusia memakai “topeng”, sebab topeng bisa jadi adalah jalan keluar untuk mempertahankan diri. Tapi tak ada salahnya juga kalau sejenak kita menanggalkan “topeng” kita untuk jujur pada diri sendiri. Topeng hanya berguna ketika kau menjalani hidupmu sehari-hari, namun ketika kau tengah dalam proses “menyembuhkan hatimu”, tanggalkan… dan lihat “yang terdalam” dari hatimu.

Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini hanyalah...

Teruslah menulis, kawan… tidak peduli segalau apapun itu… semengerikan apapun hasil tulisanmu!


salam orasi membara,
MERDEKAAAA!!!

6 comments:

  1. hahaha sip deh... bagi saya galau emang proses pendewasaan. tapi tetep.. ada takaran tertentu.. ga bisa berlebihan. tapi kalo soal nulis-menulis bagiku jauh lebih baik kalo kita ikut mengekspresikan suasana hati. tapi kalo itu berdampak sampai kesehariannya jadi galau. no! ga bisa ditolerir. ahahahaha :p

    ReplyDelete
  2. wah, kenapa deva begitu perhatian ma aku ya?
    Tenkyu bebh,
    kykna aku jd ide nulis ini y?
    Kayaknya kamu mesti post di notes di fb deh, biar bs dbaca oknum yg bersangkutan trsangka yg mbuatku brhenti menulis.

    ReplyDelete
  3. merdekaaaa nulis di blog aja paling merdekaaa socmed kurang merdekaaaa

    ReplyDelete
  4. wida: iyalah cynt... :D

    nad: yuuuk...

    anyin: merdekaaaaa!!!

    ReplyDelete
  5. kenapa nadia ga bisa jadi diri sendiri ?
    kalo aku jadi dia pasti gak peduliin mereka,

    meskipun sesampah apa postingannya, sejelek apa tulisannya. yang jelas aku hanya melakukan apa yang aku anggap benar ~ hahaha

    semangat nad, udah banyak yang udah kamu capai, masak iya mau berhenti ditengah jalan ? yah, postingan punya sapa, komentar buat sapa :D haha

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower