TENTANG SI CHIMER

Monday, April 4, 2011

THE POWER OF SILENCE

            Amatullah (Jyly) Amstrong, seorang sufi wanita Australia, mengatakan bahwa musik terindah baginya adalah keheningan malam saat ia berdoa kepada Allah SWT.1 Penyanyi dan penulis lagu Paul Simon pun mungkin paling diingat karena lagunya yang berjudul “The Sound of Silence” (Suara Diam). Bagi sebagian orang lagu yang dinyanyikan oleh Paul dan Garkunfel ini mengandung kata-kata yang paradoksial sekaligus merujuk pada kekuatan diam saat berkomunikasi.2 Merunut dari sejarahnya, lagu itu adalah cerminan sikap kebisuan para tentara Amerika sepulang dari perang Vietnam. Mereka memilih diam atas kengerian yang mereka saksikan di sana.3
            
Penulis dan filosof Amerika Henry David Thoreau pernah menulis: dalam hubungan manusia, tragedy dimulai bukan ketika ada kesalahpahaman mengenai kata-kata melainkan ketika diam tidak dipahami. Sayangnya makna diam seringkali terikat oleh budaya dan faktor-faktor situasional.4
            Pandangan budaya Timur tentang diam berbeda dengan pandangan Barat. Pada umumnya orang Timur tidak merasa tidak nyaman dengan ketiadaan suara atau perbincangan dan tidak merasa terpaksa untuk mengisi setiap jeda ketika mereka tengah terlibat dalam suatu pembicaraan. Bahkan banyak masyarakat yang berbagi konsep diam percaya bahwa kata-kata justru hanya akan “mencemari” suatu kejadian dan bahwa kebijakan dapat muncul melalui diam. Dapat kita lihat pernikahan agama Budha yang diadakan dalam kediaman dan banyak peribahasa Jepang yang menekankan makna diam, seperti: “Sekuntum bunga tidaklah berbicara”. Di negara kita ekspresi diam paling spektakuler diwakilkan oleh Upacara Nyepi yang dilakukan umat Hindu di Bali. Melalui Nyepi, yang ditandai dengan ketiadaan aktivitas keduniawian, orang-orang hindu melakukan refleksi atas perbuatan mereka pada masa lalu dan berniat memperbaikinya di masa yang akan datang.
            Dalam budaya Jepang dan Finlandia, diam (jeda) saat berbicara adalah wajar kendati bagi sebagian besar orang Barat itu terasa menggelisahkan dan sulit dipahami. Rata-rata orang Jepang merasa perlu “merasakan” perbincangan mereka melalui diam yang relatif lama. Namun orang Barat menafsirkan perilaku ini sebagai ketidakpahaman sehingga mereka seringkali suka mempersingkat jeda dengan menerangkan kembali pembicaraannya atau mengalihkan ke topic yang lain. Usaha “berkicau” inilah yang seringkali membuat orang Jepang melakukan semacam “penolakan” atas orang Barat, orang Jepang bahkan menganggap orang Barat sebagai “penjahat” yang harus dididik untuk menutup mulut. Di Jepang diam berarti penghormatan. Dengan kata lain, ketika suatu pertanyaan dijawab tanpa ragu, adalah sebuah penghinaan karena berarti orang tersebut menganggap pertanyaan tersebut sedemikian sederhananya sehingga tidak memerlukan pemikiran.5 Terdapat bukti bahwa kekeliruan dalam menerjemahkan pesan yang dikirimkan pemerintah Jepang menjelang Perang Dunia II telah memicu pengeboman Hiroshima. Kata mokusatsu yang digunakan Jepang dalam merespon ultimatum AS diterjemahkan oleh Domei sebagai “mengabaikan”. Jenderal Mac Arthur mencernanya melalui kamus bahasa Jepang-Inggris sebagai kata yang sepadan dengan no comment dan kemudian melapor pada Presiden Truman untuk menjatuhkan bom atom. Padahal makna kata mokukatsu yang dimaksud adalah “Kami akan mematuhi ultimatum Tuan tanpa komentar”.5
Sementara orang Finlandia, perilaku mereka kerap disebut dengan perilaku musim dingin: mereka sering tergesa-gesa di jalanan tanpa kata-kata dengan suhu minus 200 C. Orang Finlandia cenderung introvert meskipun sebenarnya mereka memiliki hasrat untuk berkomunikasi. Mereka hangat, hanya saja suka menyendiri. Mereka jarang membicarakan hal positif tentang negaranya kendati mereka mencintainya. Mereka suka menghindari perselisihan karena mereka merasa segan/ menyadari bahwa ia kurang terampil dalam berbicara dan tidak suka dengan segera memberi umpan balik atas suatu pendapat karena mereka lebih suka memikirkannya terlebih dahulu. Itulah mengapa orang Finlandia terkesan sangat pelit berbicara.6
            Namun dalam beberapa budaya, diam tidak selalu diterima dengan baik. Di negara Arab dan Yunani yang mementingkan interaksi sosial, diam dianggap kurang menyenangkan. Begitu pula orang Italia yang percaya bahwa kebersamaan, ngobrol, dan kegaduhan adalah tanda kehidupan yang baik.7

Catatan kaki:
  1. Deddy Mulyana dalam “Santri-Santri Bule: Kesaksian Muslim Amerika, Eropa, dan Australia”, hlm 232
  2. Michael Kaye dalam “Communication Management”, hlm 114
  3. Renny Candradewi Puspitarini Mulyasaputri dalam “The Chronicles of Renn at Michigan”, haha XP
  4. Samovar dan Porter dalam “Communication Between Cultures”, hlm 212
  5. Richard Brislin dan Tomoko Yoshida dalam “Intercultural Communication Training: An Introduction, hlm 87
  6. Lewis dalam “Menjadi Manajer Era Global: Kiat Komunikasi bisnis Lintas-budaya”
  7. Samovar dan Porter, op.cit, hlm 224-225

No comments:

Post a Comment

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower