TENTANG SI CHIMER

Monday, April 4, 2011

HEAVEN ISN'T A PLACE, IT'S A FEELING


Hari ini saya diberitahu bahwa tetanggaku yang mengidap penyakit penurunan fungsi syaraf telah beristirahat dengan tenang setelah hampir dua bulan lamanya harus terbaring di Rumah Sakit DR. SOETOMO Surabaya. Saat mendengarnya aku merasa sedih sekaligus lega. Sedih karena perjuangan keluarganya untuk menyembuhkan pria 43tahun tersebut sia-sia sekaligus juga merasa lega karena tahu ia beserta keluarganya tak perlu lagi mengalami cobaan ini. Karena sudah sampailah mereka pada klimaks di mana masa-masa untuk melakukan usaha terbaik berakhir.

Dan kenanganku berputar pada sebulan yang lalu ketika istrinya menelepon mamiku – yang merupakan sahabatnya. Anehnya, kendati penyakit suaminya sudah semakin parah dari sebelumnya, ia malah terus bercerita sambil sesekali tertawa. Menertawakan penderitaannya atau justru ia telah berhasil menemukan apa yang biasa disebut dengan “selalu terselip kebahagiaan di saat tergelap sekalipun”.

Ia mulai dengan menceriterakan bagaimana kondisi ruang rawat inap penyakit syaraf yang dipenuhi oleh orang-orang yang kondisinya serupa dengan suaminya atau mungkin lebih parah. Betapa mereka seringkali melakukan hal-hal yang lucu seperti salah mengucapkan nama, salah memanggil istri orang lain atau malah berusaha menelan sendok karena tak lagi bisa membedakan makanan dengan alat makannya.
Kemudian aku dengar ia tertawa, mamiku juga.

Begitu selesai menerima telepon, aku bertanya pada mamiku. Kenapa masih bisa saja ia tertawa sementara kondisi suaminya memburuk. Mamiku hanya menjawab bahwa aku masih terlalu “tidak mengerti”. Orang bisa saja bahagia hanya dengan menemukan orang lain yang jauh lebih menderita daripadanya. Dan mereka yang senasib ketika dipertemukan dalam satu kesempatan akan merasa bahwa mereka tidak perlu mengasihani satu sama lain. Karena mereka sama. Mereka tidak merasa asing pada  kondisi satu sama lain. Dan akhirnya mereka memilih untuk menertawakannya bersama.

Saat mendengarnya aku cuma merasa aku perlu rehat sejenak untuk intropeksi. Saya yang selalu mengeluh karena tugas-tugas jurnal pasti telah ditertawakan oleh Tuhan: Hei, kau, manusia, masih segitu doing udah teller,Gitu kali ya kata Tuhan.

Ah, bahagia itu memang bukanlah tujuan hidup melainkan cara kita untuk menjalani hidup …

No comments:

Post a Comment

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower