TENTANG SI CHIMER

Friday, April 8, 2011

PERMAINAN BAMBU (TANPA M) GILA

“Akan ada saatnya kamu belajar, teman... hari ini waktunya saya belajar, oleh karenanya kamu tidak mengerti saya. Suatu ketika, ketika pelajaranmu dimulai, kamu akan mengerti perasaan saya.” (saya, pada suatu ketika)

Kalian masih ingat tulisan saya sebelumnya yang berjudul I Hate You??

Di sana saya menceritakan mengenai pembantu kosan saya yang tidak sopan dan mengatai saya PENCURI.

Ngomong-ngomong soal Mistiyah, dia masih mengarahkan manuvernya pada saya. Pagi ini kosan kotor, dia banting-banting barang di depan kamar saya. Waktu itu saya lagi dzikiran habis shalat shubuh. Dia ngomel-ngomel dikiranya saya yang sengaja bikin kotor. Suaminya mengancam mau nyiram Porstex ke cucian saya.

Saya jadi bingung, kenapa dia harus marah kalau kosan kotor? Justru karena kotor itu kan, mereka dipekerjakan?

Ah, lagi-lagi saya dianiaya dua B-A-B-U  gila…

Semalam dia matikan lampu lantai dua karena Lantai Dua nonton Bridgen Norman di Empat Mata dan ramai. Kebetulan saya di kamar, ga ikut nongkrong, lagi main laptop tanpa dipasang baterai dan… MAK DET !

MAMPUS !

Memangnya kalau laptop saya rusak, mereka kuat ganti???

Kenapa ada orang yang seperti itu ya…

Tuhan bilang semua manusia itu sederajat di Mata-Nya. Hanya amal ibadah saja yang akan dihitung. Namun kenyataannya di dunia ini ada yang namanya Kelas dan Derajat, bukan?

Saya memandang itu semua sebagai cobaan.
Bagaimana agar kamu – yang derajatnya atau kelasnya lebih tinggi – mampu menghargai mereka yang kurang beruntung. Bagaimana kamu bisa belajar menahan dirimu untuk menyakiti orang lain hanya karena dia lebih lemah darimu.

Namun kalau begini ceritanya, saya jadi bingung sendiri, bagaimana mungkin mereka yang derajat dan kelasnya lebih rendah dari saya (Mistiyah dan suaminya-red) bisa seenaknya menginjak anak-anak kosan yang derajatnya lebih tinggi.

Yang pasti ini bukan salah Tuhan kan?

Menurut saya, ini salah mereka yang mau diinjak-injak. Tuhan memberi mereka kelebihan namun mereka tidak belajar menggunakannya dengan baik.

Saya sih melawan, belajar menggunakan derajat dan kelas saya. Anak-anak kosan masih cari aman, tidak mau berurusan dengan Mistiyah. Ya sudah… emang sudah nasib mereka diinjak-injak babu berarti. *jahatAbis

Yah, hidup adalah pilihan kan? Biarkan saja…

Teman terdekat saya Citra (sebut saja begitu) bilang daerah abu-abu hanya akan menyakitimu lebih dalam, belajarlah memilih!
Dan saya pun memilih tidak mau lagi menurunkan derajat saya di depan Mistiyah.

Sebenarnya bukan itu masalah sebenarnya…

Biarpun Citra (sebut saja begitu) bilang seperti itu, dia sebenarnya masih membela Mistiyah.

Saya dan Citra (sebut saja begitu) sangat dekat sekali. Bisa dibilang hubungan kami sudah seperti saudara sendiri, saking dekatnya, kami sampai sering dikatai LESBI.

Nah, ya…

Kenapa dengan hidup saya ya ?

Ada yang ngatai saya PENCURI, LESBI, KENA LEUKIMIA, ATAKSIA, dan bla bla bla…

Hm, sepertinya saya punya bakat membuat hidup saya jauh menderita dari kebanyakan orang, haha… *ketawaGila

Citra (sebut saja begitu) pernah berkata bahwa saya bukan sekedar sahabatnya melainkan saudara perempuannya dan saya juga menganggapnya demikian. Dia sudah seperti kakak bagi saya. Dia mengajari saya banyak hal tentang mengatasi masalah bukan lari darinya. Saya dan dia… ini terlalu rumit untuk dijelaskan. Kami saling menguatkan keberadaan yang lain.

Pernah ketika Citra (sebut saja begitu) dapat masalah, saya membela mati-matian. Saya tidak peduli apapun karena bagi saya Citra (sebut saja begitu) sudah seperti saudara sendiri.

Kali ini ketika Mistiyah jelas-jelas menfitnah saya, dia tidak melakukan apapun.

Bukannya saya ingin Citra (sebut saja begitu) meracuni makanan Mistiyah atau apa.

Saya hanya ingin didukung ketika saya dalam kesulitan.

Tapi nyatanya, dia masih saja bicara dengan Mistiyah… beramah tamah…

Ketika saya tanya kenapa dia bisa begitu, Citra (sebut saja begitu) menjawab dengan dingin: 
Itu masalahmu dengannya, bukan masalahku. Aku tidak punya alasan untuk tidak bicara dengannya, untuk tidak membalas sapaannya (Mistiyah-red).
Mistiyah, setelah malam pertengkaran, menangis berkeliling kosan lantai satu-dua-tiga dan menceritakan bahwa saya melabraknya. Mencari simpati ke seluruh penjuru dunia agar mereka ikut memandang saya dengan jijik. Mistiyah mengatai saya pencuri, kasar, ga tahu sopan santun dan lain sebagainya.

Dan bukankah dalam persahabatan ada yang namanya timbal baik?

Saya tidak berharap banyak. Saya hanya ingin teman terdekat saya berada di sisi saya, bukannya di sisi lain. Saya hanya ingin dia menguatkan saya dan bilang bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun mungkin saya terlalu baik untuk itu semua. Mungkin saya terlalu tinggi memandang Citra (sebut saja begitu) dan berharap lebih.

Mata saya mbrabak di kamar Kusniah ketika Citra (sebut saja begitu) berkata bahwa ini urusanku dengan dia, bukan urusannya. Seluruh genk geje berkumpul. Menghibur saya semampunya.

Mereka bilang saya harus belajar menerima pilihan hidup orang lain walau itu terlihat sama sekali tidak logis.

Dulu – sebelum malam pelabrakan – Citra (sebut saja begitu) pernah dimanfaatkan Mistiyah untuk mengakui hal-hal yang tidak dilakukannya. Citra (sebut saja begitu) adalah orang yang suka membantu, ketika ia melihat Mistiyah (terlihat) kesulitan, ia bersedia membantu tanpa berpikir panjang. Saya yang menyaksikan itu semua, menahan Citra (sebut saja begitu) untuk membantunya, saya memarahinya, saya berkata untuk tidak lagi terlalu dekat dengan Mistiyah.

Yah, Genk Geje mengingatkan, selama ini saya sangat sering menahan Citra (sebut saja begitu) setiap ia akan melakukan langkah yang salah. Saya jadi tampak tidak menghargai pendapatnya, pilihannya. Itu sebabnya kini dia muak dengan peringatan saya… (sebab dia tidak pernah terjatuh)

Kadang kamu harus membiarkan orang yang kausayangi terjatuh untuk membiarkannya belajar…

Mbak Ajeng dan Kusniah memprediksi mungkin hubungan Citra (sebut saja begitu) dan Mistiyah sudah sangat dekat sampai saya – yang notabene sahabat terdekatnya – terabaikan. Yah, Citra (sebut saja begitu) pernah memberi Mistiyah ponsel. Mungkin memang begitu.

Dan mungkin bagi Citra (sebut saja begitu) saya bukan benar-benar saudara perempuan seperti yang pernah dia katakan, mungkin saya hanya overekspetasi saja. Sebab kalau benar dia menganggap saya saudaranya,

apakah dia tidak akan marah ketika ibunya, bapaknya, masnya, dikatai PENCURI oleh babu?

Mbak Ajeng – salah satu tetua Geje – menyarankan balas dendam (yah, orangnya memang seperti itu -_-“). Suatu ketika jika Citra (sebut saja begitu) mengalami masalah, saya harus melakukan hal yang serupa seperti ini.

Mengabaikannya.

Namun baru membayangkannya saja… saya sudah menyerah.
Saya tidak bisa melakukan hal yang serupa seperti yang dilakukan Citra (sebut saja begitu) pada saya saat ini. Saya tidak akan mampu. Baru membayangkannya saja saya sudah tidak mau.

Mungkin saya bodoh… mungkin saya masokis…
Ah, terserah deh…

Saya kembali mengajak Citra (sebut saja begitu) berbaikan kemudian keesokan harinya.

Tapi masih saja Citra (sebut saja begitu) menyalahkan saya.“Kamu dulu yang mulai berantemnya.” Katanya tajam.


Saya hanya tersenyum padanya dan berkata, “Akan ada saatnya kamu belajar, teman... hari ini waktunya saya belajar, oleh karenanya kamu tidak mengerti saya. Suatu ketika, ketika pelajaranmu dimulai, kamu akan mengerti perasaan saya.”

“Apa? Kamu merencanakan balas dendam?” 
Saya menggeleng. “Kalaupun pembalasan memang diperlukan, saya pastikan, itu bukan dari saya.”

7 comments:

  1. mungkin dev, kamu dan mistiyah itu salah paham...
    dia mungkin tidak bisa menjelaskan maksudnya dengan baik, atau sebaliknya, kamu yang tidak bisa menjelaskan dengan baik.
    sudahlah, cup cup cup...
    kamar sebelahku kosong koq..pindah sini aja :p

    ReplyDelete
  2. Terdengar di telinga, ada yang meneriaki CITRA 'PENGHIANAT'. Saya :D merasa, ada banyak detail yang terlewat di bagian CERPEN yang sangat menghibur ini.

    Pertama, CITRA mengetahui, yang berbuat ulah dengan mendiamkan panci rebus berisi kuah MIE lengkap dengan MIE di dalamnya (yang kemudian tumbuh belatung) ialah DEWI (sebut aja DEWI xHusniawati), seseorang yang terkenal sebagai orang yang cuek, tak punya simpati, nyaris tidak sosialis, nyaris tidak punya empati, nyaris hanya memiliki hidup yang berkutat dengan dirinya sendiri, di kamar, dan laptop (semestinya, sebelum tulisan ini dimuat, melakukan intropeksi diri dulu).

    Pertanyaannya ialah, jika ada yang mentoleransi kejorokan macam belatung, MIE, piring2, gelas, dan sendok KOTOR yang tertumpuk, berarti sama JOROKNYA (Pembaca bisa menilai sendiri dengan argumen masing2, saya hormati pembaca yang memiliki hobi kejorokan yang sama, termasuk didalamnya yang tidak memiliki empati terhadap orang lain yang juga hidup di sekitarnya, tidak memiliki EMPATI terhadap KERAPIAN, KEBERSIHAN--kurasa aku tidak usah peduli lagi tentang hal ini, jadi tidak usah diperpanjang);terlepas dari perampasan yang dilakukan oleh Mistiyah, Citra juga sudah gatal ingin melakukan hal serupa).

    KEDUA: Mungkin, maksud "pembantu dibayar untuk mengatasi segala kekotoran yang majikannya buat" apakah identik dengan(terdengar sebagai) PEMBENARAN pembenaran terhadap tindakan sewenang2 seperti meletakkan barang kotor selama yang kita mau, tidakkah itu disebut TINDAKAN SEWENANG2? Apakah setelah kita membayar seseorang, lantas kita bisa berbuat seenaknya? Apakah itu yang disebut, LEBIH BERMARTABAT, CERMIN ORANG dengan DERAJAT TINGGI, dan MORAL SEORANG INTELEKTUAL??

    -jika ada yang setuju dengan statement di atas, well it's okay with. BUT, I DONT AGREE!-

    JADi, Menurut CITRA, rasanya BENAR bila MISTIYAH melempar2 piring berserakan di tempat duduk (yang sekarang fungsinya berganti sebagai tempat lain2). Kedua, TV yang bagian bawahnya berfungsi sebagai 'PERALATAN MAKAN kotor yang minimal tiga hari tidak dicuci, lalu berangkat menyucinya di TEMPAT WUDHU (Bukannya mencucinya di tempat piring). Orang yang tidak derajat saja mengetahui betul 'perbedaan fungsi masing2 (tempat wudhu, cuci kaki, n cuci tangan) dengan cuci piring). Apakah butuh lulusan SARJANA untuk membedakan mana tempat CUCI piring, CUCI tangan, CUCI kaki?

