TENTANG SI CHIMER

Thursday, April 7, 2011

POKERFACE



Saya rasa kebanyakan teman-teman tahu lagu Lady Gaga yang berjudul serupa. Pokerface… wajah seorang pemain poker. Yang dimaksud dengan istilah ini adalah wajah yang datar, tidak berekspresi, sehingga orang lain tidak bisa membaca kartu yang didapatnya, baik atau buruk.

Pokerface ini juga terjadi pada beberapa orang yang bahkan tidak bisa bermain poker sedikitpun, termasuk…

SAYA.

Suatu ketika, saya masuk ke salah satu kamar teman saya dan memandangnya agak lama. Teman saya balas memandang saya dan keningnya berkerut-kerut.

“Jangan ngeliatin begitu kenapa?” dia kik kuk. 
“Ha? Apa? Kenapa?” saya balik tanya. 
“Mukamu itu lho Deponk, bikin ga ngerti, kamu lagi mikir apa tentang aku,” begitu katanya.
Jadi saya dikatain POKERFACE…

Beberapa lainnya, seperti mas Yudi dan Wahyu – teman kuliah HI – mengatai wajah saya wajah melas…

Itu karena waktu saya ngasdos Geopol, ekspresi saya datar dan tidak sesuai dengan apa yang sedang saya ucapkan di depan kelas.
Saya juga ingat waktu semester dua atau tiga, Domi – salah satu teman angkatan saya – tiba-tiba saja duduk di sebelah saya dan menatap saya dalam-dalam.

“Kamu gapapa Dev?” 
“Lagi sakit nih…,” (lagi asma) 
“Kamu punya leukemia tha, Dev?” 
Saya melongo. 
“Gapapa… Dev… aku ngerti kok!” katanya dengan tampang penuh pengertian.

W-H-A-T!?

Pokoknya, intinya, ekspresi saya selalu menyebabkan orang lain salah sangka atas saya. Ada yang ngatain saya tidak tulus, ada yang ngatain saya sinis, ada yang ngatain saya melas, dan ada pula yang ngatain saya punya penyakit parah yang tak tersembuhkan. Ya, Tuhan… ampuni saya…
Bagaimana mungkin saya menyebarkan fitnah atas diri saya sendiri ke semua orang? Saya tidak habis pikir…

Dan kelambanan otot-otot wajah saya untuk menciptakan ekspresi yang sesuai menyebabkan saya kesulitan berteman dengan orang baru. Padahal kalau sudah kenal saya lama, saya bisa jadi sangat freak dan lebay.

Dalam hati, saya sedikit iri dengan teman kuliah saya, Cece  atau Renny. Cece dan Renny ini punya ekspresi yang sangat bagus. Mereka selalu tepat menyiratkan perasaannya melalui ekspresi wajah. Sebentar bisa terlihat ceria, sebentar bisa terlihat simpatik, dan dengan cepat pula bisa berubah ekspresi menjadi sangat tegas.

Saya sangat sering memperhatikannya dan semakin lama menjadi semakin iri…

Maka saya belajar untuk melakukan ekspresi-ekspresi dengan tepat ketika situasi sedang membutuhkan ekspresi tersebut. Namun nihil, saya selalu memunculkan ekspresi yang berlebihan dan kadang saya tidak cukup memiliki kepercayaan diri untuk melakukannya.

Pemikiran saya tentang pentingnya teknik merangsang otot wajah demi menciptakan ekspresi yang sesuai ini semakin lama semakin membuat saya frustasi dan saya semakin menyadari ketidakmampuan saya.

Kemudian fokus saya perlahan beralih kepada salah satu teman kosan saya, Kusniah namanya. Dia sama cueknya dengan saya, ekspresinya sama datarnya, dan bahkan lebih parah karena ia tidak pernah melakukan hal yang lumrah dilakukan seseorang dalam hubungan pertemanan.

Misalnya, suatu ketika, ia akan ujian dan kalkulatornya mati. Saya membantunya, membuka skrup kalkulator tersebut dengan jepit lidi, memasukkan baterai baru (kebetulan saya punya), dan karena kekecilan saya masukkan sedikit lipatan tisu supaya pas. Inti cerita, saya berhasil membuat kalkulatornya menyala setelah berjuang menguras keringat.

Di sana… bukankah seharusnya kata yang ia ucapkan adalah… terima kasih?

Namun dia tidak melakukan itu, bahkan sama sekali tidak berniat melakukannya.

Saya cuma bengong antara menunggu dia bilang terima kasih dengan perasaan saya yang berkata: nungguin kata terima kasih kok BERASA pamrih sih?



Tanpa berkata-kata lagi, dia berangkat kuliah dengan kalkulatornya.

Begitulah… saya juga bingung… setiap dia melakukan kesalahan pada yang lain pun, dia juga tidak pernah mengucapkan kata Maaf.

Tapi tak lama kemudian saya sadar, pentingkah sebuah kata?

Suatu ketika, saya sedang ada masalah, dan karena tidak ingin kesepian saya berkunjung di kamar Kusniah – kamar kami tepat bersebelahan. Dia melihat saya sekilas lalu dengan autisnya kembali sibuk mendownload semua video Korea dari Youtube.
Saya duduk di kasurnya dan diam saja.

Kusniah beralih dari layar laptopnya, menatap saya sebentar, lalu membuka earphone-nya. Kemudian dia mulai bercerita banyak hal tentang kekonyolan artis-artis Korea dalam reality show serta kesalahan mereka ketika perform di atas stage. Dari dia saya punya banyak informasi tentang dunia hiburan Korea. Saya kenal Shinee, 2pm, 2am,MBLAQ, Suju, SNSD, T-ara, Kara, DBSK dan lain-lain.

Saya jadi tertawa karena ceritanya.

Dan tidak seperti lumrahnya yang dilakukan seorang teman ketika melihat temannya lesu, ia tidak membebani saya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti : kenapa sedih? Kamu ada masalah apa?Cerita dong?

Kusnia seperti memiliki kelemahan melakukan hal formal seperti mengucapkan terima kasih dan maaf tapi dia selalu punya cara sendiri untuk mengutarakan perasaannya. Somehow, saya selalu bisa merasakan bahwa apa yang dilakukannya tulus tanpa ia mengucapkan apapun.

Mungkin hubungan antarmanusia bukan hanya sekedar teknik berkomunikasi melainkan juga tentang ketulusan.

Yang harus saya pelajari adalah melakukan ketulusan pada orang lain dan menerima diri saya apa adanya ketimbang memaksakan diri melakukan hal yang tidak mampu saya lakukan.

Pada akhirnya apa yang dilakukan dengan tulus pasti akan tersampaikan tanpa harus mengekspresikannya, bukan?

Melalui tulisan ini saya meminta maaf pada teman-teman yang salah sangka terhadap saya. Ekspresi mengerikan saya adalah bukan tentang ketidakmauan, namun merupakan ketidakmampuan.

Mohon maaf…

Dan melalui tulisan ini saya menyampaikan pada teman-teman, saya tidak punya Leukimia atau penyakit Ataksia.

Sekian, terima kasih…




4 comments:

  1. ngik ngik ngik -___-"
    tampang saya kaya orang sakit-sakitan. saya mau ikut casting sinetron aja, Buku Harian Deva...

    ReplyDelete
  2. aku juga suka dibilang poker face. mau seneng, mau sedih mukanya sama aja. tapi seiring berjalannya waktu aku mulai belajar buat berekspresi walaupun sedikit. biar ga kaku banget. oh ya temen kamu sama kaya aku suka korea hehe :D

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower