TENTANG SI CHIMER

Monday, May 23, 2011

BLACK SWAN: TRANSFORMASI ANGSA PUTIH MENUJU YANG TERGELAP


Tahun Keluar : 2010
Negara Asal: USA
Sutradara: Darren Aronofsky
Cast: Natalie Portman, Mila Kunis, Vincent Cassel, Barbara Hershey
genre : thriller psikologi


Apa tanggapan dari kebanyakan kawan-kawan saya tentang film ini hanya ada dua:

Pertama, film ini bagus.
Kedua, film ini membingungkan.

Bagi saya pribadi, film ini memiliki relasi kuat dengan selera pribadi saya karena karakter yang dimainkan sangat apik oleh Nathalie Portman sebagai Nina sedikit banyak mirip dengan saya.

Mungkin tidak banyak yang mampu mengapresiasi film ini seperti saya. Kebanyakan dari mereka yang menyukai film ini hanya bilang bahwa akting Nathalie Portman bagus, adegan ini bagus, tarian itu bagus, dan bahwa ceritanya menarik. Bagi saya tidak demikian. Black Swan layak mendapat apresiasi lebih dari itu semua.

Cerita berawal ketika Nina – salah satu penari terbaik di perusahaannya – memimpikan dirinya menarikan tarian Swan Lake dengan koreografi yang berbeda dari biasanya yang mereka pentaskan. Patut diketahui bahwa primadona perusahaan balet tempat Nina bekerja tengah dipegang oleh ballerina yang sudah berumur bernama Beth (dimainkan oleh Winoma Ryder). Nina tinggal bersama ibunya yang mantan ballerina bernama Erica (Barbara Hershey). Di sini ibu Nina – Erica – sangat mendukung kalau tidak bisa disebut menuntut ambisi Nina untuk menjadi primadona dalam pementasan balet Swan Lake.

Masalah bermula ketika artistic director pementasan bernama Thomas Leroy (dimainkan oleh Vincent Cassel) memutuskan untuk mengganti dengan paksa Beth karena masalah usia. Ia mencari bibit baru sebagai Ratu Angsa, di sini kompetisi terjadi antara Nina dan salah seorang teman balerinanya. Dalam Swan Lake pemeran angsa putih dan angsa hitam haruslah satu orang. Walau dalam realitanya terlalu sulit menemukan yang seidealis itu namun Thomas berambisi mendapatkan ballerina yang mampu menarikan keduanya sekaligus.

Dalam audisi, Nina menarikan White Swan dengan apik dan Thomas memujinya. Ia berkata:

Seandainya, ini tentang pementasan Angsa Putih saja, pasti kamulah yang akan mementaskannya!

Maka Nina diminta untuk menarikan Black Swan dan dapat ditebak… Nina yang terobsesi dengan kesempurnaan, terlalu mengontrol segala gerakannya dan gagal menarikan bagian Black Swan  yang memiliki karakter lepas kendali, seksi, dan seduktif.

Nina sempat putus asa namun kemudian berusaha menyakinkan Thomas bahwa ia mampu menarikan kedua bagian angsa sekaligus. Thomas menerima tantangan Nina secara insting. Ia memilih Nina sebagai The New Swan Queen.

Sampai di sini segalanya masih tampak normal-normal saja walau ada beberapa bagian scene yang menampilkan sikap aneh Nina terhadap dirinya sendiri. Entah ia menggaruk punggungnya sendiri dengan tidak sadar, atau ia melihat dirinya sendiri dalam versi hitam. Dalam pesta pengumpulan dana pementasan sekalipun, ada adegan ketika kulit tangannya berkelupas, Nina yang tak suka penampilannya ber-celah, mengelupas kulit tangannya begitu saja, namun setelah dikelupas ternyata (sebenarnya) kulit tangannya baik-baik saja.

Tokoh penentu dari cerita ini adalah Lily (Milla Kunis) seorang balerina baru yang mampu menari dengan lepas sekaligus seduktif. Thomas kagum pada Lily dan menyuruh Nina mempelajari gerakan Lily. Karakter Lily ini dimainkan Kunis dengan sangat baik karena kita akan dibuat menebak-nebak apakah Lily ini baik atau jahat. Yang paling heboh, adalah adegan lesbian sex antara Nina dan Lily. Soal adegan ranjang dan ekspresi wajah, jangan pernah ragukan Nathalie Portman oke? Kau akan dibuat terkagum-kagum dengan perubahan ekspresi wajahnya yang luar biasa menarik. Saya sampai dibuat godeg-godeg sama ekspresi wajah Portman karena terlihat benar-benar natural saat beradegan ranjang, padahal scene ini Portman masih mengenakan bra-nya, begitu pula Kunis, dan kamera hanya menampilkan separuh badan saja.


ketika Nina dilatih Thomas yang rada-rada mesum gitu

Masalah dalam film black swan meruncing ketika Beth sengaja menabrakkan diri dalam sebuah kecelakaan yang membuatnya cacat. Nina juga berulang kali gagal menarikan bagian Black Swan karena terlalu memikirkan agar gerakannya terlihat sempurna dan tidak ber-celah sementara waktu pementasan semakin dekat. Thomas melakukan berbagai pendekatan secara seksual untuk memicu “bagian hitam” dari Nina namun tidak banyak perubahan yang diberikan Nina. Sampai malam sebelum pementasan, Thomas mengajukan Lily sebagai Swan Queen cadangan jika sesuatu terjadi pada pementasan yang dilakukan Nina.


Di sini Nina menyadari perasaan Beth – yang terbuang begitu saja – dan mengunjunginya ke Rumah Sakit untuk mengembalikan beberapa barang-barang Beth yang dicurinya. Nina sedari dulu sangat mengagumi Beth karena ia adalah primadona yang mampu menarikan segala peran baletnya dengan sangat “mengguncang” dan “hidup”. Oleh karena itu, Nina sedikit banyak ingin menjadi seperti Beth walau kemudian ia menyadari dunia Beth tidak semenyenangkan itu.

Kemudian adegan thrilling dari film ini berlangsung ketika Beth menusuk wajahnya sendiri dengan belati miliknya. Nina berusaha menghentikannya namun tidak berhasil, ia lari menuju lift, masih dengan shock. 

Anehnya, belati itu tiba-tiba saja berada di tangannya!

Kemudian ia pulang dan sikap ibunya yang menakan semakin membuatnya depresi. Ia – entah kenapa –berubah menjadi angsa hitam dengan bulu hitam yang muncul di bekas garukan di punggungnya.
Masih bingung dengan isi cerita ini?

Jangan khawatir, cerita ini masih sangat membingungkan sampai adegan ketika Nina tengah mementaskan Swan Lake. Ia terjatuh dalam menarikan white swan dan mendapat banyak teguran di balik panggung. Ia menangis dan berlari masuk ke dalam ruang rias. Dan ia mendapat kejutan! Taraaaa… ada Lily yang tengah bersiap berdandan sebagai The Black Swan. Mereka saling bertengkar dan diikuti oleh perkelahian yang merenggut salah satu nyawa di antara mereka.

Yap! Seratus! Tentu saja Lily yang mati! Secara Nina lakonnya, masa mati di tengah jalan?

Lily tertusuk pecahan cermin dan mayatnya disembunyikan di sebuah ruang kecil. Nina pun segera bersiap berdandan ala Angsa Hitam walau masih shock dengan kejadian barusan. But show must go on, right?

Bisa ditebak bahwa kemudian Nina secara tiba-tiba mampu menarikan The Black Swan dengan sangat sempurna. Ia berubah dari Nina yang putih, lemah, dan innocent menjadi Nina si Angsa Hitam yang hitam, kuat, dan seduktif. Nina mendapat banyak sanjungan dan tepuk tangan. Perasaan saya saat menonton bagian ini, saya merinding cacing. Sayangnya scene ini tidak terlalu panjang.

Ia kembali ke ruang rias dan bersiap memainkan adegan akhir sebagai Angsa Putih. Anehnya, tok tok tok… ada yang mengetuk pintu…

Pintu dibukan dan eeeeaaaaa…..

Lily tiba-tiba muncul sembari mengucapkan selamat atas keberhasilan Nina.

Nina terus gimana? Ya ndlongop…

Saya dan teman-teman saya? Yah, ikutan ndlongop dong…

Ketika Nina membuka ruang tempat ia menyembunyikan mayat Lily, ternyata… kosong! Dan pecahan kaca yang menusuk perut Lily sebenarnya berada di… perutnya sendiri!

Bagus…!!!

Swan Lake adalah cerita tentang sang Putri innocent yang dicintai oleh seorang Iblis. Ketika sang Iblis tidak berhasil mendapat hati sang Putri, ia menjadi kecewa, dan menyihir sang Puteri menjadi seekor angsa putih. Masalahnya adalah… sang Putri masih saja mencintai sang Pangeran kendati ia telah berubah menjadi seekor angsa sekalipun. Dalam sebuah pesta dansa, Iblis tersebut menyamar menjadi sang Puteri dalam bentuk angsa hitam dan menggoda sang Pangeran. Sang pangeran pun tergoda. Dalam film Disney, dongeng ini tentu saja sudah dimanipulasi sedemikian rupa sehingga sang Putri akhirnya bersatu dengan pangeran, menikah dan hidup bahagia selama-lamanya. Namun cerita yang sebenarnya adalah… kendati sang Pangeran meminta maaf karena tergoda oleh Angsa Hitam, sang Puteri sudah terlalu hancur hatinya…

Kalau kau benar-benar mencintaiku, seharusnya kamu bisa membedakan itu aku atau bukan…

Sang Puteri pun mengakhiri hidupnya.

Begitulah isi cerita pementasan dalam film Black Swan ini.

Saya pribadi sangat menyukai karakter yang dibentuk oleh Nathalie Portman. Akting Portman memang jempol sekali. kalau saya bisa beli jempol orang lain, bakal saya beli dan saya kasihkan ke Portman *gaMungkinAbis* *bodoAmat* *emangGwPikirin*

Kelemahan dari film ini adalah… sedikit penjelasan sehingga penonton dipaksa memikirkan film ini setelah menontonnya. Saya pribadi tidak menganggap ini sebagai sebuah kekurangan. Saya memahami Nina yang memendam bagian terhitamnya dalam-dalam karena terlalu takut bagian hitamnya menguasai. Saya juga memahami kenapa Nina punya penyakit tidak sadarkan diri ketika menggaruk tubuhnya karena saya juga demikian. Saya menyebutnya itu alergi, namun saya tahu sebenarnya itu tidak murni alergi. Saya tidak selalu menggaruk ketika memakan pantangan alergi, namun seringkali garukan itu terjadi ketika saya merasa “tidak cocok” dengan sesuatu, misalnya sedang kesal, jengkel, sebal, dan garukan tersebut seringkali dilakukan dengan tidak sadar. Seharusnya ketika semakin dewasa (kata dokter saya) penyakit ini akan hilang dengan sendirinya karena saya akan lebih mampu mengatur emosi saya. Sayangnya, dokter itu salah besar, semakin dewasa, justru tingkat permasalahan akan semakin meninggi dan manajemen emosi akan semakin sulit dikendalikan. Huh… *sigh*

Dan terkait karakter ibunya Nina, Erica yang pemaksa dan tidak menghargai privasi anaknya, itu sedikit banyak mempengaruhi karakter Nina. Nina tidak diberi ruang untuk mengungkapkan. Dalam banyak scene ditunjukkan bahwa Erica ini selalu memanggil Nina ketika ia sedikit lama di dalam kamar mandi, ketika tidur sekalipun Erica terus menunggui Nina. Bahkan tak satupun ruangan di dalam rumahnya yang memiliki kunci brendel sehingga Erica bebas mengakses semua ruang tanpa memedulikan arti privasi bagi Nina. Kadang orang tua juga bisa melakukan kesalahan yang tidak disadarinya. Kadang bentuk cinta yang ia berikan justru bisa menyakiti anak-anaknya. Yah, tidak ada yang sempurna. Satu-satunya cara membenahi hubungan seperti ini kadang memang harus memisahkan diri agar tidak saling menyakiti.

Semakin dewasa saya semakin memahami bahwa memang ada bebarapa hal yang tidak bisa berjalan seideal yang kita inginkan. Kadang kita harus mengambil jalan yang “dipandang buruk” oleh kebanyakan orang. Kadang kita memang harus menerima resiko atas pilihan tersebut. Namun ini hidup kita, memutuskan dan mengambil resiko adalah implikasi dari hidup itu sendiri. Jalani saja…

Kembali ke Black Swan, di akhir film Nina tersenyum dalam scene terakhir mengucapkan:

Aku merasakannya! Aku… sempurna!

Itulah perasaan ketika ia berhasil memerankan angsa putih dan angsa hitam sekaligus. Nina sama sekali tidak menyesali semua perbuatannya. Ia tersenyum. Ia merasa bahagia karena untuk pertama kalinya ia merasa sempurna dalam arti sesungguhnya.

Yah, manusia itu memang disebut sempurna karena ketidaksempurnaannya. Ketika kau bisa melakukan kesalahan dan lain sebagainya. Itulah hakikat sebenarnya dari manusia itu sendiri.

Bukan berarti saya membenarkan sikap Nina yang suka menyakiti dirinya senidri, menusuk-nusuk wajah Beth atau bahkan mereka-reka kejadian buruk dalam hidupnya hingga ia menikam dirinya sendiri untuk “membebaskan”. Saya hanya memahami saja kok…

Inilah apresiasi saya terkait film Black Swan. Ini film yang bagus dan juga kelam. Mungkin karena sebagian pekerja seni yang terlibat dalam pembuatan film ini berasal dari Rusia. Pesona kekelaman Rusia sangat tergambarkan dalam setting suasana film ini. Ini jenis film thriller dengan tingkat originalitas yang tinggi sebab saya (sejauh ini) belum pernah menemukan film thriller dengan tema utama balet. Asyik sekali bukan?

Gerakan ballet Portman dan Kunis di sini juga sangat baik. Walau pada adegan akhir ketika Portman menarikan bagian Black Swan, ia berubah menjadi angsa hitam sungguhan dengan bulu hitam tumbuh di sekujur tubuhnya, (menurut saya) sangat mengerikan. Saya ga suka bagian ini. Lalu pakaian balet Nina memang terlalu kebuka sampai-sampai dadanya hampir kelihatan dan agak melorot-lorot gitu… serem…
Overall, pantaslah film ini menjadi primadona tahun 2010 yang lalu.

Ngomong-ngomong, stats saya sudah 2000 ini cint… makin banyak aja yang nyasar ke sini…

Oh iya, akhir akhir ini aneh, saya ga bisa upload gambar, jadi tulisan saya akan serasa hambar tanpa gambar-gambar tersebut. Doakan semoga lancar lagi ya... ;)

5 comments:

  1. kok jadi inget si LUCKY ... si ballerina itu tuhhh hahahahahaha

    ReplyDelete
  2. iya, mana ya sekarang nopel itu... *lirik

    ReplyDelete
  3. cerita kelam tentang pribadi seorang seniman. akting portman memang bisa dijadikan jaminan film2 sukses ya :)

    ReplyDelete
  4. iya... bagus bangeeeett aktingnya...

    ReplyDelete
  5. Pertanyaannya cuma satu... "kenapa artikel ini g menjelakan apa nina punya kelainan mental semacam OCD atau mungkin schizophrenia" krn mengingat ada adegan2 panas bersama kunis yg sebenarnya itu cm halusinasi saja...

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower