TENTANG SI CHIMER

Wednesday, September 13, 2017

7 ALL SHE KNOWS


Rasanya sangat aneh. Arka mengantarnya sampai di depan pintu apartemen. Sedikit berbasa basi. Ia banyak tersenyum. Eliana tidak menyangka Arka bisa menyenangkan itu. Ia berpamitan lalu pergi. Eliana melihat kepergian Arka sampai dengan ia masuk ke dalam lift, kemudian ia masuk ke dalam apartemen.
            Semua serasa tidak sama lagi. Ia tidak lagi merasa terlalu tertekan. Walau ia tahu ia melanggar aturan dietnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, nama Fira tertera di layar, Eliana langsung mengangkatnya.
            “Ya, halo?”
            “Kamu baru aja masuk akun gosip di instragam.”
            “Gosip soal apa lagi sih?”
            “Bentar. Aku kirim capture-annya ya.”
            Telepon terputus. Eliana mengerutkan kening. Tak lama sebuah pesan gambar masuk, ia membukanya, dan menemukan foto dirinya dengan pakaian sama seperti yang ia kenakan saat ini. Ia tengah menaiki eskalator bersama seorang pria yang tak lain adalah Arka. Foto itu diambil dari kejauhan secara diam-diam. Wajahnya dan juga wajah Arka tampak blur. Sebenarnya tidak akan ada yang bisa mengenali keduanya berdasarkan foto curian tersebut. Ya, curian, sebab Eliana tidak mengizinkan adanya foto tersebut. 
            Teleponnya berdering lagi dan kali ini dari managernya, Sofi. “Sial.” Gumamnya panik. Ia mengangkat teleponnya setelah satu helaan napas panjang. “Ya, halo, Sofi.”
            “Sudah liat berita di akun gosip sore ini?” suaranya terdengar tajam.
            “Ya dan aku heran kenapa ada gosip kayak gitu. Aku seharian kardio di apartemen.” Ujarnya sambil berjalan menuju jendela besar di ujung ruangan. Ia menunduk melihat ke arah parkiran. Ia masih bisa melihat Arka berjalan menuju mobilnya.
             “Kamu yakin yang di foto itu bukan kamu?” Sofi masih meragukan jawaban Eliana.
             “Aku bilang aku seharian di apartemen. Selesai.” Eliana pura-pura tersinggung.
            “Good. Aku akan konfirmasikan ke managemen kalau orang yang di foto itu bukan kamu.”
            “Thank you.”
            Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon dan Sofi langsung mematikan sambungan telepon. Sofi yang sangat dingin dan efisien. Ia bahkan tidak menyempatkan diri membalas ucapan terima kasih Eliana. Eliana kesal sekaligus merasa bersalah. Bagaimanapun ia telah berbohong.

*

            Esok harinya Eliana benar-benar menghabiskan waktunya seharian di apartemennya. Ia bahkan menolak ajakan hang out Fira dan menyuruh Fira datang ke apartemennya untuk menemaninya menonton maraton apapun yang diinginkannya.
            Fira datang ketika Eliana sedang berbaring di sofa ruang TV dan menonton netflix. Fira mengetahui kode apartemennya dan langsung masuk sembari berkacak pinggang. “Sumpah, ya, gabut banget kamu.”
            Eliana melirik dari sudut matanya kemudian kembali menatap layar televisi.
            “Ck, masa kaya gini kehidupan supermodel?! Nggak bisa dipercaya! Cuma tiduran males malesan gini sambil nonton netflix?”
            “Nggak juga tadi udah nyiksa diri kardio berjam jam.” Sahut Eliana datar.
            Fira menjatuhkan diri di sofa yang sama dengan tempat Eliana berbaring dan ikut menatap layar televisi. Selama beberapa lama mereka berdiam diri.
            “Ana.” Panggil Fira.
            “Ya?”
            “Cowok yang di foto itu siapa?”
            “Foto apa?”
            “Foto yang diambil orang diam diam terus diposting akun gosip itu.”
            “Itu bukan fotoku.”
            “Itu kamu.”
            “Bukan aku.”
            “Kamu pakai sepatu usang kesayanganmu sejak SMA di foto itu, Ana!”
            Eliana langsung mematikan suara televisinya dan menatap Fira. “Don’t tell anyone.”
            “Ana, di dunia ini kamu cuma bisa percaya sama aku. Kalau enggak foto muka kucel dan tampang gembelmu saat ini pasti sudah bocor di mana-mana!”
            “Heh!” pekik Eliana.
Fira terbahak. “Ya udah makanya siapa?”
Eliana menghela napas. “Itu Arka.”
Sontak Fira membelalak. “Lha kalian kencan ga bilang bilang aku gitu!?”
“Cuma ga sengaja ketemu aja, Fir, di toko buku. Terus ya udah makan bareng.”
“Masa?” Fira menyelidik.
Tiba-tiba Eliana merasa malu sendiri mengingat janji kencan mereka selanjutnya. Rasanya seperti kembali remaja. Ia malu mengakuinya. “Ya, dia ngajakin kapan-kapan nonton gitu lah... basa basi biasa...,”
“Heh! Katamu Arka bukan tipikal basa basi, kan?”
Eliana terdiam menyadari blunder dalam kata-katanya. “Nggak tahu lah, Fir!”
“Nggak tahu apa? Jelas-jelas itu ajakan kencan!”
Eliana membalikkan badan untuk telentang dan menatap langit-langit. “Dia nggak kaya Arka yang aku kenal di kantor. Dia beda. Aku nggak ngerti.”
Fira ikut-ikutan telentang di sebelah Eliana dan menatap langit-langit. “Ya, jalanin aja. Managemenmu masih ngelarang kamu pacaran?”
“Ya, kamu tahu lah...,” jawab Eliana malas. Tidak ada larangan tertulis mengenai boleh tidaknya ia pacaran. Hanya saja pacaran adalah hal yang menurunkan nilai jual dirinya. Hal-hal yang merugikan nilai jual, otomatis adalah perbuatan terlarang.
“Ya udah nanti kalau kena sanksi atau kamu dikeluarkan agensi, cari agensi yang lebih bagus aja.” Sahut Fira enteng.
“Fir?”
“Ya?
“Agensiku yang sekarang kan agensi nomor satu di Indonesia? ”
“Oiya! Hahaha...,”
Mereka terdiam sesaat dengan isi pikiran masing-masing.
“Kapan kalian kira-kira ketemu lagi?” tanya Fira lagi.
“Besok ada rapat sama perusahaannya Arka mengenai perpanjangan kontrakku yang mau selesai.”
“Coba deh besok kamu pastikan dulu perasaanmu sama Arka kaya apa. Baru kamu pikirin mengenai langkah ke depannya.”
“Iya, pusing deh mikirin beginian.”
“Acie, gaya pake pusing segala. Udah lama nggak pacaran sih.” Ledek Fira sambil tertawa-tawa.
Eliana ikut tertawa. “Kamu sendiri apa kabar sama Thomas?”
“Baik. Ikatan dinas larangan menikah dari perusahaannya sebentar lagi selesai. Habis itu persiapan nikah deh. Duh, jadi deg degan hahaha.”
Eliana ikut senang mendengarnya. Berbeda dengan dirinya, Fira selalu mampu mempertahankan hubungannya dengan Thomas. Mereka berpacaran sejak SMA dan sampai sekarang, sudah terhitung delapan tahun mereka berpacaran. Dalam hati Eliana iri pada Fira dan perjalanan cintanya. Thomas datang begitu saja dalam hidup Fira seperti tanpa perjuangan. Eliana juga iri pada sifat ceria Fira, ia selalu jago dalam menyemangati dan optimis dalam menghadapi masalah. Sifat yang seperti itu pasti sangat berguna dalam mempertahankan sebuah hubungan. Berbeda dengan dirinya yang pesimis dan mudah  menyerah.
 

6. ALL SHE KNOWS

Angka pada layar digital di antara dua kakinya bergerak naik dan akhirnya berhenti setelah berkedip dua kali. Angkanya sudah tidak berubah lagi. Kemudian ia memekik pelan seakan ingat akan sesuatu, Eliana turun lagi lalu melepas piyama bahkan hingga pakaian dalamnya. Iya menggumamkan doa sebelum perlahan kakinya berpijak lagi pada timbangan. Ia menahan napas dan tanpa sadar memejamkan mata rapat-rapat. Keringat bercucuran di jidatnya. Minggu depan ia akan berangkat ke New York untuk mengikuti undangan casting. Ia diharapkan managemennya untuk kembali berpartisipasi dalam New York Fashion Week. Ia tidak boleh kehilangan kesempatan ini. Begitu banyak model baru bermunculan dan seringnya mereka masih berusia belasan tahun.
Eliana perlahan membuka mata dan angka timbangan berkedip dua kali menampilkan angka yang sama seperti sebelum ia menanggalkan pakaiannya. Eliana mengumpat pelan kemudian menatap tubuh telanjangnya di depan cermin. Ia bisa melihat pinggulnya sedikit lebih besar dari sebelumnya. Ia menggigit bibirnya sambil menangis. Ia menghabiskan hampir setengah hari dengan terus kardio di apartemennya.
Sialnya, otaknya mengirimkan sinyal meminta karbohidrat. Otak sialan yang begitu menyukai makanan. Eliana memutuskan untuk mandi dan bersiap pergi keluar. Lagipula ia sudah cukup lama tidak mengunjungi salah satu tempat favoritnya, toko buku.

*

Mata Eliana menyusuri rak rak buku new release. Novel-novel baru dengan nama penulis-penulis yang juga baru serta beberapa novel terbitan penulis ternama yang dikenalinya. Eliana mengambil satu buku dan membaca bagian belakang sampul buku. Ia juga melakukan riset kecil dengan mengecek buku tersebut di goodreads untuk mengetahui garis besar cerita.
Tas plastik di tangannya tiba-tiba dipenuhi tumpukan buku. Sebagian besar novel ilustrasi atau komedi romantis. Ia suka kisah-kisah ringan yang membuatnya merasa rileks. Kadang ia juga masih suka membaca teenlit walau orang-orang suka mengejek selera bukunya. Eliana tidak peduli, lagipula ia membaca bukan untuk membuat orang lain terkesan. Ia membaca apapun yang membuatnya merasa gembira.
Eliana berjalan ke tumpukan buku doodle di sebelah rak buku pengembangan diri. Dan di sanalah ia menemukan seorang pria dengan tinggi badan menjulang, mungkin 183cm, ia mengenakan kaos biru polos dan jins, sebuah buku di tangannya. Wajahnya sedikit menunduk, terlihat serius, alisnya yang tebal saling bertaut, dan mulutnya sedikit mengerucut. Tanpa sadar senyum Eliana mengembang.
Pria tersebut merasa diperhatikan, ia mengangkat wajahya, dan mata keduanya bersirobok. Eliana segera membuang muka dan berdeham pelan. Namun tanpa disangka pria itu tersenyum ke padanya.
Arka menutup buku berkover putih di tangannya dan meletakkannya kembali ke rak. Eliana jadi tidak punya pilihan selain membalas senyuman Arka. Lagipula senyuman Arka cukup langka. Arka menjadi sosok yang berbeda di luar urusan kantor. Ia menjadi laki-laki normal pada umumnya. Sederhana dan santai. Di kantor ia menjadi sosok yang dingin dan cenderung apatis.
"What a nice coincidence." ujar Arka sembari tersenyum kecil.
Eliana hampir tidak mempercayai pendengarannya. Benarkah tadi Arka bilang ini kebetulan yang indah? Apakah Arka merasa senang bertemu dengannya?
"Sering mampir toko buku?" Eliana balas berbasa basi.
"Lumayan. Kamu?"
"Jarang. Tapi sekalinya mampir biasanya ngeborong." Eliana memamerkan tas belanjaannya.
Arka melirik sekilas buku dalam kantong belanjaan Eliana. "Nggak nyangka kamu suka baca novel."
"Ya, kamu orang kesekian yang bilang gitu." Eliana mengedikkan bahu. "Lagi nyari buku apa?"
"Sebenarnya nggak lagi nyari buku tert entu. Cuma lihat lihat aja." ujar Arka kemudian ia menatap Eliana agak lama.
Eliana yang semula tersenyum jadi salah tingkah. Ia mengingat-ingat penampilannya saat ini. Ia mengenakan blus putih potongan sederhana, boyfriend jins, dan sepatu usang kesayangannya. Rambutnya dicepol acak karena ia sedang malas menata rambutnya. Ia tidak mengenakan make up apapun selain bb cream dan lipgloss. Ia merasa tidak ada yang istimewa dalam penampilannya tapi tidak bisa dibilang memalukan. Bagaimanapun ia manusia biasa yang tidak selalu tampil sempurna. Eliana kira Arka akan mengomentari penampilannya seperti biasa. Arka selalu berkomentar soal penampilannya sebagai brand ambassador setiap kali ia merasa tidak sesuai. Eliana sudah menyiapkan argumen untuk itu tapi ternyata Arka melihat sekeliling dan bertanya. "Ke sini sama siapa?"
"Hah?"
Arka mendekat dan mengulangi pertanyaannya. “Sendirian?”
Eliana menjawab dengan muka polos. "Ya."
"Sudah makan?"
"Belum."
"Di dekat sini ada sushi yang enak. Suka sushi?"
"Hah?" Eliana cepat cepat meralat jawaban bodohnya sebelum Arka menyadari. "Ya. Suka." ia berusaha tersenyum meski terasa aneh.
Berbeda dengannya, Arka justru tersenyum dengan sangat mudahnya. Bagaimanapun Eliana masih tercengang atas begitu bertolakbelakangnya Arka di kantor dan di kehidupan sehari-hari. Arka berjalan lebih dulu di hadapannya menuju kasir dan Eliana mengikutinya seperti kerbau dicocok hidung.

*

Restoran kesukaan Arka rupanya juga retoran Jepang kesukaan Eliana. Mereka memesan makanan kesukaan masing-masing. Arka meminta Eliana memperlihatkan buku-buku yang baru dibelinya. Arka berhasil menebak beberapa judul novel yang difilmkan. Arka bilang ia jarang membaca fiksi tapi ia mengikuti fiksi lewat film.
Arka bercerita tentang beberapa novel yang akan diangkat ke layar lebar dalam waktu dekat. Eliana tidak terlalu mengikuti perkembangan film tapi ia cukup antusias ketika tahu beberapa novel kesukaannya akan difilmkan.
"Begitu filmnya rilis, mau nonton bareng?"
"Mau banget. Sama siapa nontonnya?"
"Sama aku."
"Terus?"
Arka tidak langsung menjawab pertanyaan Eliana.
Senyum Eliana memudar perlahan.
Arka menatap Eliana lagi dengan cara yang sama dengan di toko buku. Tatapan mata yang tenang dan sedikit terlalu percaya diri. “Apa keberatan kalau aku ngajak nonton berdua aja?”
Eliana ingin memperjelas apakah itu ajakan kencan atau apa. Ia ingin memastikan apakah mereka sungguh akan menonton film berdua saja? Tapi panas di kedua pipinya membuat Eliana kehilangan kata-kata.
Seorang pelayan datang dan menaruh hidangan di antara mereka. Arka mengambil gelas ochanya, meniup uapnya, lalu meminumnya. Eliana menatap hidangan di hadapannya dan baru sadar ia mengkhianati rencana dietnya. Kini sudah terlambat menyesali.
“Gimana?” ulang Arka dengan nada tenang.
Eliana membasahi bibirnya sesaat sebelum menjawab. “Oke.”
Eliana bisa melihat senyum puas di wajah Arka. Senyum yang hanya pria itu berikan ketika proyek berakhir sukses. Kemudian mereka menikmati hidangan di hadapan mereka sembari meneruskan obrolan mereka mengenai film-film yang diangkat dari novel best seller.

*

5. ALL SHE KNOWS

Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Arka sudah bangun dari pukul tujuh, mandi, makan beberapa lembar roti, dan kini memeriksa email melalui hpnya. Ada email dari Liz menanyakan kabarnya, Arka membalas email itu dengan wajah cerah. Liz berencana untuk liburan ke Jakarta minggu depan sekaligus berkenalan keluarganya. Arka mengiyakan, mengingat dia sendiri sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Nenek Liz di Monterrey. Ketika Arka membalas email tersebut, yang terlintas dalam pikirannya adalah jembatan Puente de la Unidad dan Sungai Santa Catarina yang membelah kota Monterrey menjadi dua bagian. Lalu ciuman hangat mereka di sana. Arka tersenyum mengingatnya.
Ketika menelusuri email-email sebelumnya, Arka barulah ingat perihal hari pertamanya masuk kerja Senin depan. Arka langsung melompat turun dari tempat tidurnya, mengambil jaket, dompet, dan kunci sepeda motor. Ketika ia melewati ruang keluarga, ibunya menanyakan ia mau ke mana. Arka menjawab ia akan keluar ke mall untuk beli beberapa setelan kantor. Ibunya menawarkan diri untuk menemani tapi Arka menolak. Sebelum ibunya memaksa, Arka bergegas kabur ke garasi, menaiki motor lamanya, dan langsung melaju ke rumah Bulan.
          Rumah Bulan hanya berjarak empat rumah dari rumah Arka. Ketika ia mengendarai sepeda motor tuanya, Arka merasa kembali ke zaman SMA. Ketika itu ia dan Bulan sering berangkat sekolah bersama, tidak selalu setiap hari, tapi sering. Sebab Arka menjemput pacarnya sendiri – ketika sedang punya pacar – dan Bulan juga dijemput pacarnya – kalau mereka tidak sedang berantem. Arka senyum-senyum sendiri mengingatnya. Tanpa terasa ia sudah sampai di depan pintu pagar rumah Bulan. 
Arka turun dari sepeda motornya dan terperangah melihat pekarangan rumah Bulan yang ditumbuhi rumput tinggi dan tidak terawat. Cat tembok rumah Bulan tampak usang dan terkelupas di sana sini. Arka mendorong pintu pagarnya pelan dan ternyata tidak terkunci. Arka jadi merasa uji nyali masuk rumah hantu ketika mulai menjejakkan kaki ke dalam pekarangan rumah Bulan.
Perlahan ia menaiki beranda rumah Bulan. Ia menekan tombol bel di sebelah kanan pintu. Suara bel menggema ke penjuru rumah. Sunyi untuk beberapa saat. Arka memencet bel lagi. Suara langkah kaki berat mendekat. Arka undur beberapa langkah. Ia sudah memasang senyum cerah untuk mengantisipasi kehadiran Om Ricko atau Tante Mel yang membukakan pintu. Tak lama suara kunci diputar dan pintu terbuka.
Senyum di wajah Arka perlahan-lahan mengering.
Dari celah pintu ia menemukan wajah lain. Wajah seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengannya. Tatapan matanya dingin dan menyelidik. Ia hanya mengenakan celana training dan bertelanjang dada. Arka tidak mengenali laki-laki itu.
Pintu dibuka makin lebar. Arka masih mematung di tempatnya. Demikian dengan laki-laki asing di hadapannya. Arka bisa melihat sorot tidak suka di mata laki-laki itu. Laki-laki itu menyungging senyum sinis dan berkata, “Jadi lo, Arka?” 
Arka menyeringai. Pikirannya masih kalut. Bulan anak tunggal dan Arka mengenal seluruh sepupu laki-laki Bulan. Laki-laki di hadapannya kemungkinan besar ada kekasih Bulan. Tapi apa yang dilakukannya pagi-pagi begini di rumah Bulan?
Ego Arka terusik, dengan nada tak kalah arogannya, ia berkata, “Om Ricko sama Tante Mel mana?” ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
Laki-laki itu menatap Arka dengan tidak suka. Namun ia sudah lama menguasai rumah ini dan juga penghuninya. Tingkah Arka terlihat seperti pecundang baginya. Ia tertawa sinis dan Arka balik menatapnya dengan nyalang.
Arka berjalan menuju ruang tengah keluarga. Jendela ruang tengah dan kordennya masih tertutup, sementara lampu ruang tengah tidak menyala. Dalam keremangan, Arka melihat onggokan selimut dan bantal di sofa ruang keluarga, lalu berbotol-botol minuman keras, dan juga aroma rokok yang pengab. Arka hampir tidak bisa mengenali rumah ini. Ia mulai ragu ia memasuki rumah yang salah.
Keraguannya tidak berlangsung lama ketika pintu kamar mandi terbuka di belakangnya. Arka menoleh dan menemukan Bulan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Rambutnya basah dan aroma segar menguar dari dalam kamar mandi. Arka terperangah melihatnya dan Bulan tak kalah terperangahnya.
"Arka...," gumam Bulan bingung. Ia antara ingin kembali masuk ke dalam kamar mandi atau menjelaskan apa yang tengah terjadi kepada Arka. Belum sempat Bulan menentukan pilihan, Fero sudah merangkul bahu Bulan, dan menciumi leher Bulan di hadapan Arka. 
Arka mematung di tempatnya.
Begitu pula dengan Bulan.
Sementara Fero menatap Arka dengan sorot menyebalkan. Arka ingin meninju hidung pria itu, Pria yang kemungkinan besar pacar Bulan saat ini. Arka tidak pernah sebegitu benci pada pacar Bulan sebelumnya seperti saat ini. 

*

Arka memilih untuk menunggu di beranda rumah. Ia merasa asing dengan rumah Bulan dan juga penghuninya yang baru. Entah ke mana perginya Om Ricko dan Tante Mel. Kalau mereka ada di rumah mana mungkin begundal macam Fero bisa berkeliaran seperti itu? Apakah mereka sedang di luar kota selama beberapa hari? Kalau, iya, mengapa Bulan membiarkan ada laki-laki menginap di rumahnya? Dan mengapa keduanya...
Ah, Arka merasa ingin meninju seseorang saat ini. Kakinya menendang kerikil di pelataran rumah hingga melenting jauh ke seberang pekarangan yang tak terurus. Ia ingat dulu Tante Mel suka menanam mawar berbagai warna. Sekarang tanaman itu tampak kering dan diselimuti belukar dan tanaman rambat.
Pintu rumah di belakangnya terbuka. Arka menoleh sedikit. Bulan berjalan pelan mendekatinya. Ia tampak ragu untuk menemui Arka. Kini mereka berdiri berhadapan dalam diam beberapa saat.
“Namanya Fero.” Bulan mengawali perkataannya. “Dia… pemain sinetron stipping di tempatku magang sebagai fashion stylist. Mungkin kamu nggak kenal karena lama nggak tinggal di Indonesia.” Bulan memaksakan diri untuk tertawa tapi gagal dan malah terdengar ganjil. “Orangnya baik kok, aslinya.” Bulan berkata dengan maksud menegaskan.
Arka berusaha untuk mengabaikan panas di dadanya. Membayangkan Fero menyentuh tubuh Bulan, membuat sekujur tubuhnya terbakar amarah. Arka mengenali perasaan itu sejak mereka SMA. Ia selalu cemburu jika Bulan terlalu sering jalan dengan pacarnya dan mengabaikannya. Ia juga marah jika pacar Bulan bertindak sewenang-wenang. Ia pernah menghajar pacar Bulan ketika memergokinya berselingkuh. Bagi Arka itu adalah hasrat ingin melindungi. Bulan sudah seperti saudaranya sendiri. Bukankah seorang kakak laki-laki memang sudah sewajarnya melindungi adik perempuannya? Demikian ia mengartikan perasaannya. Bulan pun memahami tindakan Arka.
“Om sama Tante mana?”
Bulan berdeham pelan membersihkan tenggorokannya. Ia tahu cepat atau lambat pertanyaan itu akan meluncur dari mulut Arka. Ia sudah cukup lama menutup-nutupinya. Dalam email yang sering ia kirim ke Arka, mereka hanya saling bertukar kabar dan bercanda. Bulan tidak pernah sekalipun menceritakan kehidupannya.
“Mereka sudah pisah, Ka… beberapa bulan setelah keberangkatanmu ke Harvard.” Bulan berusaha menjelaskan dengan tersenyum.
“Berpisah?” Arka mengerutkan kening.
“Bercerai.” Bulan menegaskan.
Arka membuka mulutnya hendak berbicara namun diredakannya dulu amarahnya. “Kamu seharusnya cerita semuanya sejak dulu, Bulan. Kamu membuatku tampak tolol!” gumamnya menahan marah. Namun kemarahan Arka hilang seketika begitu melihat mata Bulan yang berkaca-kaca.
“Aku melewati masa-masa yang sulit sejak kepergianmu. Banyak hal berubah setelah kedua orang tuaku bercerai. Aku tidak sama dengan Bulan yang dulu. Semua orang memperlakukanku berbeda. Tapi, Ka…,” Bulan tersedak oleh tangisnya yang tertahan, “aku masih ingin kamu menganggapku sama. Aku ingin kamu memperlakukanku seperti Bulan yang dulu. Itu sebabnya aku tidak menceritakannya ke kamu. I’m sorry.” Beberapa tetes air mata Bulan jatuh. Ia mengusapnya sambil lalu, kemudian memilih membalikkan badan, pergi menuju Fero yang berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
Bulan berhenti sejenak di depan Fero, menatapnya sebentar, lalu masuk ke dalam rumah. Arka mengikuti kepergian Bulan dalam diam, matanya kemudian bertumbukan dengan mata milik Fero. Fero menaikkan satu ujung bibirnya ke atas, mengulum senyum sinis. Fero masih bertelanjang dada dan ia menghisap rokoknya dengan santai sembari memperhatikan Arka yang mulai melangkah pergi dari pekarangan rumah Bulan. Fero mengartikan kepergian Arka sebagai pengakuan kekalahan dan Fero menyukai perasaan menjadi pemenang.


*

4. ALL SHE KNOWS

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Ketika pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara Soekarno Hatta, ia merasakan beragam perasaan bergejolak di dadanya. Sampai-sampai ia merasa ingin muntah. Ada rasa sedih berpisah dari kawan-kawannya semasa kuliah, Liz – kekasihnya, ada rasa rindu akan tanah airnya, dan ada pula rasa takut. Empat tahun lamanya ia sama sekali tidak pulang ke tanah airnya. Ia bersekolah di Harvard karena beasiswa dan tidak pernah punya cukup uang uang untuk membeli tiket pulang. Arka diam-diam kerja part time sebagai tukang cuci piring di kafe, tapi ia hanya punya uang sedikit untuk bersenang-senang. Sesekali ia bepergian dengan backpacker ke beberapa negara bagian dengan budget sangat terbatas. Namun itu saja cukup bagi Arka yang berasal dari keluarga sederhana. Ia sudah sangat bersyukur dengan hidupnya.
Arka menghirup napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Turbulensi pesawat terasa semakin kencang ketika roda pesawat mulai menyentuh daratan. Dalam kepalanya berkelebatan wajah-wajah orang yang dirindukannya. Pertama-tama muncul wajah ibunya, ayahnya, lalu teman-temannya, dan terakhir... wajah itu muncul... Bulan.
Turbulensi kini sudah berhenti benar. Terdengar pengumuman bahwa pesawat telah mendarat dengan selamat, penumpang bisa bersiap-siap turun. Arka melepaskan sabuk pengamannya dan tersenyum. Bagaimanapun wajah Bulan selalu menentramkannya. Di rumah ia memiliki ayah dan ibu. Di luar rumah ia memiliki Bulan – sahabat masa kecilnya. Hidupnya akan baik-baik saja meski sudah empat tahun berlalu.
Barangkali justru lebih baik.
Perusahaan yang memberinya beasiswa sudah menghubunginya via email. Mereka meminta Arka mulai masuk kerja minggu depan. Arka tidak memiliki setelah yang bagus, selain satu-satunya setelan wisuda yang dimilikinya. Ia akan meminta Bulan memilihkan setelan yang bagus setelah ini.
 Arka berjalan keluar pesawat bersama dengan penumpang lainnya Ia mengeluarkan hp dan mulai menyalakannya. Ada beberapa pesan masuk selama penerbangan. Pesan dari ayah, ibu, beberapa relasi, teman, dan juga Bulan. Dari sekian banyak pesan, pesan Bulan yang ia buka terlebih dahulu.

Sori, ya, Ka, aku nggak bisa jemput kamu di bandara. Ada urusan penting mendadak. Btw, aku mampir ke rumahmu ya setelah urusanku beres.

Arka mengerucutkan bibir dengan kesal. Ia segera membalas pesan Bulan.

Nggak kumaafin!

Arka memasukkan hpnya kembali ke saku jaket yang dikenakannya. Ia berdiri di depan bagggage claim area, menunggu kopernya datang. Di sekelilingnya terdengar orang-orang berbicara dalam bahasa Indonesia. Arka memejamkan mata sejenak lalu tersenyum. Ah, sudah lama sekali sejak terakhir ia mendengar seseorang berbicarra dalam bahasa ibunya.
Sekitar sepuluh menit Arka menikmati hiruk pikuk di bandara dalam diam. Kemudian kopernya melintas, Arka mengangkatnya turun, kemudian menyeretnya menuju pintu keluar. Jantungnya berdentum-dentum tidak karuan. Ada perasaan bahagia yang meluap-luap sesaat sebelum ia bertemu dengan orang-orang yang dicintainya.
Begitu ia keluar dari pintu batas penumpang dan penjemput, Arka langsung mendengar jeritan ibunya. Ia menoleh dan menemukan keluarganya berkumpul di satu titik. Arka berlari ke arah mereka dan mendapatkan pelukan dari mereka semua hampir secara bersamaan.
Rasya – adik laki-lakinya yang masih SMA – langsung mengambil alih kopernya agar ia bisa lebih leluasa melepas rindu dengan ayah dan ibunya. Empat tahun berlalu, Rasya masih SMP kelas tujuh ketika ia berangkat ke Amerika. Kini Rasya sudah remaja. Paman dan juga dua sepupunya yang kembar juga berada di sana. Mereka menagih oleh-oleh yang dijanjikannya. Lalu Arka melihat gadis itu berdiri di depannya sambil melipat tangan di dada.
“Kamu nggak benar-benar menganggap serius sms-ku kan?” kata gadis itu sambil menaikkan satu alis. Bulan mengenakan kaos hitam tanpa lengan dan jeans robek-robek sepaha. Kukunya dicat hitam dan ada gelang-gelang perak menghiasi pergelangan tangannya yang kecil. Bulan selalu suka warna hitam sejak dulu.
Arka sedikit terperangah melihat perubahan fisik sahabatnya. Bulan kini jauh lebih kurus dan semampai. Pipi bulatnya sudah hilang. Garis-garis wajahnya kian tegas, tulang-tulang bertonjolan di lengan dan tungkainya. Bulan tetap secantik yang diingatnya, tapi Bulan yang sekarang memiliki kecantikan yang berbeda.
Bulan berjalan mendekatinya dan tersenyum. “Kaget aku sekarang kurus? Kamu nggak akan bisa cubit pipi aku lagi sekarang.”
Arka tertawa dan langsung merangkul Bulan erat-erat. Bulan agak sedikit terkejut tapi kemudian ia ikut tertawa. Ketika Bulan membalas pelukan Arka, Bulan merasa berada di rumah. Ia merasa menemukan kembali jalan pulangnya setelah sekian lama tersesat.
Arka melepaskan pelukannya dan mencari-cari seseorang. “Om Ricko sama Tante Mel mana?”
Seketika Bulan tergagap ketika Arka menanyakan perihal kedua orang tuanya.
Ayah Arka segera mengalihkan pembicaraan dan berkata. “Ayo, cepat pulang, orang-orang sudah lama menunggu. Kami mengadakan acara untuk merayakan kepulanganmu.” 
Ibu langsung merangkul Arka dan membawanya berlalu dari Bulan.
Sementara Bulan masih berdiri di tempatnya, melihat kepergian Arka dan keluarganya. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal terjadi setelah kepergian Arka. Bulan yang Arka kenal adalah seorang gadis manis dari keluarga yang bahagia. Bulan yang sekarang berbeda dengan Bulan yang dulu. Bahkan kedua orang tua Arka pun kini memperlakukannya dengan cara yang berbeda.
Semua sudah tidak sama lagi.

*

Bulan tahu dirinya tidak diharapkan di acara ini. Ia tahu kedua orang tua Arka tidak lagi menyukainya. Walaupun dulu, seingatnya, kedua orang tua Arka selalu baik kepadanya. Ayah Arka selalu mampir ke rumahnya dan mengajaknya berangkat ke sekolah bersama-sama dengan Arka. Sebab mereka dulunya satu sekolah dan kantor Ayah Arka searah dengan sekolahan mereka. Ibu Arka selalu menganggapnya seperti putri mereka sendiri sebab mereka tidak memiliki anak perempuan. Setiap bepergian mereka selalu membelikannya oleh-oleh. Seakan-akan ia sungguh bagian dari keluarga.
Hanya saja semua sudah berubah. Hari sudah gelap, acara makan malam selesai, berganti dengan acara ngobrol bersama sambil menikmati kudapan dan menyetel film keluarga. Kebanyakan dari mereka menanyakan pengalaman Arka selama berkuliah di Harvard, bagaimana indahnya kota, betapa cantik para gadis, dan betapa ia harus berjuang agar bisa lulus cepat waktu. Bulan duduk tak jauh dari sana dan mendengarkan tanpa sekalipun bersuara.
“Kamu dapat pacar di sana?”
Arka terdiam sejenak lalu tersenyum. “Namanya Liz, dia keturunan Meksiko- Amerika. Kulitnya kecokelatan, matanya bening, dan senyumnya sangat manis.”
“Aaaa... lihat fotonya! Lihat!” semua berseru dengan antusias.
Arka menunjukkan foto-foto kebersamaan mereka melalui layar hp. Bulan mengambil botol softdrink dan kembali menuangkan isinya ke dalam gelas kartonnya. Tiba-tiba mata Arka mengarah ke Bulan. Bulan mengangkat dagunya menanyakan maksud tatapannya.
“Gimana sama kamu, Ndut? Sudah punya pacar?”
Ndut adalah panggilan Arka pada Bulan. Dulu ia berpipi bulat dan bertubuh pendek. Baru beberapa tahun terakhir ini tubuhnya mengalami pubertas yang menakjubkan. Tulang-tulangnya memanjang dan ia menjadi kurus. Seberapa banyak makanan yang masuk rasanya seperti sia-sia.
Semua mata sontak menatap ke arahnya. Semua orang dalam ruangan itu tahu jawabannya. Mereka hanya merasa enggan tahu. Bulan meminum coke-nya, menjilat bibirnya sebentar, lalu menjawab dengan pelan. “Jelas punya. Aku kan cantik.”
Suasana masih hening. Arka memperhatikan ada yang aneh setiap kali pembicaraan mengarah ke Bulan. Dulu mereka tidak seperti ini. Bulan adalah sahabat terdekatnya. Kenapa semua orang menjadi orang asing pada Bulan?
Tiba-tiba hp Bulan berbunyi. Bulan mengangkat teleponnya dan mendengar sumpah serapah keluar dari seberang telepon. Orang di seberang telepon marah besar karena ia susah dihubungi sejak tadi pagi. Bulan menjelaskan dengan sabar bahwa ada sahabatnya baru pulang dari luar negeri. Tapi di seberang sana suara cacian terdengar makin keras hingga semua orang di ruangan dapat mendengarnya.
Bulan memutus sambungan teleponnya dan menatap ke semua orang dengan canggung. “Sorry, I gotta go. Bye.” Ia bergegas pergi tanpa permisi lagi.
Arka ingin mengejar Bulan tapi Rasya menahan lengannya.
“Jangan dikejar, Kak.”
“Kenapa?” tanya Arka tidak mengerti.
“Yang barusan menelepon Kak Bulan itu pacarnya.”
Mata Arka seketika membola. “Pacar? Bulan pacaran sama laki-laki sekasar itu? Gimana kalau Bulan kenapa-napa?” Arka langsung bangkit dan hendak mengejar Bulan.
Ayahnya dengan sigap menahannya. “Arka!”
Arka masih berusaha meloloskan diri dari ayahnya.
“Arka!” Potong ayahnya tegas. “Masih banyak tamu! Nggak usah ngejar Bulan.”
“Tapi, Yah!”
“Arka.” Ibunya menyela dengan lembut. “Benar kata Ayahmu.”
Arka tidak mengerti kenapa kedua orang tuanya kini seakan tidak menyukai Bulan.
Ibunya mengusap wajah Arka lembut dan berkata dengan penuh kesabaran. “Arka sayang... banyak hal yang terjadi setelah kamu pergi. Bulan yang dulu kamu kenal... berbeda dengan Bulan yang sekarang. Nanti kamu akan mengerti.”
Ibu menuntun Arka kembali ke ruang tengah, di mana orang-orang masih berkumpul. Suara film yang diputar satu-satunya menjadi suara yang terdengar. Semua tampak ganjil setelah kepergian Bulan. Ayah dan ibunya kembali berusaha mengembalikan suasana hangat yang sebelumnya tercipta. Tapi sia-sia. Sepeninggal Bulan, suasana menjadi suram.



*

Follower