    KETIGA. CITRA tak menyangka jika ia bahkan perlu menceritakannya di sini. Tapi, seolah terdengar sebagai penghianat, rasanya CITRA tidak bisa diam saja, seolah dia yang PALING SALAH, dan yang lain terlihat PALING BENAR.

    KEEMPAT, "CITRA", apakah begitu ingin ditulis dan diceritakan sebagai seseorang yang mengejar2 muka BAIK di depan orang lain? Patut dicatat, apa untungnya mengejar POPULARITAS IMAGE di depan pembantu. TAK ADA UNTUNGNYA bagi CITRA.

    KELIMA, CITRA, orang yang teguh dengan prinsipnya tentang siapa yang memulai permasalahn tersebut. dan apabila itu berakhir dengan cerita seolah ia PENGHIANAT, SEKUTU BABU, itu sangat merendahkan. HEBAT SEKALI tulisan ini, benar sangat menghibur. Dan kurasa, IA (you KNOW WHO) memang benar2 tidak bisa ditoleransi.


    TERAKHIR, CITRA ITU ADALAH SAYA, RENNY CANDRADEWI MULYOSAPUTRI, katakan saja demikian. Oh ya, pesan saya, biar semuanya setegas posting cerpen di atas, 'Yah, aku Belajar, Belajar untuk TIDAK membela yang salah'. Kurasa, xHUSNIA tidak butuh pembelaan dariku, jikalaupun aku membelamu, itu sama dengan aku membela orang yang SALAH. INI PERSOALAN PRINSIP, aku tidak mau membela orang yang SALAH, BAHKAN JIKA ITU SAHABATKU SENDIRI.

    ReplyDelete
  3. Komen di atas sungguh gaje... *geleng2 kepala*

    ReplyDelete
  4. lilil: ogaaah, gue mau bikin rusuh sama dia...

    ReplyDelete
  5. mungkin yg lebih paham situasi kos adalh penghuninya' tp andaikan saja prinsip selalu membela yg benar" apakah tindakan mematikan listrik sepihak,,pencurian yg di lakukan(bambu)dan bahkan warga kos bnyak yg mengamini. apa tindakan spt itu patut di bela'??apakah itu kebenaran yg patut dibiarkan dan di bela?? dan mungkin juga saya setuju unsur kesengajaan untuk memberi pelajaran agar tdak semakin merajalela keminusan2 lain yg si (bambu) perbuat..kecuali saya orang antisosial jika sy berprinsip(aku ga di garai lapo aku ngurusi mau dia nyuri mau dia semena2 toh bukan aku yg dirugikan) kalo dia paham ada tindakan salah tp dia diam hanya krn tdak merugikannya ( biar pembaca aja yg memaknai masing2 tulisan di atas) sebelumnya maaf jika tdak berkenan atas post ini,

    ReplyDelete
  6. mungkin yg lebih paham situasi kos adalh penghuninya' tp andaikan saja prinsip selalu membela yg benar" apakah tindakan mematikan listrik sepihak,,pencurian yg di lakukan(bambu)dan bahkan warga kos bnyak yg mengamini. apa tindakan spt itu patut di bela'??apakah itu kebenaran yg patut dibiarkan dan di bela?? dan mungkin juga saya setuju unsur kesengajaan untuk memberi pelajaran agar tdak semakin merajalela keminusan2 lain yg si (bambu) perbuat..kecuali saya orang antisosial jika sy berprinsip(aku ga di garai lapo aku ngurusi mau dia nyuri mau dia semena2 toh bukan aku yg dirugikan) kalo dia paham ada tindakan salah tp dia diam hanya krn tdak merugikannya ( biar pembaca aja yg memaknai masing2 tulisan di atas) sebelumnya maaf jika tdak berkenan atas post ini,

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower