TENTANG SI CHIMER

Monday, April 4, 2011

DUA: Butuh lebih dari satu hati untuk memahami



Aku kembali teringat padamu dalam kesenyapan yang membunuh ini.
Kamu sangat suka berhitung. Tiap hari, jam, menit, dan detik yang kita lalui bersama. Kamu tidak mau melewatkan satu momen penting pun tanpa berhitung. Semua bagimu bagaikan rentetan angka-angka yang berderet indah dan mengingat setiap detil adalah keahlian terbaikmu.


Saat kita duduk berdua di bawah taburan bintang langit malam itu, gadis sepertiku pastilah suka menekuri perasaan. Mengira-ngira perasaan satu sama lain. Dan pada umumnya kamu akan berusaha menanggapi perasaanku dengan cara-cara yang (juga umumnya) dilakukan seorang cowok pada gadisnya. Tapi kamu tidak. Kamu bukan cowok pada umumnya. Kamu unik dengan caramu sendiri. Kamu sibuk memperkenalkan macam rasi bintang, berpresentasi, dan berfantasi andai kamu berada di antara bintang-bintang tersebut. Lalu kemudian kamu sibuk dengan tebaran angka di kepalamu, menghitung berapa kiranya jumlah bintang malam ini dan berapa besar probabilitas terjadinya gerhana di sepuluh tahun mendatang.


Bisa berjam-jam kamu sibuk denga mimpi-mimpimu. Kamu hanya berbaring diam dan itu memberiku kesempatan untuk memahamimu. Aku paham sunyi adalah nyanyian favoritmu, dalam diam kau bisa menciptakan duniamu sendiri dan menguasai setiap detail di dalamnya. Kamu dan mimpimu adalah hal terindah yang pernah aku pahami dengan benar.
Tapi kemudian obsesimu terhadap angka-angka semakin menguat. Kamu marah saat aku terlambat beberapa detik saja untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kamu mengabaikan setiap kali aku berusaha memamerkan muka-muka konyol untuk mengalihkan konsentrasimu terhadap mereka dan kamu selalu mengernyitkan dahi setiap aku bicara tentang hati dan perasaan. Mungkin bagimu aku sudah seperti alien yang butuh transleter super canggih hanya untuk berkomunikasi satu sama lain.


Malam ini ketika semua keberanianku terkumpul, aku mencari jawaban atas sebuah pertanyaan mahapenting. Bukan sesuatu detail seperti kapan tanggal ulang tahunku, berapa tanggal jadian kita, atau (bahkan) berapa jumlah pertambahan berat badanku bulan  ini. Karena aku tahu kamu pasti bisa menjawab kesemuanya dengan tepat dan sempurna. Aku hanya menanyakan padamu pendapatmu tentang aku, kamu, kita.


Kamu (lagi-lagi) menatapku dengan alis terangkat satu seakan itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah kamu dengar.


“Tentu saja kita ini seperti angka dua,” katanya sambil menggelengkan kepalanya atas tingginya tingkat ketololan pertanyaanku ini
“Angka dua?” ulangku.
“Ya. Dimana-mana satu tambah satu sama dengan dua, kita. Apalagi yang perlu dipertanyakan tentang itu hm?”


Hanya itu jawaban yang kamu berikan. Lalu kamu kembali menyibukkan diri dengan dunia rekaanmu.


Dalam kesuperioritasan otakmu kita hanya serupa angka DUA yang bisa dengan mudah dikalahkan oleh angka TIGA, EMPAT, LIMA, ENAM, TUJUAH, DELAPAN, SEMBILAN, dan seterusnya…


Bagiku kamu sudah sekarat dan aku akan menyusulnya perlahan di dalam. Dan hatiku terus gemetar, ketakutan dikejar oleh pertanyaan:


Harus bagaimana ketika kamu sudah “mati”?


Sungguh butuh lebih dari satu hati untuk saling memahami…


Karena kalau sendiri, siapa yang akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu?

2 comments:

  1. *kasih kantong kresek
    jangan bikin kotor di rumah saya...:P

    ReplyDelete

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower