TENTANG SI CHIMER

Tuesday, April 12, 2011

TUHAN, SAYA TAKUT MENJADI WARAS





Jika orang lain merasa takut jadi gila, saya justru merasa sebaliknya. Bagi saya, hidup itu harus dijalani dengan menjadi orang gila agar bisa bertahan dari gilanya dunia.

Ada banyak hal di dunia ini yang sangat buruk sehingga kadang saya merasa dunia sudah waktunya dihancurkan dan dibumihanguskan, menjadi debu. Namun saya masih juga (berusaha) percaya bahwa masih ada kebaikan di dunia ini yang patut untuk dipertahankan.

Dan alasan yang kedua lah yang membuat saya terus bertahan di sini, terjebak di antara nyata dan maya. Antara sadar dan alam mimpi. Saya kadang sengaja berjalan dengan mata tertutup dan membayangkan imaji bermain di otak saya. Sesekali saya akan membuka mata dan menatap realita yang ada. Kemudian menutup mata lagi… dan kembali berjalan…

Saya masih manusia, begitu pikir saya, ketika saya merasa sakit. Saya senang, rasa sakit membuat segalanya menjadi terasa “nyata”.

Mungkin ini yang disebut dengan phobia kebahagiaan.

Ketika saya merasa kebahagiaan yang meluap, saya merasa sangat takut. Saya takut apa yang saya rasakan ini hanya halusinasi. Saya takut saya hanya bermimpi dan ketika membuka mata saya akan dihadapkan oleh sesuatu yang jauh lebih buruk.

Reaksi seperti ini muncul, misalnya, ketika novel perdana saya diterbitkan. Pada umumnya seseorang akan merasa sangat bahagia atas prestasinya tersebut. Namun saya tidak demikian. Sejujurnya, saya merasa sangat takut ketika itu. Saya menghilang dari jejaring facebook selama berita itu sedang hangat-hangatnya. Saya merasa sangat takut, entah dengan alasan apa, saya tidak memahaminya dengan baik.

Dan apakah kamu masih ingat tulisan saya yang lalu, berjudul MASOKIS TINGKAT AKUT?

Di sana saya berjanji akan belajar menjalani hidup, menerima kenyataan dan berusaha mengobati luka-luka saya.

Tapi bukankah jalan keluar semua masalah di dunia ini sebenarnya sangat sederhana,  hanya saja begitu sulit dijalankan?

Mengatakan tidak semudah menjalankannya. Itulah yang terjadi pada saya saat ini.

Dalam perjalanan, ketika saya memunculkan kembali memori-memori buruk saya di masa lalu, dan mencoba menerimanya. Dada ini terasa sakit dan kerongkongan saya seperti tercekik. Rasanya sedemikian sakit sampai saya harus meremas dan memastikan bahwa jantung saya masih berada di tempatnya, berdetak, dan saya masih dalam keadaan “ada”.

Yang sebenarnya, saya takut menjadi waras…
Saya takut kalah ketika saya harus berhadapan pada kenyataan yang ada, saya tidak mampu bertahan.
Ini seperti peperangan melawan musuh terberat, diri saya sendiri.

Kemarin Tuty berkomentar, setelah membaca dua novel saya yang terakhir, dia bilang:

kenapa kamu selalu ingin menularkan kegelapanmu pada semua orang? Tidakkah kamu ingin membuat orang lain bahagia setelah membaca tulisan-tulisanmu? Kamu curhat di novelmu, kamu sadar?”

Saya sangat tertohok dengan kata-katanya. Yang membuat saya tertohok adalah… saya baru sadar bahwa yang dikatakannya benar.

Saya melarikan diri melalui fiksi, saya menutup mata, dan bermain-main dalam fantasi. Dengan kata lain, tanpa sadar saya telah membuat diri saya kehilangan kewarasan. Saya sangat sedih dan jantung ini seakan semakin seperti diremas-remas.

Saya ingin waras di lain pihak, saya juga merasa takut. Saya takut ketika saya waras, saya tidak mampu bertahan. Dan mungkin rasa sakit yang saya coba lupakan selama ini akan menjadi semakin luar biasa hebat, terakumulasi sejak awal saya mengabaikannya.

Saya pernah congkak dengan mengatakan saya mati rasa, saya tidak punya hati untuk disakiti, bahwa saya selalu mampu bertahan. Pada kenyataannya saya rapuh dan hanya berpura-pura “baik-baik saja”.

Saya munafik.

Mungkin ketika Tuty sedang berjalan-jalan di blog saya dan tanpa sengaja membaca tulisan ini saya ingin sekali mengatakan terima kasih padanya. Dan ya saya mengakui kemunafikan saya.

Saya percaya setiap orang selalu mencari media untuk menyalurkan rasa sakitnya. Kakak saya, misalnya, dia suka melihat saya menderita karena itu membuatnya merasa lega – bahwa satu sisi, dia lebih beruntung dari seseorang, yaitu saya, adiknya. Atau Renny, misalnya, ia suka mengumpat dan menggerutu, hanya untuk menyalurkan rasa kesalnya.

Begitu pula saya, saya menyalurkan rasa sakit saya melalui tulisan-tulisan saya.

Ini lah apa yang saya sebut dengan TRANSFER RASA SAKIT.

Saya tidak memilih makhluk hidup yang berhati seperti kakak saya untuk dikerjai, saya juga tidak membiarkan saya berekspresi bebas seperti Renny, namun saya memilih menulis.

Sayangnya, adalah… ketika saya pikir menyalurkan rasa sakit jauh lebih baik dilakukan pada medium tak bernyawa, seperti tulisan, saya kemudian sadar… saya tidak lebih baik dari Kakak saya dan Renny.

Medium yang saya gunakan tak hanya mempengaruhi satu orang, ia mampu mempengaruhi banyak orang. Karena saya menuliskannya, dan semua orang membacanya!

Saya tahu selama saya masih bernafas, saya pasti menyakiti lainnya, baik itu melalui tulisan-tulisan saya, atau perkataan saya atau perbuatan saya.

Untuk itu saya memohon maaf karena saya harus menjadi egois…

Tapi bukankah menyakiti dan tersakiti adalah fase yang tidak terelakkan dalam kehidupan?

Justine – boneka Teddy Bear – dan Woopie – ikan cupang perliharaan – mungkin teman curhat yang baik. Mereka mendengar tanpa sekalipun menghakimi. Mereka menerima dan tidak akan pernah menolak saya. Tapi, Tuhan, mungkin hanya kamu teman curhat saya yang terbaik, kamu tak hanya menerima dan mendengarkan saya, kamu juga memahami.

Kamu tidak pernah menolak saya hanya karena saya menjadi diri saya yang sekarang.

Dan bagi saya saat ini, itu sudah lebih dari cukup…

Follower